Laman

AQIDAH ISLAMIYAH

Aliran-Aliran Teologi Dalam Islam
Al- Asy’ariyah: Tokoh dan Pandangannya


Aliran Asy’ariah dibangun oleh Abu Hasan Ali Ibn Ismail Al-Asy’ari (873-935 M). Dalam Ilmu Kalam, aliran ini sering disebut sebagai aliran tradisional[1] . Pada mulanya, Al-Jubba’I adalah seorang tokoh Mu’tazilah. Karena itulah, menurut Al-Askari, Al-Jubba’I berani mempercayakan perdebatan dengan lawan kepada Al-Asy’ari. [2]  ini merupakan indikasi bahwa Al-Asy’ari salah seorang pengikut Mu’tazilah yang tangguh.
            Namun, karena sebab yang tidak begitu jelas, Al-Asy’ari – walaupun telah puluhan tahun menganut paham Mu’tazilah – akhirnya meninggalkan ajaran tersebut. Menurut ibn Asakir, Al-Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah karena ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa mahzab Mu’tazilah sesat sedangkan mazhab Ahl Al-Hadits benar. Pendapat lain menyebutkan bahwa Al-Asy’ari berdebat dengan gurunya, Al-Jubba’I, seputar orang mukmin, orang kafir, dan anak kecil. Dalam perdebatan itu sang guru tidak menjawab pertanyaan murid. [3]
                     Terlepas dari sebab-sebab di atas, yang jelas, ajaran Asy’ariah ini muncul sebagai alternatif yang menggantikan kedudukan ajaran Mu’tazilah yang sudah hilang pamornya pasca penghapusannya oleh Al-Mutawakkil sebagai mazhab negara. Ini menunjukkan bahwa aliran Asy’ariah muncul karena kondisi yang menuntut demikian.
            Selain oleh Al-Asy’ari, aliran Asy’ariah ini dikembangkan pula oleh murid-muridnya seperti Muhammad Thayyib bin Muhammad Abu Bakar Al-Baqillahi, Abd. Al-Malik Al-Juwaini (416-478 H), Abu hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali (450-505 H), dan Alauddin Al-‘Ijji W.( 756 H).

1.       Sifat Tuhan
Karena kontra dengan Mu’tazilah Al-Asy’ari membawa paham Tuhan melalui sifat. Menurutnya, mustahil Tuhan mengetahui dengan zat-Nya, karena ini akan membawa kepada kesimpulan bahwa zat Tuhan itu pengetahuan-Nya. Dan dengan demikian Tuhan sendiri menjadi pengetahuan. Padahal Tuhan bukan pengetahuan(‘ilm), tetapi yang maha mengetahui (‘alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuan, dan pengetahun-Nya itu bukan zat-Nya. Demikian halnya dengan sifat-sifat Tuhan yang lainnya, seperti hidup, berkuasa, mendengar, melihat dan sebagainya. [4]

2.       Dalil Adanya Tuhan
Menurut Mu’tazilah alasan manusia harus percaya kepada Tuhan Karena akal manusia sendiri yang menyimpulkan bahwa Tuhan itu ada. Sedangkan menurut Asy’ariah, manusia wajib meyakini Tuhan karena Nabi Muhammad mengajarkan bahwa Tuhan itu ada sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an. Jadi, manusia wajib percaya terhadap adanya Tuhan dan perintah itu ditangkap akal. Di sini AL-Qur’an menjadi sumber pengetahuan dan akal sebagai instrumennya.  

3.       Kekuasaan Tuhan dan Perbuatan Manusia
Dalam masalah ini Asy’ariah mengambil posisi tengah antara pendapat Jabbariah dan Mu’tazilah. Menurut Jabbariah, manusia tidak mempunyai kemampuan untuk mewujudkan perbuatannya, sedangkan menurut Mu’tazilah manusia itulah yang mewujudkan perbuatannya dengan daya yang diberikan Tuhan kepadanya. Sebagai jalan keluar dari dua pendapat yang bertentangan itu, Asy’ari mengambil paham kasb[5]  sebagai jalan tengahnya, yang sulit dimengerti, kecuali bila kasb itu di pandang sebagai usaha untuk menjauhi jabbariah. Namun, setelah jalan yang berbelok-kelok, akhirnya Asy’ari menjatuhkan pilihan kepada paham Jabr.
Kasb yang di maksud Asy’ari bukan berarti usaha atau perbuatan tetapi di peroleh. Sebagai mana yang dijelaskanya. Suatu perbuatan yang terjadi dengan perantara daya yang di ciptakan Tuhan dalam diri manusia dan, dengan demikian, menjadi perolehan (kasb) baginya. Perbuatan  manusia bukan diwujudkan oleh manusia sendiri, tetapi oleh Tuhan; perbuatan yang di ciptakan Tuhan inilah yang diperoleh manusia, dan kasb atau peroleh itu juga di ciptakan Tuhan.

4.       Melihat Tuhan di Akhirat
Menurut Asy’ariah, Tuhan dapat di lihat di akhirat. Alasannya, sifat-sifat yang tidak dapat di berikan kepada Tuhan hanyalah sifat- yang akan menbawa kepada pengertian diciptakannya Tuhan. Sifat dapat dilihatnnya Tuhan di akhirat tidak membawa kepada pengertian diciptakannya Tuhan, karena apa yang di lihat tidak mesti mengandung pengertian bahwa ia mesti di ciptakan. Dengan demikian, jika dikatakan Tuhan dapat di lihat, itu tidak mesti bahwa Tuhan harus bersifat diciptakan.[6]

5.       Kedudukan Al-Qur’an
Berbeda dengan pendapat Mu’tazilah yang mengatakaan Al-Qur’an itu di ciptakan, Asy’ariah justru berpendapat bahwa Al-Qur,an sebagai manifestasi kalam Allah yang qadim,tidak di ciptakan (qadim). Menurut Asy’arah, jika Al-Qur’an diciptakan, di perlukan kata kun, dan untuk terciptannya kun diperlukan pula kun yang lain, dan seterusnnya hingga tidak ada habis-habisnnya.[7] Dengan demikian, Al-Qur’an tidak mungkin di ciptakan [baru].Yang baru itu Al-Qur’an yang berupa huruf dan suara sebagai yang di tulis dalam mushaf.


6.       Pemakaian Akal
Dalam pemakaian akal, Al-Asy’ari ingin menggunakannya secara seimbang dengan wahyu, tidak berlebihan seperti halnya Mu’tazillah. Namun, tampaknya ia memprioritaskan wahyu ketimbang akal
Dalam mengomentari empat masalah di atas –mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan, mengetahui baik dan jahat –hanya satu yang dapat di ketahui akal, yaitu mengetahui Tuhan. Tiga lainnya hanya dapat di ketahui melalui informasi wahyu.


[1] Teologi tradissional adalah paham yang terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mempunyai arti zhanni, yaitu ayat-ayat yang boleh mengandung arti lain dan pengertian tekstual yang terkandung didlamnya. Teologi ini juga banyak berpegang kepada wahyu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, tidak heran jika penganut paham ini sukar mengikuti perubahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat modern.
[2] Ahmad Amin, Zhur Al-Islam(Kairo: Dar Al-Nahdhah, 1965), hlm. 65
[3] Untuk jelasnya lihat Ahmad Mahmud Subhi, op.cit., hlm 182
[4] Harun Nasution, Teologi Islam (Cet, ke-5; Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 69.
[5] Ibid., hlm. 70.
[6] Ibid., hlm. 69
[7] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar