Laman

Pandangan Essensialisme, Eksistensialisme, Perennialisme, dan Pragmatisme.

Eksistensialisme

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang fahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan
mana yang tidak benar. Eksistensialisme juga merupakan filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi yang pandangannya relatif modern, walaupun akar-akar historis sudah ada dalam filsafat Yunani dan filsafat abad pertengahan dan pandangan yang menyatakan bahwa eksistensi bukanlah obyek dari berfikir abstrak atau pengalaman kognitif (akal pikiran), tetapi merupakan eksisitensi atau pengalaman langsung, bersifat pribadi atau dalam batin individu. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksisitensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relative, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.

Eksistensialisme  adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat barat. Eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan lewat kebebasan.
Eksistensialisme  merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada didunia. Cara berada manusia berbeda dengan cara beradanya benda-benda materi. Keberadaan benda-benda materi berdasarkan ketidak sadaran akan dirinya sendiri, dan juga tidak terdapat komunikasi  antara satu dengan lainnya. Tidak demikian halnya dengan beradanya manusia. Manusia  berada bersama dengan manusia lainnya sama sederajat. Benda-benda materi akan bermakna karena manusia.[1]


[1] Uyoh Sadulloh, pengantar filsafat pendidikan, alfabeta,cv Bandung.2009, hal.135.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar