Laman

BIOGRAFI SAYYID HOSSEIN NASR

Sayyid Hossein Nasr adalah seorang filosof, filosof ilmu pengetahuan, teolog, sufistik dan tradisionalis berkembangsaan Iran. Ia juga merupakan penulis dan salah satu pemuka yang paling menonjol di Barat mengenai pemahaman Islam
tradisional. Ia lahir di Teheran pada 7 April 1933.[1] Ayahnya seorang dokter dan pendidik dan ulama terkenal di Iran pada masa Dinasti Qajar bernama Sayyed Valiullah Nasr. Nasr pergi ke Amerika Serikat untuk masuk perguruan tinggi. Pada 1954 menerima gelar B.S dari Massachusetts Institute of Technology dan meneruskan ke Harvard untuk bekerja di bidang geologi dan fisika. Namun, minatnya yang tak pernah usai pada disiplin tradisional akhirnya berganti bidang menjadi filsafat dan sejarah ilmu pengetahuan. Ia menerima gelar doktor pada 1958. Pendidikan klasik Nasr yang luas mencakup sejarah dunia Timur dan Barat, filsafat dan ilmu sosial, sejarah, teologi kontemporer muslim dan Kristen, perkembangan mistik Islam, spritualitas, seni dan budaya.
Pada 1958, Nasr kembali ke Iran untuk mengajar di Universitas Teheran. Kemudian meneruskan pendidikannya bersama beberapa ulama terdepan Iran. Pada revolusi Iran 1979, ia menjabat Direktur Akademi Filsafat Iran. Sejak meninggalkan Iran setelah jatuhnya Syah, ia tetap menjadi pendukung Islam Shafawiyah sebagai wakil dari intisari dan pemikiran Islam, khususnya Syi’ah yang benar. Pada tahun 1990-an, ia menjadi guru besar kajian Islam di George Washingtonton University di Washington, D.C.[2]
Semasa belajar di Barat Sayyid Hossein Nasr bertemu dengan banyak pemikir Barat yang mengkaji Islam dari berbagai macam perspektif. Selain belajar tentang ilmu sains dan Barat, Nasr juga tertarik kembali mempelajari ilmu-ilmu metafisika, khususnya metafisika Timur yang banyak ia temukan di perpustakaan Barat. Ketertarikannya terhadap disiplin keilmuan ini tidak lepas dari latar belakang kehidupannya sebagai seorang Iran yang kental dengan budaya mistik kesufian dan didukung oleh pengetahuan mistis dari ajaran Syi’ah.
Pemikiran yang sangat mempengaruhi Nasr adalah pandangan filsafat perennial, di antara para tokohnya yang berpengaruh atasnya adalah Frithjof Schoun.[3] Seorang perenialis sebagai peletak dasar pemahaman eksoterik dan esoterik Islam. Nasr sangat memuji karya Schoun yang berjudul Islam and Perennial Philosophy. Sehingga Nasr memberikan gelar padanya sebagai My Master. Salah satu tokoh yang juga banyak mempengaruhi Nasr adalah Rene Guenon, merupakan salah satu tokoh yang mempengaruhi orientasi tradisionalisme Nasr, khususnya peletak pandangan metafisis hermetisme, sebagai bagian yang penting dalam kerangka besar pemikiran perennial.
Sayyid Hossein Nasr[4] dengan bekal keilmuannya yang luar biasa dan keberadaannya sering dibutuhkan di forum-forum ilmiah internasional. Sering membawa ceramah bukan hanya di kota-kota; Eropa, Amerika, Timur Tengah Asia (tentu saja Indonesia). Ada pun karya-karyanya lebih dua puluh buku yang ditulis dalam bahasa Eropa, terutama Inggris dan Perancis. Beberapa karya yang penting, antara lain Knolodge and the Sacred, Living Sufism, the Transcendent Theosopy of Sadral Din Shirazi, Islamic Life and Thought, Science and Civilization in Islam, Sufi Essay, dalam World Spirituality (Teology,Pphilosophy and Spirituality, Three Muslim Safes), dan yang lainnya.[5]
Dari sejumlah buku yang diketahui, nampaknya Nasr mempunyai komitmen yang kuat tentang nilai-nilai keislaman yang ditransformasikan ke dalam semua dimensi kehidupan umatnya. Begitu juga tentang pengenalannya terhadap Barat telah membuat suatu sintesa atas peradaban Barat dengan Islam. Nilai-nilai itulah yang muncul ke permukaan sebagai wacana pemikirannya.


[1]John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World, Terj. Eva, Femmy S., Jarot W., Poerwanto, Ropiks, Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, Jilid 4 (Cet. 2; Bandung: Mizan, 2002), h. 159.
[2]Ibid.
[4]Perves Hoodbhoy, Islam and Sciense, Relegious Orthodoxy and the Battle for Rationality, Terj. Sari Meutia, Ikhtiar Menegakkan Rasionalitas: Antara Sains dan Ortodoksi Islam (Cet. I; Bandung: Mizan, 1996), h. 126.
[5]Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Islam, Ed. I (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), h. 280-281.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar