Laman

Relevansinya Dalam Kehidupan Kontemporari .

Muqaddimah

Ahli sunnah waljama’ah persfektif teologi, adalah sebuah aliran pemikiran dalam khazanah intelektual Islam  yang dibangun pertama kali oleh Abu al-Hasan Ali ibn Ismail al-Ashari (260-324 H.)([1]) selama sebelas abad dalam
khazanah histori Islam, telah mengalami pasang surut dalam penyebaran dan bervariasi dalam perkembangan doktrinnya. Aliran ini muncul setelah Abu al-Hasan al-Asy’ary memaklumkan dirinya keluar dari Muktazilah sebagai aliran yang telah dianutnya sehingga usia 40 tahun. Sejak itu, beliau merumuskan teologi baru dan mendapatkan banyak pengikut karena dianggap sebagai suatu bentuk kesinambungan dari faham Sunni ([2]) yang dianut oleh mayoritas umat Islam, tetapi sebelumnya belum pernah diformulasikan secara lengkap dan sistematis.
                Fakta sejarah menunjukan bahwa tampilnya al-Asy’ari tepat disaat sedang menghangatnya pertentangan antara dua kelompok ekstrim yaitu; antara kaum Muktazilah yang didukung penguasa, dengan kelompok ahli Hadis yang didukung mayoritas rakyat umum. Upaya al-Asy’ary mendamaikan dua kelompok ekstrim yang bertentangan tersebut menyebabkan banyak pakar menilai bahwa aliran yang dibangun oleh al-Asy’ari adalah aliran kalam jalan tengah (moderat) antara faham Muktazilah dan ahli Hadis disatu sisi dan antara kaum Jabariyyah dan Qadariyyah di sisi yang lain.
                Sebagai aliran moderat antara kaum Muktazilah yang rasionalis-metaforis dan kaum ahli Hadis yang ekstrim tekstualis, maka metodologi ahl sunnah yang dibangun oleh al-Asy’ari di samping menggunakan sumber primer berupa teks-teks suci dari al-Qur'an dan al-Sunnah, separti yang dilakukan oleh ahli Hadis, juga menggunakan metode rasional berupa mantik atau logik Aristotle, sehingga dia menggunakan akal dan naqal secara seimbang. 

Permasalahan Kajian
Berdasar uraian diatas, dapat diambil  suatu permasalahan kajian yaitu; siapa sesungguhnya Abu Hasan al-Asy’ari, bagaimanakah corak dan metodologi pemikirannya, dimana letak keunggulan  teologi yang diasaskannya, serta bgaimana relevansi ajarannya dengan kehidupan kontemporari.


[1] Mengenai silsilah al-Asy’ari ini, rujuk Ibn ‘Asakir, Tabyin kadhb al-Muftari, hal. 34.
[2] Faham Sunni dalam Islam disebut juga: Ahli Sunah waljamaah, dengan watak utamanya: neutral dalam politik dan moderat dalam faham keagamaan. Lihat Fazlur Rahman, hal. 87.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar