Laman

AQIDAH ISLAMIYAH

 
Rukun-Rukun Iman Dan Fungsinya Dalam Kehidupan
Keyakinan Pada Para Nabi Dan Rasul

      
Yakin pada para Nabi dan Rasul merupakan rukun iman yang keempat. Didalam buku-buku Ilmu Tauhid disebutkan bahwa antara Nabi dan Rasul ada perbedaan tugas utama. Para Nabi menerima tuntunan berupa wahyu, akan tetapi tidak mempunyai kewajiban menyampaikan wahyu itu kepada manusia. Rasul adalah utusan (Tuhan) yang berkewajiban menyampaikan Wahyu yang diterimanya kepada umat manusia. Oleh karena itu seorang Rasul adalah Nabi, tetapi seorang nabi belum tentu Rasul . Di dalam al-Qur’an disebut 25 orang Nabi dan Rasul yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada manusia dan menunjukkan cara-cara pelaksanaannya dalam kehidupan manusia sehari-hari.
    Sepanjang sejarah manusia, selalu saja ada orang yang memberi peringatan kepada mereka agar manusia senantiasa berada di jalan yang benar. Yang memberi peringatan itu adalah para Nabi dan Rasul. Jumlah mereka, karena itu, adalah banyak. Namun, berapa jumlahnya tidaklah diketahui. Ada yang berpendapat (Hasbi Ash Shiddiqy seperti yang dikutip oleh Nasruddin Rasak, 1977:144) jumlah para rasul yang pernah diutus Tuhan untuk memimpin manusia 313 orang, sedang jumlah para nabi 124.000 orang. Al-Qura’an tidak meyebut jumlah itu. Yang disebut dalam al-Qur’an adalah 25 orang Nabi dan Rasul, seperti yang telah dikemukakan di atas.
    Setelah Para Nabi dan Rasul yang banyak itu diutus Tuhan untuk memimpin masing-masing ummatnya di bumi ini. Allah mengutus Nabi Muhammad untuk seluruh ummat manusia. “Dan, kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada ummad manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” demikian (lebih kurung) terjemahan al-Qur’an surat Saba’ (34):28. Menurut para penulis sejarah Nabi dan Rasul, ada beberapa alasan yang menyebabkan Allah yang mengutus Nabi Muhammad. Alasan-alasan itu antara lain  adalah:

1.     Para Rasul yang mendahului Nabi Muhammad mempunyai risalah, (mission) terbatas hanya untuk bangsa atau daerah tertentu saja.
2.     Ajaran para Rasul sebelumnya banyak yang hilang atau sengaja dihilangkan oleh para pemuka agama bersangkutan.
3.     Ajaran para Rasul terdahulu yang bersifat lokal (setempat) temporal sementara) perlu disempurnakan dengan ajaran yang universal (meliputi seluruh dunia) dan eternal (abadi) sifatnya.

“Kami mengutus engkau ( Muhammad ) untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta” demikian lebih kurang makna Firman Tuhan dalam al-Qur’an surat al-Anbiya (21):107. Itulah sebabnya maka kedudukan Nabi Muhammad menjadi sangkar unik dalam sejarah para Nabi dan Rasul.
            Keunikan kedudukan beliau dalam sejarah umat manusia ini kini diungkapkan dengan jelas oleh para sarjana, diantaranya oleh dua orang sarjana non muslim Amerika (1) Philip Kurie Hitti dalam bukunya Islam away of life (1970) dan (2) Michael H. Hart dalam bukunya the 100, a Ranking of the most Influential persons in history (1978). Menurur (1) Philip Kurie Hitti, kedudukan dan peranan Nabi Muhammad luar biasa dalam sejarah umat manusia. Selain sebagai Nabi dan Rasul yang menyampaikan pesan agama, beliau juga mempunyai kedudukan sebagai pemimpin umat dan kepala Negara. Ketiga lembaga yang sangat penting bagi kehidupan manusia itu berhasil dibangunya dalam waktu yang relatif singkat yakni dalam masa kurang dari tiga puluh tahun, manusia utama yang dijadiakn tuhan menjadi utusan-Nya ini, dalam waktu yang singkat itu, mampu melakukan peranannya dengan baik dan sempurna membangun satu Agama yaitu Agama Islam yang kini dianut oleh lebih dari satu milyar manusia di seluruh dunia, membina umat yang kini menjelma dalam berpuluh-puluh bangsa serta seperti yang telah disebutkan diatas, mendirikan satu Negara yang dalam kepustakaan disebut negara kota Madinah dengan konsitusi atau Undang-Undang Dasar Tertulis pertama dalam sejarah. Apa yang ditulis oleh Philip kurie Hitti itu dinyatakan kembali dengan kata-kata lain oleh (2) Micael H. Hart, seorang sarjana sejarah, matematika dan hukum yang memilih seratus orang paling berpengaruh pada peradaban manuisia dan perkembangan sejarah dari sekian milyar manusia yangpernah hidup di dunia. Dengan menggunakan beberapa ukuran yakni; 1) Orangnya benar-benar pernah hidup di dunia ini. 2) Berpengaruh pada generasi masa lalu dan angkatan yang akan datang. 3) Prestasinya mempengaruhi keadaan dan peristiwa yang akan terjadi. 4) Karya dan citanya merupakan hasil individual bukan ciptaan bersama orang lain.
Michael H. Hart, sampai dalam kesimpulan bahwa di antara 100 pakar yang pernah ada hidup dalam sejarah manusia, yang paling berpengaruh pada peradaban dan perkembangan sejarah umat manusia adalah Nabi Muhammad. Menurut Hart dalam bukunya tersebut diatas, di antara orang-orang besar, yang banyak itu hanya Nabi Muhammadlah satu-satunya manusia yang berhasil secara luar biasa di bidang keagamaan dan dalam masalah keduniaan. Ia berhasil menegakkan satu diantara agama-agama besar didunia sekarang dan dalam waktu yang sama menjadi seorang pemimpin  politik yang amat berhasil. Dalam waktu yang singkat ia berhasil menyatukan masyarakatnya kedalam satu ikatan keyakinan, hanya beriman kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, dilapangan kemiliteranpun Muhammad menunjukkan kemampuannya sebagai seorang ahli strategi dan taktik yang ulung. Pengaruh gandanya di lapangan ukhrawi (keakhiratan, kehidupan sesudah kematian) dan duniawi, kata Michael H. Hart, menyebabkan muhammad harus didudukkan pada peringkat nomor satu: Manusia yang paling berpengaru dalam sejarah.
            Selain apa yang telah dikemukakan diatas, perlu, dikemukakan pula bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi penutup segala Nabi, Rasul terakhir. Sejarah hidupnya jelas dan lengkap serta terpelihara dari masa kemasa. Akhlaknya baik, yang biasa digambarkan dengan kata-kata; 1) Amanah (dapat dipercaya). 2) Siddiq (selalau benar). 3) Fathanah (cerdas dan bijaksana). 4) Tabligh (selalu menyampaikan apa yang harus disampaikan). 
            Oleh karena akhlaqnya demikian, seluruh suri teladan yang diberikannya dalam mengamalkan agama Islam dalam berbagai sunnah menjadi sumber nilai dan norma kedua ummat Islam sesudah wahyu. “Sesungguhnya, pada diri rasul Allah, terdapat suri teladan yang baik bagi kamu,” demikian (lebih kurang) terjemahan firman Tuhan dalam al-Qur’an surah al-Ahzab (33):21. Dan karena itu “apa yang dibawanya ikutilah dan apa yang dilarangnya jauhilah “ (Q.s. al-Hasyr (59): 7).
            Sauri teladan yang diberikan Rasulullah itu berupa perkataan (qaul) mungkin juga berupa perbuataan (fi’il) serta pendamaian (sukut atau taqrir), seperti yang disebut di muka. Sunnah Nabi Muhammad merupakan sumber pengetahuan yang monumental bagi ummat Isalam. Sebabnya, karena ia merupakan penafsiran otentik dan penjelasan yang sempurna dalam al-Qur’an, sunnah juga membahas berbagai hal mulai dari metafisika sampai kepada tatatertib di meja makan (SH Nasr, 1981:49). Oleh karena itu, melalui kitab-kitab hadits yang memuat sunnah Nabi seorang muslim dapat mengerti dan memahami isi al-Qur’an. Tanpa al-Sunnah sebagian besar isi al-Qur’an akan tersembunyi dari mata  manusia. Ini berarti bahwa orang tidak akan mungkin memahami al-Qur’an tanpa bantuan as-Sunnah. Itulah sebabnya maka kedua sumber nilai dan norma Islam itu tidak boleh dipisahkan. Seorang muslim yang baik akan selalu mempergunakan al-Qur’an dan al-Hadist yang memuat Sunnah Rasulullah sebagai pegangan hidupnya, mengikuti pesan Nabi waktu melakukan haji perpisahan sebelum ia wafat. “kutinggalkan pada kalian dua pusaka yang sangat berharga. Kalian tidak akan sesat (sesudahku) selama-lamanya selama kalian berpegang teguh kepada kedua pusaka yang sangat berharga itu yaitu al-Qur’an dan Sunnahku”, demikian amanah akhir beliau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar