Laman

AQIDAH ISLAMIYAH


Aliran-Aliran Teologi Dalam Islam
Teologi Transformatif


Suatu realitas yang tidak dapat dibantah lagi bahwa keyakinan Islam telah merambah ke seluruh dunia Islam. Ajaran Islam menyentuh segala macam wilayah peradaban dan budaya pemeluknya yang berbeda-beda, baik dalam arti etnik, lingkungan biofisik maupun sosio kulturalnya. Sepanjang perjalanan sejarah, teologi Islam secara transformative  membimbing kehidupan umat dalam menghadapi berbagai macam masalah dan memecahkan beraneka ragam problema individual maupun sosialnya yang terjadi di masyarakat.
Teologi transformatif merupakan sejumlah pandangan keyakinan keagamaan yang memengaruhi perilaku kehidupan umat Islam dalam keseluruhan aspeknya, baik yang bersifat individual maupun kolektif. Karena karakteristiknya yang multiaspek, maka teologi transformatif menempati posisi sangat penting dalam pandangan umat Islam di era modern. Bahkan, sejak masa kejayaan Islam, teologi transformatif sudah dianggap sebagai pengetahuan yang menempati posisi strategis dalam merespons berbagai realitas kehidupan yang aktual.
Pemikiran teologi transformatif berorientasi pada rasionalitas dan kemaslahatan. Secara induktif dapat dikatakan bahwa pemikiran teologis transformatif selalu mengacu pada kemaslahatan sehingga dapat memberikan pencerahan setiap orang dalam menjalani kehidupannya. Kadar kemaslahatan dan kemadaratan banyak memengaruhi pemahaman teologi transformatif, khususnya dalam menjawab berbagai problema kehidupan modern.
Teologi tranformatif mendasarkan pandangannya pada asumsi bahwa pemikiran terhadap ajaran Islam harus diaktualisasikan ke dalam kehidupan nyata. Bahkan, seluruh agama sangat menekankan sikap disiplin, etos kerja, motivasi, dan prestasi yang merupakan nilai-nilai Islam yang kelak ditransformasikan ke dalam etika sosial bagi setiap penganutnya.
Setiap individu harus mengelola kehidupan dirinya dalam semangat kerja sama dan tolong-menolong (taawun) dan sebaliknya Islam tidak menyukai semangat kompetisi yang tidak sehat atau rivalitas yang tak terkendali. Muslim yang baik seyogyanya tidak melakukan pertarungan bebas (laizez faire) dengan mengorbankan kebersamaan (jamaah) sehingga pada akhirnya mereka yang kuat saja yang akan bertahan (survivel of the fittest), sebagaimana manjadi prinsip dari masyarakat banyak.
Setiap muslim yang baik meyakini bahwa manusia harus mencapai keselamatan dan kebahagiaan melalui bimbingan Tuhan. Untuk mencapai tujuan ini, ia harus menyelaraskan antara iman dan amal, bahkan meningkat menjadi ihsan. Keimanan tanpa amal tidak memadai, sama dengan amal tanpa iman akan menjadi hampa. Dengan demikian, keimanan bukanlah sekadar pernyataan kosong, tetapi harus ditegakkan dasar dasar yang kukuh yang disertai dengan amal yang kontinu dan selalu meningkat Sesungguhnya kesinambungan dan kesatuan yang esensial antara iman, Islam, dan ihsan sebagai perwujudan konkret keberadaan teologi transformatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar