Laman

AL-ASY'ARIYYAH : KEMUNCULAN PERTUMBUHAN DAN METODOLOGI PEMIKIRAN .

Dualisme metodologi  Al-Asy’ari.


Beberapa pengkaji teologi menilai bahwa, oleh karena Imam Al-Asy’ari tidak mampu bertahan pada metodologi Salaf, olehnya itu ia beralih kepada metodologi baru yang berbeda dengan
metodologi yang ia kembangkan sebelumnya. Dengan demikian ia telah menempuh dua metodologi pemikiran, [1] yaitu; metodologi pemikiran yang mendekati Salaf dan metodologi pemikiran yang mendekati Muktazilah.


Adapun metodologi pemikirannya yang dianggap mendekati metodologi salaf,  ia tempuh sebagai konsekwensi logis dari kondisi objektif yang ia alami ketika ia sangat membenci aliran Muktazilah karena terlalu melampau dalam menggunakan akal. Metodologi berfikir semacam ini dituangkan dalam karyanya “al-Iba>nah”. Menurut sejarah, karya ini ditulisnya tidak lama setelah ia beralih dari aliran Muktazilah. al-Iba>nah memuat sikap dan pandangan Al-Asy’ari yang jelas mengenai posisi nas yang lebih tinggi dibanding dengan posisi akal.

Adapun metodologinya yang dianggap mendekati metodologi berfikir Muktazilah adalah sebagai konsekwensi dari perkembangan pemikirannya setelah ia mampu mengembalikan keseimbangan dan setelah apa yang ia khawatirkan dari aliran Muktazilah sirna dari alam fikirannya. Metodologi berfikir seperti ini dirumuskan dalam karyanya ‘al-Luma’ , karya yang ia tulis setelah ‘al-Iba>nah’.

Dalam buku al-Luma Al-Asy’ari memposisikan akal setara dengan nas, berbeda dengan sikapnya pada al-Iba>nah sebelumnya yang menjadikan posisi nas} diatas akal. Bahkan dalam buku al-Luma ketika ia mendiskusikan masalah-masalah teologi, ia memposisikan akal sedikit lebih tinggi daripada posisi nas.

Salah satu argumen yang dikemukakan para pengkaji ini adalah kondisi real dua karya monumental yang ditulis Imam Al-Asy’ari. Mereka mengatakan bahwa dalam buku pertamanya al-Iba>nah, Al-Asy’ari memberi apresiasi dan pujian terhadap metodologi Imam Ahmad bin Hanbal. Namun, kondisi itu tidak lagi kita temukan dalam karya keduanya al-Luma. Malahan yang kita dapatkan adalah kritikan Al-Asy’ari terhadap metodologi berfikir yang dianut para pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, bahkan ia menyatakan bahwa metodologi itu tidak layak untuk membangun kaedah-kaedah akidah yang benar.[2]

Oleh karena itu, berikut ini, dikemukakan perbedaan alasan para pengkaji tentang sistem pemikiran Al-Asy’ari :

Pertama, sebagian hanya menjadikan al-Iba>nah sebagai karya untuk menentukan metodologi pemikiran Al-Asy’ari. Akibatnya, mereka menyatakan bahwa Al-Asy’ari sesungguhnya mengadopsi metodologi pemikiran Salaf. Berdasarkan kesimpulan ini, mereka kemudian beranggapan bahwa para pengikut Al-Asy’ari yang datang selepasnya, melanggar atau menyalahi metodologi berfikir Al-Asy’ari, karena mereka cenderung memberikan kedudukan yang lebih besar kepada akal.[3]

Kedua, dalam bukunya yang pertama, Al-Asy’ari menetapkan sifat-sifat khabariyyah dengan gaya Hana>bilah yaitu tanpa menentukan bentuk sifat itu. Ketika ia menetapkan sifat-sifat khabariyyah pada karyanya yang kedua, ditemukan ada perbedaan, karena ia menetapkan sifat-sifat khabariyyah dengan gaya Muktazilah yaitu dengan mentakwilkan teks-teks wahyu yang berkaitan dengan sifat-sifat tersebut. [4]

Ketiga, ada juga yang berpendapat bahwa sesungguhnya rahasia kesuksesan Al-Asy’ari bukan karena ia memiliki rasionalitas yang tinggi, tetapi disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti; posisi keluarganya di mata komunitasnya, corak spritualnya, kemampuan debatnya, dan kebencian orang pada aliran Muktazilah, begitu juga kerinduan umat saat itu akan munculnya seorang sosok figur yang mampu berdebat dengan premis-premis logik dan dalil-dalil yang kuat. [5]

Keempat, ada juga sekelompok pengkaji yang hanya merujuk kepada karyanya ‘al-Luma’ dalam rangka  menentukan corak dan metodologi pemikiran Al-Asy’ari. Menurut mereka, al-Luma inilah yang menyingkap realitas perkembangan terakhir pemikiran Al-Asy’ari. Oleh karena itu, kelompok ini tidak melihat adanya perbedaan pandangan antara metodologi pemikiran yang dikembangkan oleh penganut al-Asy’ariyyah dengan metodologi pemikiran Imam al-Asy’ari sendiri.

Namun demikian, berdasarkan kajian yang telah dilakukan, ternyata bahwa apa yang mereka asumsikan itu tidak tepat dengan alasan bahwa pada hakikatnya sikap ilmiah Al-Asy’ari dalam dua karyanya itu tidak ada perbedaan. Ia benar ketika misalnya menyatakan dalam al-Iba>nah bahwa ia berafiliasi kepada Imam Ahmad ibn Hanbal, dan pernyataan ini tidak dikeruhkan oleh kritikannya kepada pengikut Hana>bilah, karena Al-Asy’ari sebenarnya hanya mengkritik sebagian pengikut Hana>bilah yang tidak komitmen dengan metodologi pemikiran Imam Ahmad, bahkan – menurut penilaian Al-Asy’ari -- telah sampai pada posisi tasybih sehingga mereka dianggap telah keluar daripada rel yang telah digariskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal[6].

Dari sinilah kita dapat memahami kemarahan pengikut Hana>bilah kepada Al-Asy’ari, yaitu hanya karena Al-Asy’ari menyalahi sikap mereka yang berlebihan dalam mengikuti makna-makna literal nas. Itu pulalah sebabnya, Hammu>udah Ghura>bah menegaskan, bahwa; “Kalangan pengkaji yang hanya berlandaskan pada karya al-Iba>nah untuk menentukan metodologi pemikiran Al-Asy’ari adalah sebuah kesalahan, karena antara al-Iba>nah dan al-Luma merupakan  metodologi pemikiran yang utuh dan lengkap bagi Al-Asy’ari. [7] Dalam konteks ini Ahmad Jali> menyatakan bahwa: “Kalau kita membaca karya-karya al-’Asy’ari, maka sangat jelas kita dapati bahwa beliau sesungguhnya sangat komitmen di dalam metodologi berfikirnya, khususnya apabila kita  memperhatikan tatkala ia menguraikan masalah-masalah teologi”.[8]

Argumen Ahmad Jali> di atas memang beralasan,  sebab apabila kita perhatikan secara mendalam karya-karya Al-Asy’ari, walaupun ada ditemukan perbedaan-perbedaan   daripada karya-karya itu, terutamanya dari segi penegasannya, namun yang dapat disimpulkan dari karya-karya itu adalah kesamaan prinsip metodologi dalam menolak dan menentang pendapat-pendapat Muktazilah.

Selain itu, mengikut al-Jali>, kesemua karya tersebut memberi penegasan atas perlunya nas al-Qur’an, hadis Nabi serta argumen rasional bagi mengukuhkan keyakinan-keyakinan akidah. Karya al-Luma misalnya, secara khas dirancang untuk menentang Muktazilah. Oleh itu, fokus kajian Al-Asy’ari dalam karyanya ini hanyalah masalah-masalah yang menjadi bahasan sentral Muktazilah. Dalam karyanya ini, Al-Asy’ari sama sekali tidak menyentuh masalah-masalah al-gaybiyya>t. [9]

Senada dengan pendapat al-Jali> diatas, Fawqiyyah menegaskan bahwa, Al-Asy’ari dalam al-Luma, menggunakan metodologi berfikir yang mendekati metodologi Muktazilah, yaitu sebuah paradigma berfikir yang menggunakan premis-premis dan isu-isu logik. Bahkan dilain pihak, ia membela penggunaan argumen logik, kemudian menghadirkan berbagai argumen yang melegitimasi penggunaanya dalam kajian-kajian akidah. Diantaranya, Al-Asy’ari mengatakan bahwa dalil al-Quran yang menunjukkan penciptaan kembali yang ditunjuk oleh ayat وضرب لنا مثلا ونسي خلقه[10] menunjukkan legitimasi penggunaan akal. Dalam ayat ini Allah menggunakan pendekatan analogi, salah satu bentuk pendekatan logik. [11]

Dalam beberapa kesempatan dalam al-Luma’, Al-Asy’ari menegaskan bahwa ayat-ayat al-Qur’an tidak mungkin bertolak belakang, karena itu, ketika membahas atau mengkaji persoalan-persoalan tertentu, bagi al-’Asy’ari mempartimbangkan semua ayat-ayat yang berkaitan dengan persoalan itu, adalah sebuah kemestian. Hal inilah yang sering dilupakan oleh para pakar teologi yang lain, karena kadangkala mereka hanya mempertimbangkan ayat-ayat yang boleh mendukung pendapatnya. [12]

Selain itu, dalam al-Luma’ Al-Asy’ari melegalkan penggunaan ta’wil dengan ketentuan memperhatikan makna-makna zahir ayat, dan tidak boleh beralih dari makna hakikat ke makna maja>zi tanpa ada dalil atau dibarengi dengan argumen yang kuat (hujjah).[13] Namun Al-Asy’ari melakukan hal yang berbeda dalam karyanya al-Iba>nah. Di dalamnya ia justru menyatakan afiliasinya ke salaf. Al-Asy’ari menegaskan perlunya metodologi Salaf ini, karena menurutnya, penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam akidah harus diakui sebagai akibat dari penakwilan nas-nas al-Quran yang tidak bertanggung jawab.[14]

Namun yang perlu dipertegas disini adalah bahwa meskipun al-Asy’ari dalam bukunya al-Iba>nah memakai ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis-Hadis Rasulullah, tapi ia tidak tekstual, karena ternyata ia juga melakukan argumen-argumen logik yang terproduksi dari ayat-ayat itu. Ia menjelaskan dengan kepiawaiannya bagaimana sebuah ayat tertentu mendukung atau menguatkan pendapatnya, dan ia mematahkan pendapat lawan debatnya yang justeru juga terambil dari ayat yang sama. Ini boleh kita lihat dengan jelas pada argumen Al-Asy’ari menyangkut masalah ru’yatullah, di antara dalil-dalil yang dikemukakan Al-Asy’ari,  tiga diantaranya adalah dalil aqli. Salah satu diantara dalil itu ia meyakini adanya keterkaitan antara adanya sesuatu dengan kemungkinan melihatnya. Menurut  Al-Asy’ari, setiap sesuatu yang ada, ia boleh dilihat. Al-Asy’ari menyatakan sebagai berikut: “diantara bukti bolehnya melihat Allah dengan mata kepala adalah bahwa tidak ada sesuatu zat yang ada kecuali Allah dapat memperlihatkannya. Maka, ketika Allah merupakan sesuatu zat yang ada, maka Allah boleh saja memperlihatkan dirinya kepada kita”. [15]

Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa Al-Asy’ari telah konsisten di semua karya-karyanya yang ia tulis.  Perbedaan yang ada dalam semua karyanya itu, hanyalah terletak pada sisi penegasan metodologi saja. Metodologi itu tidak lain adalah metodologi yang berbasis pada al-Quran dan al-Hadis dengan beberapa modifikasi penafsiran  dan penakwilannya. Kemudian ia membangun argumen-argumen logik dari ayat-ayat itu yang diproduk dari indikasi-indikasi pemahaman teks yang benar. Dalam konteks ini, Hammu>dah Ghura>bah menyatakan: “Saya sesungguhnya tidak menemukan perbedaan gambaran yang saya dapatkan di al-Iba>nah dengan gambaran yang saya dapatkan di al-Luma’. [16]




[1] al-Asy’ari, al-Luma h. 5. al-Sayyid Jalayand, al-Imam Ibn Taymiyyah, h. 99.  
[2] Fawqiyyah, Muqaddimat tahqiq al-ibanah, h. 8, Ghurabah;  Muqaddimat al-luma’, h.4-5.
[3] Ghurabah, h.3-4.
[4] Imam Abu Zahrah, Tarikh al-madhahib, h. 169-170, Jalayand, Imam ibn Taymiyyah, h. 99.
[5] Ibid.
[6] Hamudah Gurabah, al-Asy’ari, h. 75-76.
[7] Hamudah Ghurabah, Muqaddimat tahqiq al-luma, h. 5-6.
[8] Ahmad Jali, al-Mutakallimun wa al-radd alayhim, Vol. I h. 27.
[9] Ibid, 28.
[10] Al-Qur’an Surah Yasin : 78.
[11] al-Asy’ari, al-Luma, h. 22,23,24.
[12] Ahmad Jali, al-Mutakallimun, h. 29.
[13] Ibid.
[14] al-Asy’ari, al-Ibanah, h. 15.
[15] al-Asy’ari, al-Ibanah, h. 24-26
[16] Hammudah Ghurabah, Muqaddimat tahqiq al-Luma, h. 8-9.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar