Laman

AQIDAH ISLAMIYAH

Ahli Sunnah dan Aliran Sesat
  Al-Firqah al-Najiyah (aliran selamat)

Berangkat dari pemahaman diatas, maka permasalahan selanjutnya adalah; Benarkah semua aliran dalam Islam itu selamat dan beraqidah  ahli Sunah waljamaah, kriteria apa yang dipakai untuk menilai sebuah aliran beraqidah ahli Sunah waljamaah?
cAbdul Qahir bin Tahir al-Baghdadi, memasukkan  delapan kelompok yang berhak memakai label ahli Sunah waljamaah, yaitu: Pertama, para ahli ilmu Kalam, yang memahami sebenar perkara-perkara keesaan Tuhan, kenabian, mengikuti metodologi aliran al-Sifatiyyah (menetapkan sifat-sifat Tuhan) tapi tidak terseret ke dalam faham tasybih (antropomorfis) dan tacthil serta bid’ah kaum Syiah, Khawarij dan kelompok-kelompok bid’ah lainnya. Kedua, aliran Fuqaha, baik dari  ahl al-ra'yi  maupun ahl al-Hadis. Ketiga, aliran Muhaddithin, adalah  mereka yang ahli dalam melacak jalur-jalur Hadis dan athar, mampu membezakan antara Hadis-hadis yang sahih dan dhacif, menguasai al-jarh wa al-tacdil. Keempat, para pakar kesusasteraan, semisal al-Khalil, Abu cAmr bin al-Acli, Sibawayh, al-Farra', al-Akhfash, al-Muzany, Abu cUbayd dll. Kelima, para ahli Qurra dan Mufassirin yang melakukan penafsiran dan penakwilan ayat-ayat al-Quran sesuai dengan aliran ahli Sunah waljamaah. Keenam Para ahli Zuhhad daripada ahli tasawuf yang giat beramal dengan tulus ikhlas dan menyedari sepenuhnya bahwa sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, kesemuanya akan dipertanggungjawabkan didepan Allah swt. Ketuju, Mereka yang bertugas di pos-pos pertahanan umat Islam untuk menjaga keamanan negara dari serangan musuh, menjaga martabat dan kehormatan umat Islam, dengan senantiasa mengamalkan ajaran ahli Sunah waljamaah di pos-pos pertahanan mereka. Kedelapan adalah semua negara yang mengaplikasikan syiar ahli Sunah waljamaah.[1]
Pengelompokan al-Baghdadi di atas, masih terlalu umum, walaupun sesungguhnya benang merah yang membatasi antara ahli Sunah dan ahli bid’ah telah nampak  dipermukaan. Oleh karena itu, Abu Bakr al-cArabu, salah seorang toko ulama al-Maliki dalam bukunya “al-cAwashim min al-qawashim” memberikan  pembatasan yang lebih khusus lagi dengan hanya menyebut empat katagori, yaitu; Pertama, ahli Hadis  yang senantiasa memelihara keaslian Hadis-hadis Rasulullah. Kedua, aliran kalam yang senantiasa menghadapi berbagai tantangan dan serangan pemikiran yang tertuju kepada Islam. Ketiga, Tokoh-tokoh Fuqaha yang senantiasa melicinkan jalan dan meletakkan dasar-dasar ibadah dan muamalah serta membentangkan batasan antara halal  dan yang haram. Keempat, ahli Tasawuf yang senantiasa memfokuskan diri terhadap pembersihan jiwa dan pemantapan ibadah serta mengasingkan diri dari masyarakat ramai demi pelaksanaan kontemplasi dengan Tuhan.[2]
Selain itu, Ibn Taymiyyah di dalam bukunya Minhaj al-Sunnah, menyimpulkan kepada tiga golongan yang berhak masuk dalam kategori ahli Sunnah iatu; Pertama, ahli Hadis. Kedua, mazab Fiqh. Ketiga, aliran kalam dari kelompok ithbat (yang menetapkan sifat-sifat Tuhan), seperti : Ibn Kullab, al-Ashcari, dan al-Baqillani.[3]
Dari keterangan diatas, dapat diambil sebuah ketegasan bahwa; yang termasuk di dalam kategori ahli Sunah waljamaah bukan saja daripada aliran teologi, tetapi juga aliran Fiqh, aliran Hadis dan aliran tasawwuf. Dalam konteks ini disebut  aqidah Sunni, Fiqh Sunni, Hadis Sunni dan tasawwuf Sunni. Aqidah Sunni dimaksud sebagai sebuah istilah untuk menghadapi akidah bid’ah, Fiqh Sunni dimaksud sebagai istilah untuk menghadapi Fiqh Syiah, Hadis Sunni dimaksud sebagai istilah untuk menghadapi hadis palsu dan tasawwuf Sunni dimaksud sebagai suatu istilah untuk menghadapi tasawuf Falsafi.
Berdasarkan uraian diatas dapat difahami bahwa istilah ahli Sunah --pada awalnya-- merupakan sebuah peristilahan yang bersifat umum yang bisa meliputi; bidang aqidah, Fiqh, Hadis dan tasawwuf yang tentunya masing-masing bidang studi tersebut mempunyai tokoh-tokoh panutan masing-masing.


[1] al-Baghdadi,  al-Farq bayn al-firaq, hal. 337-342.
[2] Abu Bakr al-cArabi, al-cAwasim min al-qawasim, hal.199.
[3] Ibn Taymiyyah, Minhaj al- Sunnah, vol.1, hal. 204.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar