Laman

Metodologi Pemikiran al-Ghazali[1]

Suatu hal yang penting dikemukakan ketika mengawali pembicaraan menyangkut kontribusi al-Ghazali dalam mengembangkan metodologi Ashcariyyah  adalah bahawa era al-Ghazali merupakan periode sejarah yang sangat spesifik dalam hal perkembangan  aliran al-Ashcariyyah. Betapa tidak, era ini menandai awal

Al-Thawāb wa al-'iqāb

Menurut al-Ashcari, Allah tidak mempunyai kewajipan menepati janji dan menjalankan ancaman yang tersebut dalam al-Qur’an dan Hadis.([1]) Hal ini sejalan dengan keyakinannya tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Allah. Selanjutnya, al-Ashcari menyatidakan bahawa pelaku perbuatan baik tidak wajib

MAINSTREAMING MODERASI ISLAM DALAM GERAKAN DAKWAH DALAM ERA GLOBALISASI

MAINSTREAMING MODERASI ISLAM
DALAM GERAKAN DAKWAH DALAM ERA GLOBALISASI[1]

KESIMPULAN

Hasil perbincangan mengenai konsep pemikiran kalam ahli sunnah waljamaah mendapati bahawa Teologi ahli sunnah waljama’ah merupakan aliran teologi terbesar dan terbanyak penganutnya di dunia Islam. Kajian ini mendapati pula bahawa Teologi Ahli sunnah bersifat terbuka, realistik, dan  pragmatis, serta bersikap positif terhadap kemajuan sains dan teknologi.

PERLUNYA ISLAMISASI PENGETAHUAN

Tidak diragukan lagi secara factual bahwa krisis multidimensi dalam kehidupan bangsa-bangsa tidak terkecuali umat Islam adalah akibat dari kerancuan system pendidikan dan paradigma pengetahuan yang

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PEDAGOGIK

Salah satu karakteristik pendidikan Islam ialah paradigmanya yang tidak hanya memandang manusia sebagai objek pendidikan tapi juga sebagai pelaku pendidikan. Dengan kata lain kita dapat mengatakan

PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM YANG HUMANISTIK

Tujuan pendidikasn Islam adalah untuk memanusiakan manusia. Hal ini didasari pada kesadaran adanya kecenderungan kebaikan dan potensi yang ada dalam diri manusia yang dalam bahasa agama disebut

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam, menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[1] Memahami ajaran Islam secara

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

Dasar Sosial
Pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. John Dewey menyatakan, bahwa pendidikan sebagai salah satu keperluan mendasar, fungsi sosial, sebagai bimbingan,

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

Dasar Psikologis
Seperti yang kita ketahui bahwa salah satu fungsi pendidikan adalah pemindahan nilai-nilai, ilmu dan keterampilan dari generasi tua ke generasi muda untuk melanjutkan dan memelihara identitas masyarakat

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

Dasar filosofis
Falsafah pendidikan merupakan titik permulaan dalam proses pendidikan, juga menjadi tulang punggung kemana bagian-bagian yang lain dalam pendidikan itu bergantung dari segi tujuan-tujuan

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

Sunnah Rasulullah
Setelah Al-Qur’an, pendidikan Islam menjadikan Sunnah Rasulullah SAW sebagai dasar dan sumber kurikulumnya. Secara harfiah, Sunnah berarti jalan, metode dan program. Sedangkan secara istilah, sunah

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

Al-Qur’an
Berbicara tentang dasar ilmu pendidikan Islam berarti juga berbicara tentang kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena semua aspek kehidupan yang terkandung di dalam ajaran Islam berasaskan

MUQADDIMAH

Dunia Islam dan dunia Barat memiliki pandangan berbeda mengenai pendidikan. Dunia barat sering dicirikan dengan karakternya yang khas seperti rasionalisme, empirisme, humanisme, kapitalisme,

MENGEKSPLORASI KEUNGGULAN PENDIDIKAN ISLAM DI TENGAH KEBINGUNGAN DUNIA PENDIDIKAN

ABSTRAK
Pendidikan merupakan salah satu unsur yang sangat penting terhadap pembentukan karakter dan pembangunan  peradaban suatu bangsa. Setidaknya ada tiga faktor pembentukan sebuah peradaban yaitu;

Penutup

Setelah memaparkan potret riil tentang era globalisasi dengan berbagai isu yang melingkupinya dan perlunya umat Islam mendisain metod dan strategi dakwah yang harus menjadi

Moderasi Islam Dan Kesuksesan Gerakan Dakwah

  Dakwah dan Rasionalisasi Ajaran Islam
Ciri ketiga adalah keberpihakan gerakan dakwah terhadap konsep rasionalisasi ajaran. Konsep rasionalisasi Ajaran berbeza dengan konsep substansialisasi ajaran. Substansialisasi-seperti yang

Moderasi Islam Dan Kesuksesan Gerakan Dakwah:

 Dakwah dan Kontekstualisasi Ajaran Islam
            Ciri khas yang kedua yang mesti diperhatikan oleh gerakan dakwah  adalah pengakuan dirinya atas teori kontekstualisasi Ajaran Islam. Inti dari teori ini adalah upaya melacak unsur-unsur

Moderasi Islam Dan Kesuksesan Gerakan Dakwah:

Dakwah dan Substansialisasi Ajaran Islam
            Karakteristik pertama yang harus diperhatikan oleh misi dan gerakan dakwah adalah pengakuannya terhadap adanya rahsia dan tujuan-tujuan luhur yang bergerak di balik ajaran-ajaran

Moderasi Islam Dan Kesuksesan Gerakan Dakwah:

Karakteristik Moderasi Islam
Setelah kita menggarisbahwahi wacana dan fenomena moderasi  secara seksama, maka untuk membangun dan memperkokoh bangunan moderasi Islam yang sudah terbangun, nampaknya kita

Moderasi Islam Dan Kesuksesan Gerakan Dakwah:

Saddu Al-Dzaraai, Istihsan : Sebuah Ikhtiar Membangun Fiqhi Dakwah
Kalau kita menggunakan standar atau ukuran “fleksibiliti” dalam rangka mendeteksi kekuatan wacana atau fenomena moderasi dalam Islam, maka konsep Istihsan dan Saddu al-Dzariah

Moderasi Islam Dan Kesuksesan Gerakan Dakwah:

Dakwah Dan Fiqh Moderat
Perangkat yang tidak kalah pentingnya dalam memajukan dan menumbuh-kembangkan misi dakwah sekaligus menjadi icon besar bagi moderasi yang dimaksud adalah fiqh al-Taysir.

Moderasi Islam Dan Kesuksesan Gerakan Dakwah:

Moderasi Islam dalam Al-Quran
Pada beberapa ayat al-Quran, Allah swt. Memberi petunjuk pelaksanaan bagi penterjemahan moderasi Islam, yang paling menonjol adalah fleksibiliti al-Quran melalui pengakuaannya terhadap

Moderasi Islam Dan Kesuksesan Gerakan Dakwah:

Potret Moderasi Islam
Sejatinya adalah perubahan zaman akan mempengaruhi perubahan sosial atau perlakuan masyarakat terhadap institusi zaman dengan berbagai kerumitan atau problematika kehidupan yang

Mempertimbangkan Kerumitan Gerakan Dakwah Di Era Globalisasi

Untuk menguji kesuksesan sebuah gerakan atau misi dakwah, maka unsur zaman merupakan isu penting yang menarik dibicarakan. Kita dapat mengatakan bahawa kejayaan atau kesuksesan

Potret Era Globalisasi

Era globalisasi sering digambarkan sebagai sebuah babak sejarah dimana setiap negara beserta individunya harus mampu bersaing satu sama lain sama ada antar negara mahupun antar

Muqaddimah

Islam adalah agama universal. Karakter universaliti Islam digambarkan dan dilukiskan dalam banyak ayat al-Quran. Ia dihadirkan untuk memberi inspirasi (hidayah) bagi semua manusia yang

MAINSTREAMING MODERASI ISLAM DALAM GERAKAN DAKWAH DALAM ERA GLOBALISASI

ABSTRAK
Umat Islam diperintahkan untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang terkandung dalam al-Quran. Perintah ilahi ini kemudian dipopulerkan dengan istilah kewajipan berdakwah. Berdakwah dalam

Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa:

Relevansinya dalam kehidupan kontemporari.

Seperti sedia maklum bahawa Imam Abu Hasan al-Asy’ari adalah tokoh yang memiliki tempat tersendiri dikalangan kaum Sunni, kerana melalui  ulama kharismatik itulah ahli Sunnah Wal jama’ah lahir sebagai aliran teologi keagamaan.

Teologi Moderat.

Di antara para pengkaji banyak yang berkesimpulan  bahawa teologi al-Asy’ari adalah teologi ‘moderat diantara aliran-aliran yang ada dan berkembang masa itu.[1] Faktor pendorong atas moderasi teologi Asy’ari adalah

Al-Asy’ari antara Salaf dan Muktazilah.

Beberapa pengkaji teologi menilai bahawa, oleh sebab Imam al-Asy’ari tidak mampu bertahan pada metod salaf yang dikembangkan oleh Ahmad bin Hanbal, menyebabkan  ianya  beralih kepada metod baru yang berbeza dengan

Trend Pemikiran al-Ashcari.


Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahawa sebelum kemunculan aliran ini, trend teologi saat itu dikuasai oleh dua mainstream pemikiran yang berseteru dalam memahami akidah Islam. Dua mainstream yang dimaksud adalah aliran Muktazilah dan aliran Hanabilah. Muktazilah adalah sebuah aliran yang menjunjung tinggi akal dalam

Ahli Sunah Waljamaah

Sesungguhnya Abu al-Hasan al-Ashcari tidak bermaksud menubuhkan aliran tersendiri yang terlepas daripada aliran yang telah ada sebelumnya, sebab maklumat sejarah juga menyatakan bahwa ketika al-Ashcari, di dalam masjid Basrah, menyampaikan orasi peralihannya dari fahaman Muktazilah, beliau telah menrencanakan fahaman yang dianut oleh Imam

Sekilas Tentang Abu Hasan al-Asy’ari

Abu Hasan al-Ashcari  adalah seorang pemikir yang muncul pada masa Islam mecapai puncak kemajuan pemikiran. Dia termasuk mutakallim terbesar yang pernah dimiliki dunia Islam. Kebesaran tokoh ini terbukti dari mayoritas umat Islam di dunia, termasuk di Brunei, Indonesia dan Malaysia, adalah penganut faham al-Ashcariyyah

Relevansinya Dalam Kehidupan Kontemporari .

Muqaddimah

Ahli sunnah waljama’ah persfektif teologi, adalah sebuah aliran pemikiran dalam khazanah intelektual Islam  yang dibangun pertama kali oleh Abu al-Hasan Ali ibn Ismail al-Ashari (260-324 H.)([1]) selama sebelas abad dalam

AHLI SUNNAH WALJAMA’AH DALAM PERSPEKTIF ABU HASAN ASY’ARI

AHLI SUNNAH WALJAMA’AH
DALAM  PERSPEKTIF ABU HASAN ASY’ARI:
Relevansinya Dalam Kehidupan Kontemporari[1].

Melihat Allah di Akhirat.

Dalam hal melihat Allah, al-Ashcari menyatidakan bahawa Allah dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepala di akhirat nanti. ([1]) Di antara alasan-alasan yang dikemukakannya ialah bahawa yang tidak dapat dilihat hanyalah yang tidak mempunyai wujud, yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat. Allah berwujud,

Iman dan Kedudukan Pelaku Dosa Besar di Akhirat

Iman kepada Allah menempati kedudukan utama dalam al-Qur'an. Ayat pertama, yang turun kepada Nabi Muhammad s.a.w. pun mengisyaratkan hal ini, ([1]) dengan perintah untuk membaca dengan menyebut nama

Konsep “al- Bacth”

Semua agama menyebutkan bahawa manusia tidaklah musnah kerana datangnya kematian, melainkan hanya berpindah tempat daripada alam dunia ke alam yang lain, di sana manusia akan menerima imbalan daripada perbuatan-perbuatannya sama ada yang baik ataupun yang buruk.

Pengertian Sam’iyyat.

Term al-Samciyyat merupakan salah satu perkara teologi yang banyak mendapat sorotan bahkan menjadi perkara yang kontroversial dikalangan mutidakallimin, termasuk diantaranya adalah aliran  Ashcariyyah.

Al-Ismah.

Adalah sesuatu yang tidak mungkin diperbalahkan lagi, bahawa ketika Allah s.w.t. memilih hambanya sebagai Rasul atau Nabi, tentu telah melalui pelbagai persiapan berupa pemeliharaan atau pendidikan khas

Al- Mukjizāt.

Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas bahawa, Kenabian, dalam pandangan al-Ashcari, sesungguhnya merupakan anugerah terbaik daripada Allah s.w.t. untuk seseorang hambah yang dipilih oleh-Nya.

Pentingnya Kenabian.


Apabila kita memperhatikan khazanah sejarah umat manusia, disetiap terjadi masa kevakuman, maka kebejatan moral dan kegelapan jiwa serta kebiadaban pasti  terjadi dimana-mana. Maka dimasa-masa itu

Pengertian ‘Nabi’ dan ‘Rasul’

Dalam upaya memahami konsep “kenabian dan kerasulan” dalam Islam, perlu dilihat asal usul perkataan Nabi dan Rasul, istilah ini dianggap penting agar dapat difahami dengan jelas, bahawa istilah yang digunakan Islam memiliki pengertian khas yang berlainan dengan pengertian umum yang digunakan untuknya.

Konsep al-kasb

Manusia atau dalam bahasa Arab al-nās atau al-insān menurut ajaran Islam adalah makhluk terbaik ciptaan Allah.([1]) la merupakan makhluk termulia dibandingkan makhluk atau wujud lain yang terdapat di jagat raya

Konsep Keadilan Allah.

Masalah keadilan Allah juga menjadi pembahasan yang banyak mendapat perhatian umat Islam. Kata "keadilan" berasal dari bahasa Arab: العدل , iaitu bentuk masdar dari  عدل, يعدل عدلا .

Iradat dan Kudrat Allah

Dalam teologi Islam, terdapat dua pandangan mengenai kekuasaan dan kehendak Allah. Pertama, bahawa kekuasaan dan kehendak Allah pada hakikatnya tidak lagi bersifat mutlak semutlak-mutlaknya, ([1]) kerana dibatasi, antara lain, oleh nature atau sunnah Allah yang tidak mengalami perubahan. ([2]) Allah swt menjelaskan dalam al-Qur’an: ولن تجد لسنة الله تبديلا[3] tafsirnya: Tidak akan engkau jumpai perubahan pada Sunnah Allah”.

Hakikat Kalām Allah

Kalam Allah atau al-Qur’ān al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahawa ia merupakan kitab yang keautentikannya dijamin oleh Allah s.w.t., dan ia adalah kitab yang selalu terpelihara.  Allah s.w.t. berfirman: [1]انا نحن نزلنا الذكر وانا له لحافظون bermaksud:

Konsep Sifat Allah

Persoalan sifat-sifat Allah, merupakan perkara yang banyak dibicarakan oleh ahli teologi Islam. Berkaitan dengan itu berkembang dua teori iaitu: teori ithbāt al-sifāt dan nafyi al-sifāt. Teori pertama, mengajarkan, bahawa Allah memiliki sifat-sifat, seperti mendengar, melihat dan berbicara. Teori itu dianut oleh kaum

Hakikat kewujudan Allah

Untuk membuktikan wujud Allah, ada empat argument yang sering dikemukakan oleh ulama kalam([1]) iaitu:
Petama, argumen penciptaan; bahwa manusia tidaklah menciptakan dirinya sendiri dan anak-anaknya, tidak pula ia menciptakan bumi tempat ia berpijak, dan langit tempat ia bernaung tetapi diciptakan oleh Allah swt. [2]

Metodologi Pemikiran al-Juwayni.[1]


    Setelah zaman al-Baqillani berlalu, datanglah zaman al-Juwayni. Pada zaman ini metodologi al-Ashcariyyah dikemas dengan kemasan logika lebih dari  sebelumnya. Dalam bukunya “al-Irshad ila qawatic al-adillah” ia menegaskan bahawa kewajipan seseorang muslim dewasa ialah mengadakan

Metodologi Pemikiran al-Baqillani[1]


Seperti dimaklumi, bahawa Imam Ashcari dan tokoh-tokoh Ashacirah priode awal telah meninggalkan warisan metodologi. Keberadaan metodologi itu berlangsung dan dimanfaatkan oleh pengikut yang hidup setelahnya sampai pada periode sejarah al-Baqillani hidup.

Metodologi Pemikiran Abu al-Hasan al-Ash'ari


Metodologi Pemikiran Abu Hasan al-Ashcari dapat dilihat dalam beberapa aspek tinjauan, iaitu, aspek dasar pijakan (sumbernya), aspek dualistik (mendua) dan aspek kemoderatan (posisi menengah) diantara beberapa metodologi yang ekstrim.

METOD PEMIKIRAN TOKOH-TOKOH AHLI SUNNAH WALJAMA’AH


          Suatu hal yang penting dan mesti dikemukakan di sini bahawa, sesuatu aliran yang telah melintas dalam sejarah, pasti ia tidak mampu bertahan tanpa mengalami perubahan atau  pengembangan yang signifikan dalam dirinya. Sebagai  sesebuah aliran yang telah hadir dalam khazanah pemikiran Islam, al-Ashcariyyah pun tidak luput dari pengembangan tersebut, sama ada pada taraf metodologi mahupun menyangkut tema-tema kajian.

Kesimpulan

Dari huraian-huraian di atas dapat disimpulkan bahawa tokoh-tokoh atau ulama-ulama yang berafiliasi kepada aliran al-Ashcariyyah telah melakukan reaktualisasi sama ada  dari aspek metodologi mahupun pada aspek materi ajarannya. Perkembangan metodologi yang terjadi dalam aliran ini tidak hanya berlaku pada satu zaman atau satu tokoh, tapi setiap zaman dan tokoh ada sahaja reaktualisasi yang terjadi.

Relevansi Ahli Sunnah dengan al-Ash'ariyyah.


Walau bagaimanapun, patut dikemukakan disini, bahawa sesungguhnya Abu al-Hasan al-Ashcari tidak bermaksud  menubuhkan aliran tersendiri yang terlepas daripada aliran yang telah sedia ada sebelumnya. Seperti yang telah disebutkan, bahawa ketika al-Ashcari,  didalam masjid Basrah,

Faktor penamaan aliran “al-Ash'ariyyah”


Seperti dimaklumi, bahawa sesungguhnya pendapat-pendapat Imam al-Ashcari dalam banyak hal, terutama   menyangkut bidang akidah, disadur dari pendapat-pendapat Ibn Kullab dan pengikut-pengikutnya, sehingga al-Ashcari –dianggap-- tergolong diantara murid-murid Ibn Kullab.

Ahli Sunah Waljamaah (Bidang Akidah)


Sesungguhnya Abu al-Hasan al-Ashcari tidak bermaksud menubuhkan aliran tersendiri yang terlepas daripada aliran yang telah sedia ada sebelumnya, sebab informasi sejarah juga menyatakan bahawa ketika al-Ashcari, di dalam masjid Basrah, menyampaikan ucapan peralihannya dari fahaman Muktazilah,

Al-firqah al-Najiyah


Berangkat daripada pemahaman terma  ahli Sunah waljamaah di atas, soalan selanjutnya adalah; Benarkah semua aliran dan puak dalam Islam itu termaasuk beraqidah  ahli Sunah waljamaah, dengan kata lain,  kriteria apa yang dipakai untuk menilai sebuah aliran boleh memakai label ahli Sunah waljamaah?

Pengertian Ahli Sunah Waljamaah


Terma “Ahli Sunah” sebenarnya bukanlah suatu hal yang baharu dalam Islam, bukan juga suatu terma yang muncul seiring dengan kemunculan Abu Hasan al-Ashcari di awal abad ke-4H.Terma ini telah menjadi istilah popular di masa sahabat sehingga masa-masa berikutnya.

Ahli sunnah dan Dialektika Pemikiran


Di kalangan ahli pikir, masalah dialektik merupakan masalah esensial dalam metodologi pemikiran  mereka. Mereka selalu sibuk mengumpulkan pendapat-pendapat lawan, berikut dengan hujahnya, untuk dibantah dengan hujah yang dianggap lebih kukuh. Untuk keperluan itu, mereka menyusun sistimatka berfikir, yang dijadikan sebagai dasar-dasar dialektik, sama ada untuk mengokohkan pendapat sendiri mahupun untuk menghantam pendapat lawan.

Ahli Sunnah Sebagai Aliran Teologi

Ahli Sunnah Waljama’ah adalah sebuah aliran teologi  yang muncul pada masa Islam mecapai puncak kemajuan dari segi dialektika pemikiran. Aliran ini digagas dan dibangun oleh seorang mutakallim terbesar yang pernah dimiliki dunia Islam. Kebesaran tokoh ini terbukti dari majoriti umat Islam di dunia,

Al-Ash'ariyyah dan Ahli sunnah

Ulama dan tokoh-tokoh aliran al-Ashcariyyah, menurut al-Nashar, adalah ulama yang telah berhasil mengekspresikan substansi falsafah Islam yang sebenar. Sebab hanya merekalah yang mampu menampilkan secara substansial kandungan al-Qurān dan al-Sunnah secara kefalsafahan, begitu pula visi teologi Ahli Sunah waljamaah telah menjelma dan mengkristal pada pemikiran mereka, sehingga mazhab al-Ashcariyyah mampu menjadi sample aqidah Ahli Sunnah waljamaah hingga masa ini, dan akan tetap terpelihara sampai Allah menerima bumi dan isinya (hari kiamat).

PEMBARUAN TANPA MEMBONGKAR TRADISI

 WACANA KEAGAMAAN DIKALANGAN GENERASI MUDA NU
BUKU  MASA KEPEMIMPINAN GUSDUR

Buku ini membahas tentang pengaruh teologi Asy'ari terhadap sejarah perkembangan faham Aswaja yang kemukakan oleh Dr.Hamzah Harun Al-Rasyid M.A

Bagi temen-teman yang ingin membacanya secara lebih lengkap silahkan klik link dibawah ini



Penutup


Penelusuran secara detail terhadap realitas fiqhi Islam di zaman rasul, sahabat maupun imam-imam besar dalam sejarah Islam, ternyata menunjukkan kekayaan khazanah bagi fiqhi “Moderasi Islam”, baik pada level konsep atau penerapan. Istilah substansialisai, kontekstualisasi dan Rasionalisasi teks atau hukum

Rasionalisasi Teks atau Hukum


Ciri ketiga adalah keberpihakan seorang muslim moderat terhadap konsep rasionalisasi Teks. Konsep rasionalisasi Teks berbeda dengan konsep substansialisasi teks. Substansialisasi-seperti yang telah dikemukakan sebelumnya-adalah upaya yang dilakukan oleh seorang faqih atau mujtahid untuk menentukan

Kontekstualisasi Teks atau Hukum


            Ciri khas yang kedua yang mesti dimiliki oleh seorang muslim moderata adalah pengakuan dirinya atas teori kontekstualisasi Teks. Inti dari teori ini adalah upaya melacak unsur-unsur sejarah yang melingkupi sebuah Teks hukum, kemudian memberi pengaruh bagi unsur-unsur itu bagi pemahaman atau penerapan

Karakteristik Moderasi dalam Wilayah Hukum Islam dan Substansialisasi Teks atau Hukum


Karakteristik Moderasi dalam Wilayah Hukum Islam
Setelah kita menggarisbahwahi wacana dan fenomena moderasi  dalam fiqhi Islam secara seksama, maka untuk membangun dan memperkokoh bangunan moderasi Islam yang sudah terbangun, nampaknya kita harus mengemukakan kriteria atau karakteristik moderasi Islam dalam wilayah hukum.

Saddu Al-Dzaraai, Istihsan Dan Moderasi Islam.


Kalau kita menggunakan standar atau ukuran “fleksibilitas” dalam rangka mendeteksi kekuatan wacana atau fenomena moderasi dalam Islam, maka konsep Istihsan dan Saddu al-Dzariah merupakan lahan yang sangat subur bagi moderasi dalam Islam sekaligus menjadi mesin yang sangat efektif bagi pengembangan hukum Islam. Ide yang menjadi muatan Istihsan adalah otoritas yang diberikan kepada seorang mujtahid untuk mengalihkan atau memindahkan hukum yang sudah tetap bagi suatu kasus tertentu dan diperkuat oleh ketentuan umum dalam hukum Islam untuk kemudian menetapkan hukum baru bagi kasus yang dimaksud karena ada pertimbangan-pertimbangan syar’i yang lain atau karena penerapan hukum yang pertama tidak lagi mengandung kemaslahatan atau penerapannya boleh jadi mendatangkan kemudaratan[1]. Untuk melihat posisi penting yang dimiliki konsep ini, bahkan berdasarkan sebuah riwat, Imam Malik mengatakan “Sembilan persepuluh (9/10) dari realitas fikih dibangun atas konsep istihsan”. Riwayat lain dari seorang ulama mazhab Maliki, ia mengatakan, “siapa yang terlalu berlarut dalam menggunakan qiyas maka ia dikhawatirkan akan menyalahi Sunnah[2]. Nampaknya, statement ini dikemukakan dalam konteks penggunaan qiyas yang berlebihan karena ada anggapan bahwa qiyaslah yang lebih mendekati Nash (Teks) ketika tidak hukum kasus baru tidak dijelaskan di dalam nash, padahal sikap berlebihan yang demikian berpotensi untuk mereduksi dimensi kemanusiaan dalam bangunan Hukum Islam.
Demikian halnya pendekatan atau konsep saddu al-Dzariah, ia tidak kalah pentingnya dalam memperkaya wacana moderasi hukum Islam. Substansi yang terkandung dalam saddu al-Dzariah adalah menutup akses, sarana, atau jalan yang mengantarkan kepada kemafsadatan, atau kemudaratan. Sarana yang digunakan untuk terjadinya kemudaratan harus ditutup atau dilarang untuk dilakukan meskipun ia memiliki hukum kebolehan pada dasarnya, apa lagi kalau ia memang sudah diharamkan sejak awal. Dengan demikian, bisa dipahami bahwa ijtihad dapat memproduk hukum yang bertentangan secara kasat mata dengan hukum normal (awal) meskipun sesuai dengan substansi atau inti paling dalam dari ajaran hukum, dan inilah yang menjadi esensi konsep Saddu al-Dzariah dan Istihsan. Sisi lain dari Saddu al-Dzariah adalah otoritas yang diberikan kepada seorang mujtahid untuk untuk membuka akses-akses atau jalan-jalan yang dapat membawa kepada terciptanya kemaslahatan atau kebaikan universal. Sisi yang menarik dari teori ini, karena seorang mujtahid diberi kewenangan untuk membuka akses kemaslahatan meskipun harus terpaksa menghalalkan yang dilarang dalam hukum Islam. Contoh yang sering dikemukakan oleh pakar hukum adalah berbohong yang tadinya diharamkan dalam Islam, tapi dalam kasus-kasus tertentu dibolehkan demi menghindari terjadinya kemafsadatan[3].


[1] Lihat Imam al-Syatibi, al-Muwaafaqaat, Dar al-Ma’rifah, Beirut: 1995, vol. 4, h.207
[2] Lihat Ibid, h.210.
[3] Dalam tradisi teori hukum Islam, ketika kemafsadatan