Laman

AQIDAH ISLAMIYAH


Aliran-Aliran Teologi Dalam Islam
Paham Jabariah


Nama Jabariah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa.[1] Menurut Al-Syahrastani. Jabbariah berarti penolakan atas perbuatan yang hakikatnya berasal dari manusia dan menyandarkannya kepada Tuhan.[2] Paham ini memposisikan manusia tidak memiliki kebebasan dan inisiatif sendiri, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan (predestination). Manusia, menurut paham ini, betul melakukan perbuatan tetapi perbuatannya itu dalam keadaan terpaksa.
            Paham Jabariah diduga telah ada sejak sebelum Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir yang terjal dan gersang dan panas telah memberi pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka. Dalam dunia seperti ini mereka tidak banyak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa dirinya lemah dan tidak berkuasa menghadapi kesukaran-kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh suasana padang pasir. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka banyak bergantung pada kehendak alam. Hal inilah yang membawa mereka bersikap fatalistik. Oleh karena itu, ketika paham Qadariah dibawa ke kalangan mereka oleh orang-orang Islam yang bukan berasal dari padang pasir, hal itu menimbulkan kegoncangan dalam pemikiran mereka dan menganggapnya bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini tercermin dalam ungkapan mereka: “Al-Qadariyyah majushus hadzih Al-ummah” (Kaum Qadariah adalah Majusinya umat Islam).
Terlepas dari ada atau tidaknya kondisi alam yang demikian, Al-Qur’an sendiri banyak  memuat ayat-ayat yang dapat membawa timbulnya paham Jabariah, seperti terdalap dalam surat Al-Shaffat ayat 96, Al-An’am ayat 112, Al-Anfal ayat 17, dan ayat-ayat lainnya
Pendapat Jabariah pun memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Mereka selanjutnya mengembangkan pahamnya sejalan dengan perkembangan masyarakat pada masa itu. Paham ini diperkenalkan pertama kali dikalangan umat Islam oleh Al-ja’d ibn Dirham yang dilanjutkan oleh Jahm bin Shafwan dan lainnya.
            Ada pandangan menarik yang menyatakan bahwa dikalangan mereka sendiri ada pendapat yang mengatakan, tidak semua perbuatan manusia bergantung pada Tuhan secara mutlak. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Najjar dan Dirar ibn ‘Amr yang dikenal sebagai tokoh jabariah moderat. Menurut mereka, Tuhanlah yang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan itu positif maupun negatif. Tetapi, dalam melakukan perbuatan itu, manusia mempunyai andil. Daya yang diciptakan dalam diri manusia oleh Tuhan mempunyai efek, sehingga manusia mampu melakukan perbuatan i tu. Daya yang diperoleh untuk mewujudkan perubahan-perubahan inilah yang disebut dengan kasb atau acquisition.[3]   Paham Jabariah ini, walaupun tidk identik dengan paham yang dibawa oleh Jahm bin Shafwan atau oleh Al-Najjar dan Dirar, terdapat dalam aliran Asy’ariah.


[1] Al-Amidiy, Ghayah Al-Maram fi ‘Ilm Al-Kalam (Kairo: Al-Majlis Al-A’la li Al-Syuun Al-Islamiyyah, 1971), hlm. 85
[2] Al-Syahrastani, op. cit., hlm. 85. Dalam perkembangan pemikiran kalam, paham Jabariah ini mirip dengan paham fatalisme atau filsafat yang beranggapan secara determinis; bahwa manusia tidak mempunyai kekuasaan dan kebebasan sebab segala-galanya di tentukan sebelumny. Mereka yang berpaham determinis teologis berpendapat bahwa kekuatan itu datang dari makrokosmos dan mikrokosmos, sebagaimana tampak dalm dilsafat Tiongkok Kuno, filsafat Mesir Kuno, dan filsafat Parmenides dari Yunani. Mereka beranggapan bahwa segalanya telah ditentikan Tuhan sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima takdir yang telah ditetapkannya (predestination) tanpa ikhtiar lagi. Lihat H. M. Layli Manshur, Pemikiran Kalam dalam Islam (Cet. Ke-1; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), hlm. 38.
[3] Abu Manshu Al-Baghdadi, Al-Farq bayn Al-Firaq (Kairo: Maktabah Subaeh, t.t.), hlm. 313.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar