Laman

3. Urgensi “Konteks” Dalam Rangka Memahami Maksud Teks



Terjadi kesepakatan di kalangan ulama-ulama ushul bahwa hukum-hukum agama tidak disyariatkan dengan sia-sia dan hampa makna. Namun hukum-hukum itu berorientasi pada terciptanya kemaslahatan dan membidik target-target tertentu yang kemudian akan menjadi pondasi dan filosofi ketetapan-ketetapan hukum. Perbuatan-perbuatan hukum bagi al-Syatibi misalnya “tidaklah disyariatkan karena sendirinya tapi

2. Definisi Sunnah Perspektif Sahabat dan Para Ushuliyyun



Dalam bahasa Arab kata “Sunnah” berarti tingkah laku,[1] jalan,[2] tabiat dan kebiasaan.[3] Semua makna ini mengandung arti keberlangsungan, kelestarian dan pengulangan. Kata “Sunnah” sering sekali muncul dalam teks-teks agama dengan arti-arti bahasa yang dimaksud di atas. Para sahabat Nabi pun sangat mengerti kata Sunnah dengan arti-arti bahasanya. Para sahabat itu tidak meyakini tindakan Nabi sebagaiSunnah kecuali

1. Klasifikasi Rasul Tentang Tindakan-Tindakannya



Kenyataan literatur-literatur hadis menunjukkan bahwa Nabi sendiri dalam banyak hadis  menjelaskan bahwa tindakan-tindakannya berbeda antara satu dengan yang lain dan beliau memiliki posisi yang berfariasi ketika ia melakukan tindakan-tindakan itu.  Di antara contoh kasus yang bisa dikemukan dalam hal ini adalah:

BAHASAN I KEBERAGAMAN SUNNAH NABI: KONSEPTUALISASI DAN KATEGORISASI

A.  Pemahaman Tentang Tindakan Nabi
Yang dimaksud dengan tindakan-tindakan Nabi adalah semua kebijakan-kebijakannya yang beliau nyatakan yang berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il) atau ketetapan-ketepannya (taqrir).