Laman

AQIDAH ISLAMIYAH

Rukun-Rukun Iman Dan Fungsinya Dalam Kehidupan


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa; Yang dimaksud dengan aqidah dalam bahasa arab adalah ikatan, sangkutan. Disebut demikian, karena ia mengikat dan mejadi sangkutan atau gantungan segala sesuata. Dalam pengertian teknis artinya adalah iman dan keyakinan. Akidah Islam, katena itu, ditautkan dengan rukun iman yangt menjadi asas suluruh ajaran Islam. Kedudukannya sangat sentral dan fundamental, karena seperti telah disebutkan diatas, menjadi asas sekaligus sangkutan atau gantungan segala sesuatu dalam Islam. Juga menjadi titk tolak kegiatan seorang muslim. Aqidah Islam berawal dari keyakinan kepada zat mutlak Yang Maha Esa yang disebut Allah. Allah MAha Esa dalam zat, sifat, perbuatan dan wujud-Nya. Kemaha-Esaan Allah dalam zat, sifat, perbuatan dan wujud-Nya itu disebut tauhid. Tauhid menjadi inti rukun iman dan prima causa seluruh keyakinan Islam. Secara sederhana, sistematika Aqidah Islam, dapat dijelaskan sebagai berikut. Kalau orang telah menerima tauhid sebagai prima causa yakni asal yang pertama, asal dari segala-galanya dalam keyakinan Islam, maka rukun iman yang lain hanyalah akibat logis (masuk akal) saja penerimaan tauhid tersebut. Kalau orang yakin bahwa (1) Allah mempunyai kehendak, sebagai bagian dari sifat-sifatnya, maka orang yakin pula adanya (para) (2) Malaikat yang diciptakan Allah (melalui perbuatan-Nya)untuk melaksanakan dan menyampaikan kehendak Allah yang dilakukan oleh malaikat jibril kepada para Rasul-Nya, yang kini dihimpun dalam (3) Kitab-kitab Suci. Namun, perlu segera dicatat dan diingat bahwa kitab suci yang murni dan asli dan memuat kehendak Allah adalah Al qur’an. Kehendak Allah itu disampaikan kepada manusia melalui manusia pilihan tuhan yang disebut Rasulullah yang disebut Utusannya. Konsekuensi logisnya adalah kita menyakini pula adanya para (4) Rasul yang menyampaikan dan menjelaskan kehendak Allah kepada manusia, untuk dijadikan pedoman dalam hidup dan kehidupan. Hidup dan kehidupan ini pasti akan berahir pada suatu ketika, sebagai mana dinyatakan dengan tegas oleh kitab-kitab suci dan oleh para Rasul itu. Akibat logisnya adalah kita yakin adanya (5) Hari akhir, takkala seluruh hidup dan kehidupan yang ada sekarang ini akan berakhir. Pada pada waktu itu kelak Allah Yang Maha Esa dalam perbuatan-Nya itu akan menyediakan suatu kehidupan baru yang sifatNya baqa (abadi) tidak fana (sementara) seperti yang kita lihat dan alami sekarang. Untuk mendiami alam itu kelak, manusi yang pernah hidup di dunia ini, akan dihidupkan kembali oleh Allah SWT dalam perbuatan-perbuatan-nya itu dan akan dimintai pertanggungan jawab individual mengenai keyakinan (aqidah), tingkah laku (syari’ah) dan sikap(ahklak)-nya selama hidup di dunia yang fana ini. Yakin akan adanya hidup lain selain kehidupan sekarang, dan dimintainya pertanggungan jawab manusia kelak, membawa konsekuensi pada keyakinan akan adanya (6)  Qadha dan Qadar yang berlaku dalam hidup dan kehidupan manusia dikehidupan yang fana ini yang membawa akibat pada kehidupan di alam baka kelak.
Dari uraian singkat tersebut di atas, tampek logis dan sistematisnya pokok keyakinan Islam yang terangkum dalam istilah Rukun Iman itu. Pokok-pokok keyakinan ini merupakan asas sejumlah agama Islam, seperti yang telah disebut diatas. Jumlahnya enam dimulai dari; (a) Keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa (b) Keyakinan kepada Malaikat-malaikat (c) Keyakinan kepada kitab-kitab suci (d) Keyakinan pada Nabi dan Rasul Allah (e) Keyakinan akan adanya hari Akhir (f) Keyakinan akn adanya Qada dan Qadar. Pokok-Pokok keyakinan atau Rukun Iman ini merupakn Aqidah Islam. Uraianya masing-masing disampaikan pada materi berikut.

A.      Keyakinan Kepada Allah 

Allah, Zat Yang Maha Mutlak itu, menurut Ajaran Islam, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Segala sesuatu mengenai Tuhan disebut ketuhanan. Menurut Aqidah Islam, konsepsi tentang Ketutanan Yang Maha Esa disebut Tauhid. Ilmu Tauhid adalah ilmu tentang Kemaha Esaan Tuhan (Osaman Raliby, 1980:8). Menurut Osaman Raliby ajaran Islam tentang Kemaha Esaan Tuhan adalah sebagai berikut :

a.        Allah Maha Esa Dalam Zat-Nya
        Kemaha  Esaan Allah dalam Zat-Nya dapat dirumuskan dengan kata-kata bahwa Zat Allah tidak sama dan tidak dapat disbandingkan dengan apapun juga. Dia unique (unik: lain dari semuanya), berbeda dalam segala-galanya. Zat Tuhan yang unik buknlah materi yang terdiri dari beberapa unsur bersusun. Ia tidak dapat dimasukkan atau dibandingkan dengan benda apapun yang kita kenal, yang menurut ilmu fisika, terjadi dari susunan atom melekul dan unsur-unsur yang berbetuk takluk kepada ruang dan watu yang dapat ditangkap olah pancaindera manusia, yang dapat hancur, musnah dan leyap pada suatu masa.
       Keyakinan kepada Zat Allah Yang Maha Esa seperti itu mempunyai konsekuensi. Konsekuensinya adalah bagi ummat manusia yang mempunyai akidah demikian, setiap atau segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca indera mempunyai bentuk tertuntu tunduk pada ruang dan waktu, hidup memerlukan makan dan minuman seperti manusia biasa, mengalami sakit dan mati, lenyap dan musnah, bagi seorang muslim bukanlah Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

b.       Allah Maha Esa  dalam sifat-sifat-Nya
Kemaha Esaan Allah dalam sifat-sifat-Nya ini mempuyai arti bahwa sifat Allah mempunyai kesempurnaan dan keutamaan, tidak ada yang menyamainya. Sifat-sifat Allah itu banyak  dan tidak dapat diperkirakan. Namun demikian, dari Al Qur’an dapat diketahui (99) nama sifat Tuhan yang biasanya disebut dangan al-asma’ul husna :  Sembilan puluh Sembilan Nama-nama Allah yang indah. Didalam Ilmu Tauhid, dijelaskan dua puluh sifat Tuhan, yang disebut dengan sifat dua puluh, yaitu (1)Ada, (2)Azal, tidak ada permulaannya, (3)Kekal abadi, tidak berkesudahan, (4)Berbeda dengan segala ciptaan-Nya (yang baru), (5)berdiri sediri, (6)Maha Esa, (7)berkuasa, Maha Kuasa, (8) Berkehendak (9)Maha Mengetahui, (10)Hidup, (11)Maha Mendengar, (12)Maha Melihat, (13)Maha Berkata-kata, (14)Dalam keadaan Berkuasa, (15)Dalam keadaan berkemauan, (16)Dalam keadaan Berpengetahuan (17)Dalam keadaan Hidup, (18)Dalam keadaan Mendengar,(19)Dalam keadaan Melihat (20)Dalam keadaan Berkata-kata. Sebagai Mahasiswa, yang perlu diketahui adalah bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Esa itu bersifat:

Ø  Hidup. Hidup ini berarti bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang Hidup. Hidup-Nya itu Maha Esa atau unik tanpa memerlukan makanan, minuman, istirahat dan sebagainya. Pendek kata: Allah Maha Esa dalam Hidup-Nya. Konsekwensi keyakinan yang demikian adalah, setiap atau segala sesuatu yang sifat hidupnya memerlukan makanan, minuman, tidur dan sebagainya, bagi seorang muslim bukanlah Allah dan tidak boleh dipandang sebagai Allah, tuhan Yang Maha Esa.

Ø  Berkuasa. Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kuasa-Nya maha Esa, tiada bertara, tidak ada tolok bandingnya. Ia maha kuasa tanpa memerlukan pihak lain manapun juga dalam kekuasaannya. Ia adalah Maha Kuasa dengan sendirinya. Konsekuensi  keyakinan yang demikian adalah, seorang muslim harus teguh dalam keyakinannya pada kekuasaan Allah, melampaui dengan kekuasaan selain dari kekuasaan Allah. Dan sebagai akibatnya, seorang Muslim tidak boleh takut pada kekuasaan lain yang ada dalam alam ini, baik kekuasaan itu berupa kekuatan-kekuatan alami maupun kekuasaan-kekuasaan insaniah.

Ø  Berkehendak. Allah mempunyai kehendak. Kehendaknya Mah ESa dan berlaku untuk seluruh alam semesta. Konsekuensi keyakinan yang demikian adalah, kehendak atau Iradah Tuhan Yang Maha Esa wajib diikuti oleh setiap orang Muslim. Kehendak Allah yang masih asli,seperti yang telah disebut dimuka, termaktub kini dalam Al Qur’an  yang menjdi kitab suci ummat Islam. Selain itu kehendak Alllah dapat pula dijumpai pada ayat-ayat kaoniah dialam semesta berupa Sunnatullah  yaitu hokum-hukum Allah yang  oleh para sarjana disebut laws of nature  (hukum-hukun alam).


c.      Allah MAha Esa dalam perbuatan-perbuata-Nya
Pernyataan ini mengandung arti bahwa kita meyakini Tuhan Yang MahaEsa tiada bertara dalam melakukan sesuatu, sehingga hanya dialah yang dapat berbuat menciptakan alam semesta ini. Perbuatan-Nya itu unik, lain dari yang lain, tiada taranya dan tidak sanggup pula manusia menirunya. Kagumilah, misalnya, bagaimana ia menciptakan diri kita sendiri dalam bentuk tubuh yang sangat baik, yang dilengkapi-Nya dengan pancaindera, akal, perasaan, kemauan, bahasa, pengalaman dan sebagainya. Perhatikan pula susunan kimiawi materi-materi yang ada di alam ini. Misalnya H2O, susunnan kimiawi (materi) zat air, NO2, zat asam, dan sebagainya. Konsekuensi keyakinan bahwa Allah Yang Maha Esa dalam berbuat (perbuatannya) adalah seorang muslim tidak boleh mengagumi perbuatan perbuatan manusia lain dan karyanya sendiri secara berlebih-lebihan. Manusia, baik secara perseorangan maupun sebagai kolektifitas, betapapun genial (hebat atau luarbiasa)nya, tidak boleh dijadikan objek pemujaan aplagi kalau disembah pula.

d.     Allah Maha Esa dalam wujud-Nya.     
Ini berarti bahwa wujud Allah lain sama sekali dari wujud alam semesta. Ia tidak dapat disamakan dan dirupakan dalam bentuk apa pun juga. Oleh karena itu Anthromorfisme   (paham penggunaan ciri-ciri manusia pada alam seperti hewan benda mati apalagi pada Tuhan) tidak ada dalam ajaran Islam. Menurut keyakinan Islam, Allah Maha esa. Demikian Esa-Nya sehingga wujudnya tidak dapat disamakan dengan alam atau bagian-bagian alam yang merupakan ciptaan-Nya. Eksistensi-Nya wajib. Karena itu disebut wajibul wujud. Pernyataan ini mempunyai makna bahwa hanya Allahlah yang abadi dan wajib eksistensi atau wujud-Nya. Selain dari dia, semuanya mumkinul wujud. Artinya boleh (mungkin) ada, boleh (mungkin) tiada seperti eksistensi manusia dan seluruh alam semesta ini yang pada waktunya pasti akan mati atau hancur binasa. Konsekuensi keyakinan yang demikian adalah setiap manusia muslim sebagai bagian alam, harus selalu sadar bahwa hidupnya hanyalah sementara di dunia ini, tempat ia diuji mengenai kepatuhan dan ketidakpatuhannya kepada perintah-perintah dan larangan-larangan Allah yang antara lain tercantum dalam syariat-Nya. Pada suatu ketika kelak seluruh alam akan hancur binasa dan akan muncullah suatu hidup sesudah mati (life after death) yang sifat lain sama sekali dari apa yang kita lihat dan rasakan di dunia ini. Pada waktu itu nanti di hadapan Allah Yang Maha Adil masing-masing manusia harus mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya selama hidup di bumi ini. Celakalah manusia yang bergelimang dalam dosa dan berbahagialah bagi orang yang beriman, yang yakin kepada Allah Yang Maha Esa, dan taqwa: mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya.

e.      Allah Maha Esa dalam menerima ibadah
Allah Maha Esa dalam menerima ibadah. Ini berarti bahwa hanya Allah sajalah yang berhak disembah dan menerima ibadah. Hanyalah Dialah sata-satu-Nya yang patut dan harus disembah dan hanya kepadanya pula kita meminta pertolongan. Yang dimaksud dengan ibadah adalah sagala perbuatan manusia yang disukai Allah, baik dalam kata-kata terucapkan maupun dalam bentuk perbuatan-perbuatan lain, yang kelihatan dan tidak kelihatan. Konsekuensi  keyakinan ini adalah hanya Diallah Allah yang wajib kita sembah, hanya kepadanya pula seluruh Salat dan ibadah yang kita lakukan, kita niatkan dan kita persembahkan.


f.      Allah maha Esa dalam menerima hasrat manusia
Artinya, bila seorang manusia hendak menyampaikan maksud,  permohonan dan keinginannya langsunglahlah sampaikan kepada-Nya, kepada Allah sendiri tanpa perantara atau madia apapun namanya. Tidak ada sistem rahbania atau kependetaan dalam Islam. Semua manusia, kecuali para Nabi dan Rasul, mempunyai kedudukan yang sama dalam berhubungan langsung dengan Allah YME. Konsekuensi keyakinan ini adalah setiap muslim tidak memerlukan orang lain di dunia ini dalam menyampaikam hajat dan hasratnya kepada Allah.

g.     Allah Maha Esa dalam memberi hukum.
Ini berarti bahwa Allahlah satu-satu-Nya Pemberi Hukum yang Tertinggi. Ia memberi hukum kepada alam, seperti hukum-hukum alam yang selama ini kita kenal dengan sebutan hukum-hukum Archimedes, Boyle, Lovoisier, hukum relatifitas, thermodynamic dan sebagainya. Ia pula yang memberi hukum kepada ummat manusia bagaimana mereka harus hidup di bumi-Nya ini sesuai dengan ajaran-ajaran dan kehendaknya yang dengan sendirinya sesuai pula dengan hukum-hukum (yang berlaku di) alam semesta dan watak manusia yang semuanya itu adalah ciptaan Allah. konsekuensi keyakinan seperti ini adalah seorang muslim wjib percaya adanya ’hukum-hukum alam’ (sunatullah) baik alam fisik maupaun alam Psikis dan spiritual yang terdapat dalam kehidupan, baik kehidupan indifidual maupun kuhidupan social. Sebagai seorang muslim kita wajib taat dan patuh serta meyakini kebenaran hukum syari’at Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad  kepada manusia dan menjadikannya sebagai jalan hidup kita. Jalan hidup yang dikehendaki Allah, menurut Aqidah, adalah Jalan Hidup Islam. Jalan Hidup Islam itu disebut juga dengan istilah syariat Islam dan karena syariat Islam adalah pula syriat atau hukum Allah, konsekuensinya adalah ummat Islam yang secara teoretis praktis dengan bebas telah memilih Islam sabagai agamanya, tidaklah ada jalan lain yang lebih baik yang harus ditempuhnya selain sekuat tenaga mengikuti Jalan Hidup Islam itu sebaik-baiknya (Osman Raliby,1980:8-14, 20).
        Uraian tentang ke-Maha Esa-an Tuhan tentang sifat-sifat Allah tersebut diatas, dapat dikembangkan lebih lanjut secara rasional-filosofis dengan menyebut konsekuensinya terhadap seseorang muslim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar