Laman

BIOGRAFI NURCHALISH MADJID

Nurcholish Madjid yang akrab disapa dengan panggilan Cak Nur lahir di Majoagung Jombang, 17 Maret 1939 M/26 Muharram 1358 H. Ia dalam keluarganya termasuk orang tang taat beragama. Ayahnya bernama Abdul Madjid seorang pembela MASYUMI yang gigih. Pada awalnya Nurcholish disekolahkan pada Madrasah Aliyah milik keluarganya. Selain itu, ia juga masuk pada sekolah (RS) yang terletak di kampung halamannya. Setelah itu ia dimasukkan ke Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso Jombang, namun hanya bertahan selama dua tahun. Selanjutnya ia melanjutkan pendidikan ke Kulliyah Muallimin Islamiyah (KMI) di Pesantren Daru al-Salam, Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur hingga tamat pada tahun 1960.[1]
Nurchalis Madjid memperoleh pendidikan tingginya di Fakultas Adab (Sastra Arab dan Kebudayaan Islam), Jurusan Bahasa dan Sastra Arab IAIN Syarif Hidayatulllah Jakarta, dan berhasil meraih gelar sarjana pada tahun 1968. Pada tahun 1978, ia mengikuti tugas belajar di Universitas Chicago Amerika serikat dan mendapat gelar doktor dalam bidang kalam dan filsafat pada tahun 1989.[2]
Sejak mahasiswa, Nurcholish Madjid sangat aktif di berbagai organisasi, baik ekstra maupun intra kampus. Di ekstra kampus ia aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dari aspek pengkaderan pada organisasi HMI ini, sebagai mahasiswa yang peka terhadap perubahan, ia melihat dengan tujuan bahwa terdapat kekurangan dalam sistem pengkaderan, yaitu segi materi keislaman, pada saat itu yang sangat menggelitik adalah idenya tentang Islam dan sosialisme.[3]
Akumulasi pengalaman ditambah pergolakan pemikiran yang dialaminya, akhirnya melahirkan konsep Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dalam organisasi yang ia geluti saat itu yakni HMI, konsep itu kemudian disahkan dalam Kongres HMI tahun 1969 di Malang. Sekaligus membuatnya terpilih kembali sebagai ketua umum PB HMI untuk kedua kalinya.
Pada tahun 70-an merupakan masa-masa permulaan pembentukan intelektualnya, kemudian dimatangkan dalam tulisannya diberbagai media, misalnya Pers Bangsa, Tribun dan Mimbar. Beberapa tulisan itu juga mencerminkan komitmen sosialnya atas kaum dhu’afa. Di samping itu, Nurcholish menanggapi isu demokrasi, keadilan, kebebasan, dan lainnya. Yang pada intinya adalah tentang manusia dan persamaan derajat dalam perpektif Islam yang hanif.
Nurchalish Madjid bersama dengan rekan-rekannya mendirikan Yayasan Paramadina sebagai wadah pengembangan kesadaran hidup beragama Islam yang insklusif. Dan pengembangan hidup beragama serta penampilan yang bersifat kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat beragama dan insklusif, dinamis dan bertanggunga jawab.[4]


[1]Dewan Redaksi Inseklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Cet. I; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993), h. 104.
[2]Ibid.,
[3]Ibid.,
[4]Amir Aziz, Neo Modernisme Islam di Indonesia: Gagasan Sentral Nurcholish Madjid dan K. H. Abdurrahman Wahid, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 29.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar