Laman

ILMU TASAWWUF

DASAR-DASAR TASAWUF


 Karena sifatnya yang universal baik dalam arti ruang maupun waktu, sebuah sistem spiritual, seperti tasawuf, mungkin saja menerima pengaruh dari sistem lain yang ada sebelumnya, seperti juga mungkin saja ia mempengaruhi  sistem dan disiplin spiritual yang lain. Karena itu, kalau tasawuf, sebagai aspek spiritual Islam, dikatakan telah dipengaruhi oleh unsur-unsur mistik atau filosofis yang ada sebelum Islam, seperti mistitisme Kristen, Hindu, atau sistem filsafat Neoplatonisme atau Stoikisme, hal itu boleh-boleh saja. Tetapi itu sekali-kali tidaklah berarti bahwa Islam sendiri sebagai agama tidak cukup untuk memberikan basis bagi kehidupan spritualnya sendiri. Andaikan sistem-sistem mistik dan filosofis pra-Islam tidak pernah ada, maka saya yakin bahwa mistitisme Islam atau tasawuf ini akan tetap tumbuh, karena spritualitas pada hakikatnya merupakan kebutuhan esensial manusia, kapan saja dan di mana saja. Dan itulah sebabnya mistisisme dengan segala variasi dan kesamaannya bisa dan telah tumbuh dalam tradisi dan bangsa manapun di dunia ini. Demikianlah, maka Islam telah memberikan beberapa basis bagi sistem spritualnya sendiri yang kita sebut tasawuf.
Sebagai sebuah sistem spiritual, tasawuf tentu memiliki basis filosofis, di atas mana seluruh bangunan spritualnya didirikan. Basis filosofis tersebut tidak lain daripada basis atau prinsip bagi seluruh yang ada di alam semesta ini, yaitu Tuhan. Tuhan adalah basis ontologism bagi segala sesuatu, yang tanpa-Nya, segala yang ada ini akan kehilangan pijakannya. Para sufi menyebut prinsip ini sebagai kebenaran (al-Haqq). Disebut al-Haqq, karena Dialah satu-satunya yang ada dalam arti yang sesungguhnya, yang mutlak, sementara yang lain bersifat nisbi atau majasi.
Para sufi menggambarkan Tuhan sebagai sebuah prinsip yang menyeluruh dan paripurna. Dari sudut pandang waktu, Dia adalah yang Awal dan yang Akhir, dalam arti Dialah asal dan tempat kembali segala yang ada. Dari sudut ruang, Dialah yang lahir dan yang batin, yakni yang imanen dan yang transenden. Dan konsep realitas yang paripurna ini sepenuhnya didasarkan pada ayat al-Qur’an, tepatnya surah al-Hadid ayat 3 yang berbunyi, “Dialah yang awal dan yang akhir, yang lahir dan yang batin.”
Esensi dari sebuah sistem mistisisme adalah perasaan dekat dengan Tuhan. Dan perasaan dekat ini dinyatakan dalam perasaan sufi akan kehadiran Tuhan di mana pun ia berada. Kehadiran Tuhan ia rasakan baik dalam dirinya maupun di alam yang mengelilinya. Tentang kedekatan dan kehadiran Tuhan di mana-mana ini, para sufi menemukan basis-basisnya dalam al-Qur’an sendiri. Surah al-Baqarah ayat 186 menyatakan bahwa Tuhan amat dekat dengan hamba-Nya, dan bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya apabila ia betul-betul memohonnya; sementara ayat lain dari surah yang sama (ayat 115) menyatakan bahwa ke mana saja kita berpaling, di sana ada wajah Tuhan, dan itu karena Tuhan memiliki dan meliputi seluruh alam semesta, timur dan baratnya dunia. Ibarat matahari yang karena ketinggian dan kebesarannya bisa terlihat di mana saja tanpa harus mengimplikasikan kegandaan atau keanekaan dalam jumlah. Bahkan surah Qaf, ayat 16 menunjukkan bahwa Tuhan lebih dekat kepada manusia daripada urat nadi lehernya sendiri. Karena itu, dikatakan Tuhan mengetahui bahkan apa yang hanya dibisikkan oleh jiwa manusia. Dikisahkan bahwa Abu al-Hasan al-Nuri, seorang sufi abad ke-9 Masehi, dibawa ke pengadilan atas tuduhan bahwa ia telah berkata, “Tadi malam aku telah berduaan saja dengan Tuhan di rumahku”. Ketika dimintai keterangan atas pernyataan tersebut, ia membenarkan pernyataan itu berasal darinya, dan ia mencoba membelanya dengan mengutip ayat “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadi lehernya sendiri,” seraya berkata bahwa bahkan pada saat ini dan di sini, di pengadilan ini, ia sedang berada dengan Tuhan, sebagaimana halnya orang-orang yang hadir di pengadilan tersebut.
Selain kesemestaan Tuhan dan perasaan dekat atau kehadiran-Nya, al-Qur’an juga memiliki ayat-ayat lain yang dijadikan sebagai basis konseptual sufi tentang cinta (mahabbah). Surah Ali Imran, ayat 30, secara hipotetik menyatakan kemungkinan terjadinya cinta timbale balik antara Tuhan dan hamba-Nya. “Katakanlah, jika kamu mencintai Tuhan, maka ikutilah aku (Nabi), niscaya Tuhan akan mencintaimu.” Pada masa al-Nuri hidup, menyatakan bahwa seseorang mencintai Tuhan, dan Tuhan mencintainya, dianggap sebagai skandal dan telah merendahkan martabat Tuhan, karena telah mengandaikan Tuhan sama derajatnya dengan hamba. Ketika al-Nuri dimintai keterangan tentang pernyataannya bahwa ia  mencintai Tuhan, dan Tuhan mencintainya, maka ia berkata bahwa pernyataan tersebut tidak lain daripada ulangan dari pernyataan Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa, “Akan datang suatu kaum yang Tuhan cintai dan mereka mencintai-Nya” (QS. Al-Maidah ayat 54).
Di samping al-Qur’an, hadis-hadis Nabi juga memberi basis yang sama-sama kuatnya terhadap konsep-konsep tertentu para sufi. Hadis yang menyatakan, “barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya,” telah diambil kaum sufi sebagai basis bagi konsep makrifat, yakni pengetahuan sejati yang diperoleh secara langsung dari sumbernya sendiri. Hadis tersebut telah dijadikan sebagai basis bagi sebuah modus pengetahuan yang berbeda dari modus pengetahuan biasa, yakni apa yang kita kenal sebagai “ilmu hudhuri”. Demikian juga hadis yang menyatakan Tuhan sebagai “harta pusaka yang terpendam” (kanz makhfiy), telah dijadikan basis bagi konsep tajalliyat Tuhan, di mana diyakini bahwa alam semesta merupakan manifestasi (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan.
Kiranya dengan ini dapatlah disimpulkan bahwa ayat-ayat al-Qur’an dan hadis tersebut telah menjadi indikasi yang memadai bagi adanya basis alami bagi konsep-konsep dasar dan fundamental yang telah  membentuk secara permanen spritualitas Islam yang kita sebut tasawuf, atau mistisisme Islam ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar