Laman

SAYYID HOSSEIN NASR

Ada keinginan untuk kembai pada nilai eksistensi semakin mendesak bagi manusia Barat. Hal ini dikarenakan, dunia ilusi yang mereka ciptakan untuk melupakan dimensi transenden kehidupan mereka yang hilang, mulai menunjukan watak yang sesungguhnya. Sehingga segala respon yang terjadi bersumber dari
tradisi-tradisi suci (agama) yang otentik.[1] Terbukti bahwa pada saat ini di Barat, sebagian besar perhatian tertuju kepada metafisika dan spritualitas Timur. Orang-orang Eropa maupun di Amerika rajin mencari buku-buku petunjuk, syair-syair atau musik-musik yang berhubungan dengan sufisme. Dalam hal ini, ada sebuah pernyataan dari Barat yang menyebut Timur sebagai “negeri pagi”, negeri “matahari terbit”. Karena itu para penulis Barat ketika menceritakan pertemuan mereka dengan Timur, menyebut dunia secara romantis: Morgenlande.[2]
Sayyed Hossein Nasr memberikan pandangan bahwa krisis eksistensial atau pun spritual yang dialami oleh manusia adalah bermula dari pemberontakan manusia modern kepada Tuhan yaitu ketika manusia meninggalkan Tuhan demi mengukuhkan eksistensi dirinya. Manusia telah bergerak dari pusat eksistensinya sendiri menuju wilayah pinggiran eksistensi.[3] Sehingga menurut Nasr, manusia modern semakin lama semakin jauh dari pusat eksistensinya, yaitu manusia sebagai “Citra Tuhan” di pusat dunia.
Fenomena ini, tidak saja dialami oleh dunia Barat tapi juga di dunia Timur secara umum dan dunia Islam secara khususnya juga melakukan kesalahan-kesalahan dengan mengulangi apa yang telah dilakukan Barat, yaitu menciptakan masyarakat kota industri dan peradaban modern yang lupa akan tradisi dan pesan-pesan suci dari Timur. Mereka tenggelam dalam masyarakat konsumtif.[4]
Masyarakat Islam selalu melahirkan tokoh-tokoh intelektual dan ulama yang senantiasa membawa obor di tengah kegelapan intelektual umat. Salah satu di antara ulama dan tokoh yang membawa obor tersebut adalah Sayyid Hossein Nasr.


[1]Sayyed Hussein Nasr, Islam and the Plight of Modern Man (Chicago: Published by ABC International Group, inc, 1975), h. 71.
[2]Murtadha Muthahari, Perfect Man, Terj. M. Hashem, Manusia Sempurna: Pandangan Islam tentang Hakikat Manusia, Ed. Rev (Cet. 2; Jakarta: Lentera, 2003), h. 9
[3]Sayyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spritual Crisis of Modern Man (London: Mandala Books, 1976), h. 63.
[4]Sayyed Hossein Nasr, Islam dan Nestapa Modern (Bandung: Penerbit Pustaka, 1983), h. 20.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar