Laman

AQIDAH ISLAMIYAH


Ahli Sunnah dan Aliran Sesat
Ahli Sunah Waljamaah (Bidang Akidah)

Sesungguhnya Abu al-Hasan al-Ashcari tidak bermaksud mendirikan aliran tersendiri yang terlepas daripada aliran yang telah ada sebelumnya, sebab maklumat sejarah juga menyatakan bahwa ketika al-Ashcari, di dalam masjid Bashrah, menyampaikan orasi peralihannya dari aliran Muktazilah, beliau telah berencana untuk berafiliasi kepada  Imam Ahmad bin Hanbal, yakni menghidupkan pemahaman Salaf. Namun, oleh karena kesuksesan  al-Ashcari dalam memperkuat fahaman ulama salaf atau dengan istilah ahli  Sunah dengan alasan-alasan ilmu kalam dalam bentuk yang lebih nyata, maka oleh pengikut-pengikutnya menyamakan mazhab al-Ashcariyyah dengan mazhab ahli Sunah wajamaah[1]
Dengan demikian, kehadiran Abu Hasan al-Ashcari dalam khzanah pemikiran Salaf atau dengan istilah yang lebih populer ‘ahli Sunnah telah memberi  nuansa baru yang memiliki karakteristik berbeda dengan masa sebelumnya. Kalau dimasa sebelumnya istilah ahli Sunah dipakai dalam pengertian umum, maka kali ini secara spesifk digunakan dalam bidang akidah. Dengan konteks ini, maka ketika istilah mazhab ahli Sunnah disebut, maka tak syak lagi bahwa maksud sesungguhnya dari istilah itu adalah  akidah “al-Ashcariyyah”[2]. Masalah ini memang beralasan sebab,   ketika Imam Ashcari menulis satu buku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ahl al- thighar, beliau beri nama dengan judul cAqidah ahl al-Sunnah wa al-jamacah”.   Itu pulalah sebabnya, Umar Hasyim menyatakan bahwa; “Imam al-Ashcarilah yang mendapat sebutan sebagai pelopor dan pembangun ahli Sunah waljamaah dalam bidang akidah...”[3] Dengan demikian pernyataan Mustafa al-Shakcah, sebagaimana yang telah disebutkan diawal pembahasan ini  bahwa; term “Ahli Sunah  waljamaah” pertama kali diidentikkan kepada aliran Ashcariyah,  dapat difahami dan diterima.
Menyangkut sebuah kenyataan bahwa setelah Imam Ashcari menyatakan berhenti dan keluar dari aliran Muktazilah, beliau langsung menggabungkan diri kepada kelompok sunni yang dipelopori oleh Imam Ahmad ibn Hanbal, yakni menghidupkan fahaman Salaf. Menurut Umar Hasyim, konteks sejarah ini tidak bertantangan dengan posisi Abu al-Hasan al-Ashcari sebagai pelopor berdirinya ahli Sunah dalam bidang aqidah, sebab beliau --dalam masa yang sama—juga sebagai pengikut Imam Ahmad dalam bidang ibadah[4]. Menurut Umar Hasyim, antara bidang aqidah dan bidang ibadah mempunyai riwayat yang berlainan, meskipun kriterianya sama, yakni ahli Sunah waljamaah[5].
Suatu hal yang sangat disayangkan, bahwa ketika Hadis  tentang “perpecahan umat”  belum jelas tentang siapa yang dimaksud, maka al-Isfarayni, dengan berani menjustifikasi fahaman ahli Sunah waljamaah dalam aliran al-Ashcariyyah  semata-mata yang akan selamat dan benar, manakala yang lain adalah salah dan masuk neraka[6] pendapat ini kemudian diperkuat oleh al-Iji dalam bukunya “al-Mawaqif[7].
Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh al-Isfarayni dan al-Iji di atas, adalah sesuatu yang berlebihan sebab “kebenaran” bukanlah milik seseorang indifidu dan bahkan sesuatu kelompok tertentu, tetapi ia adalah milik semua orang, semua kelompok dan bahkan semua aliran, sepanjang mereka-mereka itu tetap konsisten berada didalam bingkai ‘ketauhidan’ dan dibawah panji-panji ‘agama Islam’ yang benar. Sesungguhnya sikap berlebihan seperti ini telah diwanti-wanti oleh al-Imam al-Ghazali dalam bukunya “Faisal al-tafriqah bayn al-islam wa al-zandaqah” dan “al-Iqtiqad”. Dalam buku ini al-Ghazali mencela dengan kerasnya terhadap ‘taklid buta’ dan ekses kefanatikannya yang kadang-kala menganggap orang lain telah keluar dari Islam. [8] Sebab menurut al-Ghazali perbedaan pendapat dalam soal-soal yang kecil, baik yang bertalian dengan soal-soal aqidah ataupun amalan, bahkan pengingkaran terhadap masalah-masalahkhilafiyyah’ yang sudah disepakati oleh kaum muslimin pun tidak boleh dijadikan alasan untuk menghukum kafir orang lain.[9]


[1] al-Shahrastani, al-Milal, Vol. I, hal. 85. Muhamad Abduh, Risalat al-tawhid, hal. 18. 
[2] Ibid.
[3] Umar Hasyim, 2000, Ahl al- Sunnah wa al-jamaah, hal. 98.
[4] Diantara penyelidik ada yang menyebut bahawa dalam bidang ibadah Imam Ashcari penganut mazhab Shafii, seperti yang dikatakan oleh al-Subki, namun Qadi cIyad menyebut bermazhab Maliki, namun menurut Umar Hasyim pendapat yang terbanyak adalah Imam Asy’ari penganut mazhab Imam Hanbali. Ibid.h.99
[5] Ibid.
[6] al-Isfarayni, “al-Tabsir fi al-din”, hal.48,167.
[7] Al-Iji, al-Mawaqif, hal. 429.
[8] al-Shaykh Abu Zahrah, al-Madhahib al-Islamiyyah,  hal. 283.
[9] Yusuf Musa, al-cAqidah wa al-shari cah fi al-Islam,  hal. 184.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar