Laman

Filasafat dan Hikmah


Pengertian Filsafat dan Hikmah

Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu: Philosophy, adapun istilah fisafat berasal dari bahasa Yunani: Philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatn, tertarik kepada) dan sophos (‘hikmah’, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, intelegensi). Dalam pengertian ini, seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila seluruh ucapannya dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah.
Pada awalnya, kata sofia lebih sering diartikan sebagai kemahiran dan kecakapan dalam suatu pekerjaan, seperti perdagangan dan pelayaran. Dalam perkembangan selanjutnya, makna dari kata kemahiran ini lebih dikhususkan lagi untuk kecakapan di bidang sya’ir dan musik. Makna ini kemudian berkembang lagi kepada jenis pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran murni. Sofia dalam arti yang terakhir ini, kemudian dirumuskan oleh Pythagoras bahwa hanya Dzat Maha Tinggi yang mampu melakukannya. Oleh karena itu, manusia hanya dapat sampai pada sifat “pencipta kebijaksanaan”. Pythagoras menyatakan: “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan berusaha untuk mencapainya. Jadi, secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksaan atau kebenaran (love of wisdom). Orangnya disebut filsof yang dalam bahasa Arab disebut failasûf.
Harun Nasution mengatakan bahwa kata filsafat berasal dari bahasa Arab falsafa dengan wazan (timbangan) fa’lala, fa’lalah dan fi’lâl. Dengan demikian, menurut Harun Nasution, kata benda dari falsafa seharusnya falsafah dan filsaf. Menurutnya, dalam bahasa Indonesia banyak terpakai kata filsafat, padahal bukan berasal dari bahasa Arab falsafah dan bukan dari kata Inggris philosophy. Harun Nasution mempertanyakan apakah kata fil berasal dari bahasa Inggris dan safah diambil dari kata Arab, sehingga terjadilah gabungan keduanya, yang kemudian menimbulkan kata filsafat?
Harun Nasution berpendapat bahwa istilah filsafat berasal dari bahasa Arab karena orang Arab lebih dulu dating dan sekaligus mempengaruhi bahasa Indonesia daripada orang dan bahasa Inggris. Oleh karena itu, dia konsisten mnggunakan kata falsafat, bukan filsafat. Buku-bukunya mengenai “filsafat” ditulis dengan falsafat, seperti Falsafat Agama dan Falsafat dan Mistisisme dalam Islam.
Kendati istilah filsafat yang lebih tepat adalah falsafat yang berasal dari bahasa Arab, kata filsafat sebenarnya bias diterima dalam bahasa Indonesia. Sebab, sebagian kata Arab yang diindonesiakan mengalami perubahan dalam huruf vokalnya, seperti masjid menjadi mesjid dan karâmah menjadi keramat. Karena itu, perubahan huruf a menjadi I dalam kata falsafah bias ditolerir. Lagi pula, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal, dan hukumnya.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, filsafat diartikan dalam tiga definisi:
    • Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukum-hukumnya.
    • Teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan.
    • Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi.
Sonny Keraf dan Mikhael Dua mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmu tentang bertanya atau berpikir tentang segala sesuatu (apa saja dan bahkan tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang. Thinking about thinking.

Adapun beberapa pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filsof adalah:
1.     Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.
2.     Upaya untuk melukiskan hakikat akhir dan dasar serta nyata.
3.     Upaya untuk menetukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya, keabsahannya, dan nilainya.
4.     Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
5.     Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakana dan untuk mengatakan apa yang Anda lihat.
Pengertian filsafat secara etimologi sangat beragam, baik dalam ungkapan maupun titik tekanannya. Bahkan, Moh. Hatta dan Lengeveld mengatakan bahwa defenisi filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang memiliki titik tekan sendiri dalam definisinya. Oleh karena itu, biarkan saja seseorang meneliti filsafat terlebih dahulu kemudian menyimpulkan sendiri.
Filsafat sebenarnya amat dekat dengan realitas kehidupan kita. Untuk mengerti apa filsafat itu, orang perlu menggunakan akal budinya untuk merenungkan relaitas hidupnya, “apa itu hidup? Mengapa saya hidup? Akan kemana saya hidup? Tentunya pertanyaan tersebut sejatinya muncul alamiah bila akal budi kita dibiarkan bekerja. Persoalannya, apakah orang atau peminat filsafat sudah membiarkan akal budinya bekerja dengan baik memandang relaitas? Aristoteles menyebut manusia sebagai “binatang berpikir”.
Pendapat ini ada benarnya, sebab intisari berfilsafat itu terdapat dalam pembahasan bukan pada definisi. Namun, definisi filsafat untuk dijadikan patokan awal diperlukan untuk memberi arah dan cakupan objek yang dibahas, terutama yang terkait dengan filsafat ilmu. Karena itu, di sini dikemukakan beberapa definisi dari para filosof terkemuka yang cukup representatif, baik dari segi zaman maupun kualitas pemikiran.
Pythagoras (572-497 SM) adalah filosof yang pertama kali menggunakan kata filsafat, dia menggunakan kata filsafat, dia mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi ke dalam tiga tipe: mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan, dan mereka yang mencintai kebijaksanaan. Tujuan kebijaksanaan dalam pandangannya menyangkut kemajuan menuju keselamatan dalam hal keagamaan. Shopia mengandung arti yang lebih luas daripada kebijaksanaan, yaitu: 1). Kerajinan, 2). Kebenaran pertama, 3). Pengetahuan yang luas, 4). Kebajikan intelektual, 5). Pertimbangan yang sehat, 6). Kecerdikan dalam memutuskan hal-hal praktis. Dengan demikian asal mula kata filsafat itu sangat umum, yang intinya adalah mencari keutamaan mental (the pursuit of mental excellence).
Plato (427-347 SM) mengatakan bahwa objek filsafat adalah penemuan kenyataan atau kebenaran absolut (keduanya sama dalam pandangannya), lewat “dialektika”. Dialektika adalah metode mencapai definisi bagi sebuah konsep dengan cara menguji ciri-ciri umum yang ditemukan dalam sejumlah contoh khusus dari konsep itu. Dialektika adalah metode metafisika dan mendatangkan atau menghasilkan pengetahuan tertinggi.
Aristoteles (384-332 SM), tokoh utama filosof klasik, mengatakan bahwa filsafat menyelidiki sebab dan asas segala terdalam dari wujud. Karena itu, ia menamakan filsafat dengan “teologi” atau “filsafat pertama”. Aristoteles sampai pada kesimpulan bahwa gerak di alam ini digerakkan oleh yang lain. Karena itu, perlu menetapkan satu penggerak pertama yang menyebabkan gerakan itu, sedangkan dirinya sendiri tidak bergerak. Penggerak pertama ini sama sekali terlepas dari metari; sebab kalau ia materi, maka ia juga mempunya potensi gerak. Allah, demikian Aristoteles , sebagai penggerak Pertama adalah Aktus Murni. Dan ia adalah salah seorang filosof Yunani Kuno yang mengatakan bahwa filsafat memperhatikan seluruh pengetahuan, dan kadang-kadang disamakan dengan pengetahuan tentang wujud (ontologi).
Al-Farabi (W. 950 M), seorang filosof Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina berkata, “Filsafat ialah ilmu tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya.
Ibnu Rusyd (1126-1198 M), berpendapat bahwa filsafat atau hikmah merupakan pengetahuan “otonom” yang perlu dikaji oleh manusia karena dikaruniai akal. Alquran Filsafat mewajibkan manusia berfilsafat untuk menambah dan memperkuat keimanan kepada Tuhan.
Immanuel Kant (1724-1804 M), mengatakan bahwa: filsafat itu ilmu dasar segala pengetahuan, yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
1.     Apakah yang dapat kita ketahui? (Dijawab oleh metafisika)
2.     Apakah yang boleh kita kerjakan? (Dijawab oleh etika/norma)
3.     Sampai di manakah pengharapan kita? (Dijawab oleh agama)
4.     Apakah yang dinamakan manusi? (Dijawab oleh antropologi)
Sutan Takdir Alisjahbana berpendapat bahwa filasafat adalah berpikir dengan insaf. Yang dimaksud insaf adalah berpikir dengan teliti, menurut aturan yang pasti. Sementara itu, Deng Fung Yu Lan, seorang filosof dari dunia Timur, mendefinisikan filsafat adalah pikiran yang sistematis dan refleksi tentang hidup.
Filsafat juga didefinisikan oleh H. Hamersama sebagai pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren (bertalian) tentang seluruh kenyataan. Sedangkan Harus Nasution mengatakan bahwa filsafat adalah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma, dan agama) dengan sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.
Dalam pandangan Sidi Gazalba filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematis, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Pendapat Sidi Gazalba ini memperlihatkan adanya tiga cirri pokok dalam filsafat, yaitu:
1.     Adanya unsur berpikir yang dalam hal ini menggunakan akal.
2.     Adanya unsur tujuan yang ingin dicapai melalui berpikir tersebut.
3.     Adanya unsur ciri yang terdapat dalam pikiran tersebut, yaitu mendalam.
Uraian di atas menunjukkan dengan jelas ciri dan karakter berpikir secara filosofis. Intinya adalah upaya secara sungguh-sungguh dengan menggunakan akal pikiran—sebagai alat utamanya—untuk menemukan hakikat segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu.
Telah disebut di atas bahwa salah satu makna filsafat adalah mengutamakan dan mencintai hikmah. Fuâd Ifrâmi al-Bustânî mengartikan hikmah dalam kitab monumentalnya Munjid al-Thullâb, secara etimologi yaitu al-‘adl (memposisikan sesuatu pada porosnya) al-hilm (akal baligh/pemikiran yang sempurna), al-falsafah (filsafat), dan secara terminology yaitu:
“Ungkapan atau pemikiran yang sesuai dengan kebenaran suatu pendapat yang valid.”
Ibnu Mundzir, penulis kamus standar dalam bahasa Arab, Lisân al-‘Arabî, menjelaskan bahwa istilah hikmah berarti terhindar dari kerusakan dan kezaliman, karena hikmah adalah ilmu yang sempurna dan manfaat.
Lain halnya dengan al-Jurjâni dalam mendefinisikan kata hikmah adalah:
“Ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada menurut kadar kemampuan manusia.”
Ibn Sina mengartikan bahwa hikmah dalam al-Thabi’iyyat yang artinya adalah :
“Hikmah adalah mencari kesempurnaan diri manusia dengan menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktik menurut kadar kemampuan manusia.”
Rumusan tersebut mengisyaratkan bahwa hikmah sebagai pradigma keilmuan yang empunyai tiga unsure utama yaitu : 1) Masalah, 2) Fakta dan data, 3) Analisis ilmuwan dengan teori. Al-Syaybani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan mencari sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menginterpresikan pengalaman-pengalaman manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar