Laman

ILMU TASAWWUF

TASAWUF DAN DISORIENTASI MANUSIA MODERN


Telah banyak diakui bahwa manusia modern telah mengalami apa yang disebut oleh Nasr sebagai krisis spiritual. Krisis spiritual ini barangkali terjadi sebagai akibat dari pegnaruh sekularisasi yang telah cukup lama menerpa jiwa-jwioa manusia modern. Pengaruh pandangan dunia modern dalam berbagai bentuknya-naturalisme, materialisme, positivisme,- memiliki momentumnya yang berarti setelah sains modern, beserta teknologi yang dibawanya, memutuskan untuk mengambil pandangan sekuler- khususnya positivisme ala Comte- sebagai dasar filosofisnya. Pegnaruh sains yang besar dalam kehidupan modern, dengan sengaja atau tidak, telah menyebabkan pandangan sekuler tersebut sampai ke lubuk jantung dan hati manusia modern.
Pandangan dunia sekuler, yang hanya mementingkan kehidupan duniawi, telah secara signifikan menyingkirkan manusia modern dari segala aspek spritualitas. Akibatnya mereka hidup secara terisolir dari dunia-dunia lain yang bersifat nonfisik, yang diyakini adanya oleh para sufi. Mereka menolak segala dunia nonfisik- seperti dunia imajinal atau spiritual- sehingga terputus hubungan dengan segala realitas-realitas yang lebih tingi daripada sekedar entitasentitas fisik.
Bagi mereka, kehidupan dimulai di dunia ini dan berakhir juga di dunia ini, tanpa tahu dari mana ia berasal dan hendak ke mana setelah ini ia pergi. Bukankah Heidegger pernah mengatakan bahwa manusia di dunia ini terdampar tanpa tahu dari mana. Demikian juga mereka percaya bahwa hidup akan berarkhir jug adi sini, dalam peristiwa kematian, dan tidak ada lagi kehidupan setelah itu. Padahal dalam kepercayaan para sufi, alam dunia ini hanya satu dari sekian banyak dunia yang telah dan akan kita lalui. Akibatnya, manusia modern hanya berkutat di satu duni ini saja, seakan mereka tidak pernah punya asal dan tempat kembali. Bagi mereka mikraj spiritual ke langit-langit, seperti yang telah kita diskusikan pada bab yang lalu, hanyalah sebuah lelucon yang menggelikan, karena dunia-dunia spiritual bagi mereka sama sekali tiada. Maka, bisa kita katakan, mereka sendiri telah mengunci pintu-pintu langit dari dalam, sehingga jiwa-jiwa mereka terisolasi dalam ruang yagn begitu sempir di dunia ini.
Dengan ditutupnya pintu-pintu masuk ke langit (dunia-dunia spiritual), dan terpusatnya pikiran mereka hanya pada kehidupan dunia ini, maka dapat dimengerti mengapa mereka kehilangan pandangan dunia spiritual mereka, yang dalam jangka waktu yang cukup lama, akan menimbulkan krisis spiritual.
Krisis spiritual ini pada gilirannya telah menimbulkan apa yang disebut sebagai “disorientasi” pada manusia modern. Ketika kita mengatakan “orientasi”, ini tentu mengandung arti “memberi arah”, dan dengan demikian orientasi tidak bisa tidak kecuali mengandaikan adanya arah dan tujuan. Tidak mungkin kita bisa mengorientasi diri kita, kecuali kita telah mengetahui tujuan, kea rah mana kita akan berjalan. Kata “disorientasi” yang merupakan negasi dari orientasi, karena itu, akan terjadi ketika kita tidak tahu lagi arah, mau ke mana kita pergi, bahkan juga dari mana kita berasal.
Nah, ketika kita percaya bahwa ke arah langitlah (dunia spiritual) kita akan pergi, maka kita akan dapat dengan lebih mudah mengorientasikan diri kita. Tetapi ketika kita, sebagai orang modern, hanya membatasi diri kita pada dunia fisik, maka kita tidak akan dapat-menurut perspektif sufistik- mengorientasikan diri kita dengan benar, dan hanya akan berputar-putar tanpa arah di dunia yang senantiasa berubah dan akan musnah ini.
Akibat serius dari kondisi seperti ini-yakni kehilangan arah hidup- adalah adanya perasaan terasing atau istilahnya “teralienasi” baik dari diri sendiri, alam sekitar dan Tuhan, pencipta alam semesta ini. Sulit nampaknya bagi manusia modern untuk mengenal siapa diri mereka yang sejati. Ketika manusia hanya mementingkan aspek dari dirinya, padahal, setidaknya menurut para sufi, ia juga memiliki aspek atau dimensi spiritual, maka kegoncangan dan ketidakstabilan jiwanya tidak sulit untuk dibayangkan. Ketika manusia modern hanya membersihkan tubuh mereka semata, dan tak lupa untuk membersihkan kotoran-kotoran jiwa mereka, maka tak sulit untuk menjawab mengapa orang-orang modern banyak mengalami goncangan dan penyakit jiwa. Maka stress dan hipertensi pun telah menjadi penyakit yang sangat umum diderita manusia modern. 
Ketika, dalam berhubungan dengan alam sekitar, manusia hanya memerhatikan aspek biofisik dan ekonomisnya saja, dan sama seklai tidak memerhatikan aspek-aspek nonfisik (spiritual), maka manusia modern telah menimbulkan apa yang kita kenal sebagai krisisi ekologis. Krisis ekologis pada saat ini telah mengganggu ekosistem alam sampai taraf yagn mengkhawatirkan, problem dan krisis yagn tidak pernah terjadi kecuali setelah masa modern. Alam, yang telah begitu bermurah hati melayani manusia selama ratusan bahkan ribuan tahun dari kehidupan manusia, ternyata hanya dalam rentang masa kurang lebih tiga abad-setelah revolusi industri- sudah kehilangan daya dukungnya dan tidak mampu lagi mempertahankan kualitas dirinya, ketika dipaksa untuk melayani kerakusan orang-orang modern, yang telah dengan kasar dan tanpa belas kasihan mengekploitasi alam.
Tidak adanya respek terhadap alam, juga telah menimbulkan, selain krisis identitas dan ekologis, rasa terasing terhadap lingkungan. Dan rasa terasing ini pada gilirannya menimbulkan ketidak-nyamanan hidup manusia. Alam tidak dipandang sebagai apapun kecuali tempat tinggal dan objek yang harus ditundukkan demi kepentingan dan kenyamanan bahkan kemewahan hidup manusia modern. Alam tidak lagi dipandang, misalnya, sebagai ayat-ayat Allah, yang tentunya berbagi kesakralan dengan Penciptanya, lewat mana manusia dapat mengenal keberadaan, kebijaksanaan dan kemurahan Tuhan. Alam tidak lagi dipahami sebagai simbol bagi realitas-realitas spiritual apa pun yang lebih tinggi dari sekedara fenomena alam fisik.
Terakhir, keterputusan spiritual dengan dunia-dunia yang lebih tinggi, membuat manusia modern juga kehilangan kontak mereka dengan Tuhan, sumber dari segala yang ada. sementara bagi para sufi, Tuhan adalah Alfa dan Omega, Asal dan tempat kembali, bagi banyak orang modern Tuhan hanyalah dipandang sebagai penghalang bagi penyelenggaraan diri mereka, dan kebebasan yang menyertainya. Nietzshe, misalnya, memandang Tuhan sebagai perintang utama bagi terciptanya manusia super (Ubermensch), karena itu lebih baik dibunuh saja. Maka ia berteriak Tuhan telah mati. Freud memandang Tuhan bukan lagi sebagai realitas sejati, apalagi pencipta alam. Tetapi justru sebuah ilusi besar yang telah muncul dari keinginan manusia. Baginya bukan Tuhan yang telah menciptakan kita, kitalah yang telah menciptakan Tuhan.
Akibat keterputusan ini, maka manusia tidak lagi mengarahkan jiwanya kepada Tuhan Yang Esa yang menjadi sumber ketauhidan manusia tetapi tertumpu kepada beraneka benda-benda fisik, yang selalu timbul tenggelam, dan karena itu tidak pernah memberi mereka kepuasan dan ketenangan. Bagi para sufi, ketenangan dapat dicapai hanya apabila kita telah berada dekat dengan kampung halaman kita yang sejati, asal dan tempat kembali manusia, yaitu TUhan. Keterputusan dengan sumber adalah penyebab timbulnya perasaan terasing, gelisah dan sebangsanya, sebagaimana yang banyak diderita manusia yang hidup di dunia modern ini. Karena itu, hanya dengan melakukan kontak dengan sumber, dan terus berupaya untuk mendekatkan diri kepadanya, maka manusia boleh berharap mendapat ketenagan dan kebahagiaan hidup. Kalau tidak, berharap saja pun merupakan sebuah kemustahilan. Tuhan tempat kembali kita, ia tempat asal dan kampung halaman kita yang sejati. Bukankah al-Qur’an sendiri berkata, “Milik Tuhanlah kita ini, dan kepada-Nya kita semua akan kembali”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar