Laman

CORAK PEMIKIRAN ALI SYARIATI


Memahami pemikiran Ali Syariati terkait dengan berbagai macam hal dan diskursus keilmuan, tentu bukan merupakan hal yang mudah, mengingat posisinya yang begitu getol dalam
menanggapi segala hal yang dihadapi, bisa dikata bahwa Syariati adalah salah satu tokoh yang melahirkan berbagai macam diskurus kewacanaan terkait dengan kompleksnya kehidupan. Tulisan ini hanya fokus mengurai secara singkat nuansa keilmuan Syariati terkait dengan tiga hal, yaitu :
1.     Pandangan Dunia
Hampir semua peradaban umat manusia dipastikan mempunyai worldview. Bangsa Jerman misalnya, mempunyai konsep worldview dengan istilah weltanschauung. Kata welt berarti dunia, sedangkan kata anschauung berarti persepsi. Jadi weltanschauung adalah persepsi tentang dunia. Sedangkan bangsa Rusia menggambarkan pandangan tentang dunia dengan istilah mirovozzenie.
Worldview pada umumnya diikat dengan predikat kultural, religius atau saintifik. Dari sini kemudian muncul istilah Christian worldview, medieval worldview, scientific worldview, modern worldview dan the worldview of Islam. Yang terpenting dari worldview adalah dari mana bermula?. Thomas Kuhn (1922-1996) menggunakan worldview sebagai paradigma yang menjadikan nilai sebagai tolok ukur (standard) dan metode tertentu yang mengikat kerja-kerja saintifik. Dan menurut Syariati bahwa Alquran adalah sumber inspirasi untuk membangun worldview yang darinya semestinya berbagai disiplin ilmu lahir.[1]
Gagasan apapun yang lahir dari seseorang pasti dipengaruhi oleh mazhab pemikiran yang ia anut. Jika seseorang percaya pada mazhab pemikiran tertentu, maka kepercayaan, emosi, jalan hidup, aliran politik, pandangan-pandangan sosial, konsep-konsep intelektual, keagamaan dan etikanya tidaklah terpisah dengan pandangan dunianya, dan karenanya pula maka mazhab pemikiran pada akhirnya dapat menciptakan gerakan, membangun dan melahirkan kekuatan sosial.[2]
Mazhab pemikiran pada intinya harus memiliki sistem penopang dasar, dimana darinya semua gagasan dapat berkembang, penopang dasar tersebutlah yang disebut dengan pandangan tentang dunia (world view); entah itu berorientasi ketuhanan, bercorak materialistik, naturalistis, idealistis, fasis, Marxis, dan sebagainya. Seseorang yang tidak memiliki pandangan tentang dunia ibarat seseorang yang mempunyai banyak perabot rumah tangga; ia terus-menerus memindahkannya dari satu rumah ke rumah lain tanpa tertata dengan baik. Bagi Ali Syari’ati, lebih baik seseorang tidak mempunyai bahan ketimbang tidak mempunyai rancangan.
Pandangan tentang dunia kata Syariati adalah pemahaman yang dimiliki seseorang tentang wujud atau eksistensi. Misalnya, seseorang yang menyakini bahwa dunia ini mempunyai Pencipta Yang Sadar dan mempunyai kekuatan atau kehendak, dan bahwa dari catatan dan rekaman akurat yang disimpan, ia akan menerima ganjaran atas amal perbuatannya atau dia akan dihukum lantaran amal perbuatannya itu, maka ia adalah orang yang mempunyai pandangan tentang dunia religius. Berdasarkan pandangan tentang dunia inilah seseorang lalu mengatakan: ”Jalan hidupku mesti begini dan begitu dan aku mesti mengerjakan ini dan itu”, inilah makna memiliki ideologi agama. Dengan demikian, idealism Hegel, materialisme dialektik Marx, eksistensialisme Heiddeger, Taoisme Lao Tsu, wihdatul wujud al-Hallaj, semuanya adalah pandangan tentang dunia. Setiap pandangan tentang dunia ataupun mazhab pemikiran pasti akan memperbincangkan konsep manusia sebagai konsep sentral.[3]
Pandangan tentang dunia seseorang dipengaruhi oleh aspek-aspek spiritual dan material yang khas dari masyarakatnya. Menurut Henry Bergson, dunia yang dipandang oleh seorang individu yang hidup dalam suatu masyarakat tertutup merupakan suatu dunia yang terkungkung. Begitu juga sebaliknya, seorang individu yang hidup dalam masyarakat yang terbuka memandang dunia luar sebagai sesuatu yang tidak terbatas, ekspansif dan senantiasa bergerak. Masyarakat dan agama selalu menentukan visi manusia tentang dunia yang kemudian mempengaruhi tindakan-tindakannya. Oleh karena itu, membahas pandangan tentang dunia pada hakikatnya membahas tentang manusia sebagai subjek. Karena pandangan tentang dunia mempengaruhi seseorang dalam mengambil pilihan tindakannya, maka mempelajari pandangan hidup suatu komunitas sosial atau bangsa berarti mempelajari tipe-tipe dari bentuk-bentuk dan pola kebudayaan serta berbagai karakteristik yang dikembangkan oleh komunitas atau bangsa tersebut.[4]
Salah satu pandangan tentang dunia yang berkembang adalah paham materialisme yang menyatakan bahwa hanya ada satu realitas fundamental di alam semesta ini yaitu materi. Dalam pandangan materialisme, semua elemen, fenomena, aksi serta reaksi di alam ini dapat diterangkan sebagai manifestasi materi. Materialisme juga menyatakan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan oleh suatu kemauan atau kekuatan yang cerdas, demikian juga tidak ada alasan yang mendasari penciptaan sejak awal mulanya. Dengan demikian, pandangan materialisme telah melahirkan manusia dalam posisi teraleniasi dari dunia yang melingkupinya.[5]
Gerakan Renaissance di Barat pada hakikatnya telah melahirkan, bahkan memperkuat, pandangan materialistik yang berujung pada pencarian kenikmatan hidup (hedonisme) yang muara akhirnya adalah menciptakan absurdisme yang merasuki seluruh bidang ilmu seperti seni, sastra dan filsafat. Kalau pandangan tentang dunia religius ortodoks akan melahirkan cara pandang yang serba keakhiratan dan  pengkerdilan peran manusia, maka pandangan materialistik hanya mendasarkan semata-mata pada ilmu. Pandangan tentang dunia materialistik menemukan alam semesta sebagai absurd, tanpa pemilik dan tanpa makna, sedangkan pandangan hidup religius ekstrim memerosotkan manusia menjadi makhluk yang sepele.[6]
Di tengah dominasi pandangan tentang dunia yang materialistik sekarang ini, Ali Syari’ati menegaskan dirinya pada pilihan pandangan dunia religius. Jenis pandangan dunia ini yakin bahwa jagat raya adalah sesuatu yang datang dari Tuhan, sadar dan responsif terhadap tuntutan-tuntutan spiritual serta aspirasi manusia. Hanya saja, kerangka dasar pandangan dunia yang bersifat religius yang dimaksud adalah cara pandang yang berbasis pada hasil riset ilmiah yang bersifat saintifik bukan bentuk yang ortodoks atau ekstrim. Ali Syari’ati mengambil pilihan pandangan hidup sintetik di antara kutub ekstrim di atas yaitu pandangan hidup religius humanistik yang mensublimasi unsur manusia sebagai makhluk yang progresif, selalu mencari kesempurnaan dan sangat manusiawi.[7]
Kritik Ali Syari’ati terhadap Barat adalah karena cara pandang mereka yang positivistik dimana melalui proyek sekularisasi ilmu pengetahuan dipisahkan dari konteks kemanusiaan.[8] Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi justru melahirkan alienasi manusia dari nilai kemanusiaannya sendiri.
Peranan kesejarahan manusia dalam menjalani hidup di dunia ini kata Syariati adalah bergerak pada dua kutub yang saling berhadapan. Kutub pertama merupakan kutub negatif yang diwakili oleh mereka yang menghambat kemajuan dengan melakukan kejahatan-kejahatan, dekadensi, penindasan, memperbudak, menegakkan tirani atas rakyat, dan sebagainya. Kutub kedua adalah kutub positif kemanusiaan yang menentang tirani dan ketidakadilan demi tegaknya perdamaian, keadilan dan persaudaraan. Kedua kutub tersebut selalu berebut ruang dominasi dalam mengisi ruang sejarah umat manusia.[9]
Senjata dari kedua kutub tersebut adalah agama, dengan demikian yang terjadi adalah perang agama melawan agama[10] Ilustrasi yang menarik antara pertarungan dua kutub itu dapat dilihat dari narasi historis pertarungan antara Qabil dan Habil dalam al-Qur’an yang berakhir terbunuhnya Habil di tangan Qabil yang mengandung arti Simbolik tentang sejarah awal umat manusia. Dalam kitab-kitab suci dunia dijelaskan betapa kelas Qabil menjadi kelas dominan yang sifatnya kejam dan selalu berusaha menentukan nasib sejarah manusia sesuai dengan keinginannya yang disimbolisasikan dengan tiga wajah, yaitu emas, kekuasaan dan agama. Di dalam al-Qur’an dan Taurat, tiga wajah tersebut masing-masing diwakili oleh Firaun yang mensimbolisasikan kekuasaan, Qarun yang mensimbolisasikan kekayaan dan kekuatan ekonomi, dan Balam Bauri yang mensimbolisasikan kelas pendeta penguasa. Mereka merupakan manifestasi tiga segi dari satu Qabil.
Kelas Qabil melestarikan kekuasaannya atas massa sepanjang zaman. Kelas ini memonopoli kekayaan dengan memeras massa, memegang kekuasaan dalam bentuk pemerintahan dan berbagai institusi untuk mendominasi massa, serta menyalahgunakan agama untuk membenarkan legitimasinya sebagai penguasa. Dari narasi sejarah Qabil dan Habil telah lahir dualisme kelas, yaitu kelas penguasa dan kelas yang dikuasai meskipun mereka berawal dari unitas kemanusiaan Adam yang kemudian melahirkan dualisme sistem sosial yang berbeda.
Dalam pertarungan antara dualisme kosmik ini, agama menjadi faktor determinan dalam menanamkan kekuatan yang suci, lestari untuk membangun sikap keberagamaan yang penuh harmoni. Cerita Habil dan Qabil yang melahirkan dualisme kelas dijadikan oleh Ali Syari’ati sebagai cara baca dalam melihat kecenderungan manusia modern yang hakikatnya menjelma dalam pertarungan antara kelas feodal dengan kelas borjuis. Pada Abad Pertengahan, feodalisme merupakan kelas dominan yang merupakan infrastruktur masyarakat, sedangkan suprastrukturnya adalah agama yang berfungsi sebagai legitimasi. Namun kekuasaan kelas feodalisme tergeser dengan lahirnya kelas borjuis baru yang lahir sebagai akibat kontak hubungan perdagangan antara Timur dan Barat.
Kontak ini telah meruntuhkan tatanan nilai pedesaan, monastik, mistik dan kepausan dan menggantinya dengan tradisi industrial, urban, sekuler, intelektual dan nasional. Borjuasi baru sebagai kelas penguasa telah meletakkan prinsip-prinsip dan keyakinan norma moral dan kultural di atas individualisme, materialisme dan liberalisasi ekonomi serta politik. Sampai sekarang ini spirit yang mendominasi kebudayaan dan peradaban adalah spirit borjuasi yang melahirkan semangat dehumanisasi.[11]
Ali Syari’ati menawarkan gagasan pandangan tentang dunia religius humanistik untuk memerangi dualisme tersebut sehingga manusia akan menemukan keesaan yang orisinil dalam rangka membangun kesadaran manusia pada misinya sebagai wakil atau khalifah Tuhan di muka bumi. Menurutnya, manusia adalah makhluk merdeka dan memiliki potensialitas tanpa batas untuk menentukan nasibnya sendiri dan bukan ditentukan oleh kekuatan eksternal dengan membangun semangat Tauhid.[12]
Ali Syari’ati memahami agama bukan sebagai kumpulan doktrin yang lebih berdimensi ritual saja. Menurutnya, agama adalah sumber lahirnya kesadaran (awareness), landasan etik (morality), tanggungjawab (responsibility) dan kehendak bebas (free will) yang mampu menggerakkan pemeluknya menjadi kekuatan pembebas dari determinasi ideologi-ideologi multitheism yang menindas.
2.     Filsafat Penciptaan Manusia
Masalah manusia adalah hal yang paling penting dari segala masalah. Beberapa pertanyaan pokok diajukan untuk menjelaskan betapa pentingnya masalah seputar kemanusiaan dalam Islam. Apakah manusia makhluk yang lemah dan tidak mempunyai daya di hadapan Penciptanya? Benarkah Islam menginginkan keluhuran martabat manusia? Benarkah keyakinan terhadap Islam itu sendiri akan menyebabkan lemahnya manusia? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang berdimensi filosofis yang perlu diuraikan jawabannya. Ali Syari’ati menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan menguraikan filsafat penciptaan manusia.[13]
Sebelum Allah menciptakan Adam sebagai wakil-Nya di muka bumi, Allah memberitahu kepada para malaikat. Mendengar rencana Allah untuk menciptakan manusia tersebut para malaikat menanggapinya dengan sikap pesimistis, terutama tentang bayang-bayang kerusakan yang akan timbul di muka bumi. Namun pesimisme mereka dijawab langsung oleh Allah dengan mengatakan bahwa Ia lebih mengetahui apa saja yang mereka tidak ketahui.
Menurut Ali Syari’ati Allah menciptakan manusia sebagai wakil-Nya (khalifah) dari bentuk yang
paling rendah, yaitu tanah, dan kemudian ditiupkan ruh kepadanya maka lahirlah manusia. Dengan demikian manusia diciptakan oleh Allah dari dua hakikat yang berbeda, yaitu tanah bumi dan ruh yang suci. Dalam bahasa manusia, tanah (lumpur) adalah symbol dari kerendahan dan kenistaan, dan dalam bahasa manusia juga, Tuhan adalah Dzat Maha sempurna dan Maha suci. Dalam setiap makhluk, bagian yang paling suci adalah spirit atau ruhnya. Oleh karena itu, menurut Ali Syari’ati, manusia adalah makhluk dua dimensional dengan dua arah kecenderungan, yang satu membawanya ke bawah kepada stagnasi sedimenter, ke dalam hakikatnya yang rendah, sementara dimensi lainnya (ruh) cenderung naik ke puncak spiritualnya yaitu ke Dzat yang Maha suci.[14]
Dengan mendasarkan pada asal kejadiannya, manusia merupakan makhluk yang mempunyai dua kutub yang kontradiktif. Akan tetapi kebesaran dan kejayaannya yang unik justru berasal dari kenyataan bahwa ia adalah makhluk yang bersifat dua dimensional. Dua kecenderungan yang dimiliki oleh menusia berebut ruang dominasi pada dirinya karena manusia memiliki kebebasan untuk memilih dua pilihan di antara dua kutub yang kontradiktif tersebut. Setiap pilihan yang diambil manusia sebagai cermin kebebasan yang dimilikinya akan menentukan nasibnya.
Setelah Allah menyelesaikan penciptaan atas manusia, Allah kemudian memberikan pengajaran tentang nama-nama, sebagai simbol gagasan tentang pengajaran dan pendidikan. Pada posisi demikian, Tuhan adalah guru pertama manusia, dan pendidikan pertama manusia bermula dengan menyebutkan nama-nama. Setelah itu Tuhan memerintahkan kepada seluruh malaikat untuk bersujud kepadanya dan bersujudlah para malaikat itu. Fakta inilah yang menurut Ali Syari’ati merupakan arti sebenarnya dari humanisme.[15]
Menurut Ali Syari’ati keutamaan paling menonjol dari manusia adalah kekuatan kemauannya. Ia adalah satu-satunya makhluk yang dapat bertindak melawan dorongan instingnya; sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lain. Kemauan bebas yang dimiliki manusia itulah yang dapat menjadi penghubung kedekatannya dengan Tuhan. Pertemuan kedekatan manusia dengan Tuhan adalah karena manusia lahir dari bagian Ruh Tuhan. Dengan demikian apa yang sama dari manusia dengan Tuhan adalah dimensi ruhnya yang melahirkan konsep kemauan bebas berkehendak dalam keadaan demikian, manusia memerlukan kehadiran agama yang mampu menyeimbangkan dan menyelaraskan dimensi-dimensi yang saling bertentangan yang ada dalam dirinya dan masyarakatnya.[16]
Dengan memperhatikan kerangka berfikir yang dikembangkannya nampak bahwa Ali Syari’ati adalah seorang intelektual dengan jiwa pemberontak yang anti kemapanan (status quo) yang cenderung tiran. Ia sendiri melakukan pemberontakan dengan memberikan gagasan revolusioner untuk membangun kesadaran umat dalam mencapai kualitas hidupnya.
3.     Pergerakan Sosial
Yang dimaksud dengan program praksis adalah langkah-langkah penerapan (program aksi) dari ide, gagasan, pemikiran-pemikiran yang telah dibangun oleh seseorang.[17] Setelah Ali Syari’ati merumuskan gagasannya tentang pandangan tentang dunianya, ia lalu mengajukan pertanyaan dari mana mesti kita mulai? Pertanyaan ini merupakan masalah strategi sosial dan bukan masalah ideologi. Untuk memulai menjawab pertanyaan di atas Ali Syari’ati melihat adanya kesenjangan dan tidak adanya komunikasi intensif antara pemikir-cendekiawan dengan rakyat jelata. Selama ini para cendekiawan menjadi komunitas eksklusif yang hidup di sangkar emas dan di menara gading tanpa bisa memahami keadaan rakyat mereka. Ali Syari’ati mengkritik para cendekiawan Muslim yang jauh dari komunitas rakyat.[18]
Kaum intelektual yang dapat melakukan transformasi sosial adalah kaum intelektual yang tercerahkan (raushanfekr). Profil kaum intelektual yang tercerahkan tidaklah harus memperoleh gelar akademik. Kaum intelektual yang tercerahkan adalah individu-individu yang mempunyai tanggungjawab sosial dan mempunyai misi sosial. Oleh karenanya tidak semua intelektual tercerahkan. Banyak intelektual justru hanya menjadi budak-budak kapitalisme yang hanya bekerja secara manual dan tidak mempunyai tanggungjawab sosial.[19]
Konsepsi kaum intelektual yang tercerahkan sebagaimana digagas Ali Syari’ati, menyiratkan obsesinya agar para intelektual Muslim mempunyai basis intelektualitas yang memadai sekaligus mempunyai kepekaan sosial, profil manusia yang mampu menyeimbangkan kekuatan nalar kognitif dan nalar sosial, kesalehan individual dengan kesalehan sosial. Salah satu cara mengenali potensi umat Islam, menurut Ali Syari’ati, adalah memahami taxonomi budaya kita sendiri. Misalnya, Yunani mempunyai budaya filosofis, Romawi mempunyai budaya militer dan artistik, India mempunyai budaya spiritualistik dan masyarakat kita mempunyai budaya Islam dan religius. Adapun yang dimaksud dengan taxonomi budaya adalah semangat umum yang menentukan badan pengetahuan (body of knowledge), karakteristik-karakteristik, perasaan, tradisi, pandangan dan cita-cita rakyat dari suatu masyarakat. Dengan mengenal taxonomi budaya suatu masyarakat kita akan mengenal kebenaran terdalamnya, kepekaan-kepekaan batinnya dan perasaan-perasaan yang tersembunyi.[20]
Semangat dominan kebudayan Islam adalah keadilan dan kepemimpinan. Untuk menemukan kembali semangat tersebut, menurut Ali Syari’ati, kita perlu membangkitkan semangat ”protestanisme Islam” Istilah ”Protestantisme” yang dilekatkan pada Islam merupakan upaya Ali Shari’ati meminjam istilah Marx Weber yang menggambarkan gerakan kelompok Kristen Protestan untuk keluar dari kungkungan dogma dan mencari spirit agama yang sejati. Menurut tesis Max Weber, agama adalah ideologi yang menimbulkan perubahan, ketika ia membicarakan etika Protestan dan ruh kapitalisme.[21]
Agar seorang Muslim yang tercerahkan dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Menyaring dan menyuling sumber-sumber daya masyarakat kita dan mengubah penyebab kebobrokan menjadi kekuatan atau gerakan; 2. Mengubah konflik antar kelas dan kelompok sosial menjadi suatu kesadaran akan tanggungjawab sosial melalui pemanfaatan kesenian, menulis, dan berbicara; 3. Menjembatani kelompok yang tercerahkan dengan kelompok yang tertindas; 4. Mencegah agar senjata agama tidak jatuh pada mereka yang tidak patut memilikinya untuk tujuan-tujuan pribadi; 5. Mengusahakan kebangkitan kembali agama untuk memerangi ketakhayulan; 6. Menghilangkan semangat peniruan dan kepatuhan dalam beragama dengan menggantinya dengan semangat ijtihad yang kritis dan revolusioner.[22]
Semua itu dilakukan agar umat Islam keluar dari jeratan tiga musuh Islam yang disimbolkan dengan Fir’aun (penguasa politik tiran), Qarun (penguasa ekonomi) dan Bal’am (kaum cerdik gadungan), sementara satu golongan dikorbankan yaitu rakyat.[23] Kepada Islamlah kita harus kembali, bukan hanya karena ia merupakan agama masyarakat kita, landasan moral dan spiritual kita, tetapi juga karena ia merupakan “diri” manusiawi dari rakyat kita. Kita harus keluar dari kolonialisme Barat dan melepaskan diri dari “memuja yang lain” untuk menjadi diri kita sendiri dan membangun kesadaran manusiawi serta membangun kesadaran sejarah dan keaslian kita dengan kembali pada Islam dengan semangat tauhid sebagai sumbu pembebasan manusia.[24]
Dengan demikian konsep tauhid adalah mabda (tempat bermula) sebuah kesadaran diri dan gerakan pembebasan diri untuk menciptakan tatanan kehidupan yang adil dan bermartabat.


[1] Hamid Fahmi Zarkasyi, Worldview, http://insistnt.com. Diakses pada 12 September 2008.
[2] Ali Syari’ati, Islam: Mazhab Pemikiran dan Aksi., Op.cit., h. 20.
[3] Ibid., h. 24-25.
[4] Ali Syari’ati, Man In Islam. terj. M. Amin Rais, Tugas Cendekiawan Muslim, (Cet.II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 22-24.
[5] Ibid., h. 25-26.
[6] Ibid., h. 34.
[7] Ibid., h. 35.
[8] Robert Heck and Dawud Reznik, ”The Islamic Thought of Ali Shari’ati and Sayyid Qutb,” Mod ern Islamic Thought (May, 2007): 2.
[9] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, Op.cit., h. 37-44. Juga dapat dilihat Kritik Ali Shari’ati terkait dengan kegagalan humanisme Barat dalam memposisikan manusia dalam bukunya, Marxism and Other Western Fallacies , translated by. R. Campbell (Berkeley: Mizan Press, 1980), pp. 15-26.
[10] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, Op.cit., h. 37-38.
[11] Ibid., 37-44. Juga dapat dilihat dalam, Marxism and Other Western Fallacies, Op.cit., h. 15-26.
[12] Dalam pandangan Ali Shari’ati, ”Tauhid as the unity of nature with metanature, of man with nature, of man with man, of God with the world and with man.” Lihat Robert Heck and Dawud Reznik, ”The Islamic Thought of Ali Shari’ati,” p. 9.
[13] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim. Op.cit., h. 1-2.
[14] Ibid., h. 6-7. Lihat juga NS Suwito, Transformasi Sosial: Kajian Epistemologis Ali Syari’ati Tentang Pemikiran Islam Modern (Yogyakarta: Unggun Religi, 2004),  h. 140-142.
[15] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, Op.cit., h. 8-9.
[16] Ibid., h. 17.
[17] Program praksis Ali Syari’ati dituangkan dalam kurikulum lembaga pendidikan, tempat ia banyak menuangkan gagasan-gagasan revolusionernya, yaitu Husainiyah Irsyad. Program praksis Ali Shari’ati meliputi empat aspek pokok, yaitu bidang riset, pendidikan, dakwah dan logistik. Uraian lebih rinci tentang program aksi Ali Shari’ati, lihat NS Suwito, Tranformasi Sosial , h. 238-253.
[18] Ali Syari’ati, ”What is To Be Done: The Enlightened Thinkers and Islamic Renaissance.” terj. Rahmani Astuti, Membangun Masa Depan Islam (Bandung: Mizan, 1993), h. 25-26.
[19] Ibid., h. 29.
[20] Ibid., h. 44
[21] Hamid Fahmi Zarkasyi, Worldview, http://insistnt.com. Diakses pada 12 September 2008.
[22] Ali Syariati, What is To be Done, Op.cit., h. 52-53.
[23] Ibid., h. 76.
[24] Ibid., h. 82.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar