Laman

SEKILAS TENTANG AL-THUFI


Najamuddin al-Thufi (675-716 H.) yang masyhur dalam literatur hukum Islam dengan panggilan al-Thufi, nama lengkapnya adalah Sulaiman Ibn Qawi Abdul Karim Ibn Said Ibn al-Shafi populer dengan sebutan Ibn Abbas al-Hambali Najamuddin al-Thufi. Ia adalah ulama terkenal jenius, berwawasan dan memiliki keberanian intelektual  (al-Thufi: 1993). Kepakarannya dalam fiqhi dan usul fiqhi tidak diragukan baik di kalangan mazhab hambali maupun di kalangan ulama lain yang menentang keras pendekatan ushul fiqhinya. Keluasan pandangannya juga dilatari oleh pergumulannya dengan disiplin sejarah, bahasa dan sastra.
Al–Thufi termasuk orang yang memberi warna khas dataran pemikiran usul fiqhi di samping al-Syatiby, Ulama mazhab Maliki, dalam kurun kedua setelah imam-imam mazhab besar. Dua kurun perkembangan usul fiqhi tampaknya memang berbeda dalam penekanan. Dalam komentarnya dalam al-Muwafaqat karya al-Syatiby, Daraz mengatakan bahwa selama kurun waktu pertama, analisis usul fiqhi meletakkan penekakan pada kaedah-kaedah kebahasaan. Sedangkan kurun waktu berikut fokus kajian diletakkan pada maqasid syari’ah yang berintikan Kemaslahatan. Perluasan penekanan kajian itu agaknya bertolak dari perenungan ulang yang mendalam akan peran usul fiqhi sebagai metodologi yang digunakan oleh para mujtahid dalam memahami kandungan al-Qur’an dan al-sunnah yang ditujukan untuk kemashlahatan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar