Laman

KONSEP PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH DAN IBNU KHALDUN: DAYA-DAYA DAN KEMAMPUAN BERFIKIR MANUSIA, PENDIDIKAN AKHLAK DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Riwayat hidup Ibnu Miskawaih dan Ibnu Khaldun
1.     Riwayat hidup Ibnu Miskawaih

Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’kub Ibn Miskawaih. Ia lahir
pada tahun 320 H/932 M. di Rayy, dan meninggal di Isfahan pada tanggal 9 shoffar tahun 412 H/16 februari 1030 M. Ia hidup pada masa pemerintahan dinasti Buaihi (320-450 H/932-1062 M) yang sebagian besar pemukanya bermadzhab Syi’ah. Tidak begitu banyak diketahui orang tentang sejarah hidup Ibnu Maskawaih, karena kelangkaan berita dan riwayat yang disebut oleh penulis sejarahnya dalam kitab-kitab rujukan. Nama lengkapnya Ahmad Ibnu Muhammad Ibn Ya'kub, nama keluarganya Miskawaih, disebut pula Abu Ali Maskawaih.[1]

Ahmad Daudy mengemukakan bahwa nama lengkap Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad Ibn Muhammad ibn ya'kub ibn Maskawaih. Dilahirkan di kota Rey pada tahun 330 H, dan meninggal Isfahan tahun 421 H/ 1030 M. Miskawaih adalah ahli sejarah, bahasa, dan kedokteran, yang pemikirannya sangat cemerlang. Dialah Ilmuwan Islam terkenal khususnya dalam masalah pemikiran akhlak. Ia belajar sejarah terutama; tarikh A1 Tabhari: kepada Abu Bakar Ahmad Ibnu Kamil A1 Kodhi (350 H /960 M). Ibnu A1 Khammar mufassir kenamaan Karya Aristoteles adalah gurunya dalam ilmu-ilmu pemikir.[2]
Dalam rentetan sejarah hidupnya diketahui bahwa Miskawaih adalah seorang pejabat pemerintah, pada pemerintahan dinasty Buwaihi. Sebagai pejabat ia sangat memahami model adminsitrasi, dan strategi peperangan, sehingga Ia dengan mudah menulis karya secara jelas. Ia menguasai berbagai manuver politik dan ekonomi, oleh sebab itu ia dapat menuliskan sejarah politik orang-orang yang hidup.[3]
Kehidupannya dilingkungan istana sedikit banyak memberikan gambaran negatif tentang dirinya dimata sejarawan. Sejak mudanya Miskawaih telah mempelajari akhlak Persia dan Yunani, karena itu memeiliki kelebihan dalam bidang pemikir akhlak, dengan menyajikan bahan-bahan akhlak yang berasal dari Plato dan Aristeteles, yang kemudian diramunya dengan ajaran dan hukum Islam, serta diperkaya dengan pergolakan hidup peribadinya dan situasi zamannya.[4]
Berdasarkan pandangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Ibnu Miskawaih adalah salah seorang tokoh dan pemikir Islam khususnya dalam bidang pendidikan dan akhlak.

2.     Riwayat hidup Ibnu Khaldun
Nama lengkapnya adalah Wali al-din ’Abdu al-Rahman ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn al-Jabir ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Abd al-Rahman ibn Khaldun.[5] Lahir di Tunisia tahun 734 H/1332 M dan meninggal di Mesir tahun 808 H/1406 M. leluhurnya berasal dari Hadramaut Yaman yang hijrah ke Spanyol pada abad ke delapan bersamaan dengan gelombang penaklukan Islam di Semenanjung Andalusia.
Wafi menguraikan silsilah leluhur Ibnu Khaldun berasal dari seorang sahabat Nabi, bernama Wail Ibnu Hujr. Beliau dikenal sebagai sahabat dekat Nabi, dan meriwayatkan lebih dari tujuh puluh hadis. Bersama Muawiyah ibn Abu Sufyan, pernah mengemban misi Nabi (diutus Nabi) untuk mengajarkan al-Qur’an dan Islam kepada penduduk Yaman. Disamping itu, kemasyhuran nama Wail ini juga disebabkan karena kedekatannya dengan Nabi saw.[6]
Khalid ibn Usman, salah seorang cucu Wail, yang kemudian dikenal dengan nama Khaldun masuk ke Andalausia bersama dengan orang-orang Arab penakluk.[7] Umar Faruk menyebut Khalid ibn Usman ini dengan Khalid ibn al-Khattab. Lengkapnya, Khalid bin Usman  bin Hani bin al-Khattab bin Kuraib bin Ma’adi Karib bin al-Haris bin Wail bin Hujr. Mula-mula ia dating ke Carmona, sebuah kota kecil di tengah-tengah segitiga penting, Cordova, Sevilla dan Granada, di selatan Spanyol. Kemudian keluarga ini pindah ke Sevilla, setelah pasukan Spanyol menyerbu kota kecil itu. Di kota kecil itu, sebagai tempat yang baru ia dikenali dengan sebutan “Khaldun”.[8]
 Dari khaldun ini terbentuk satu keluarga besar. Sebuah keluarga yang mempunyai kedudukan penting dilihat dari segi kiprah poitik dan ilmu pengetahuan Andalusia dan Magribi. Keluarga besar ini kemudian dikenal dengan anak cucu Khaldun, dihubungkan dengan nenek moyang mereka Khalid bin Usman. Dari keluarga inilah dilahirkan kemudian pengarang buku Muqaddimah yang terkenal itu yang bernama ibn Khaldun.







[1]Departemen  Agama  Republik Indonesia, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Van Hoepe, 1993), h. 397.
[2]Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 56. 
[3]Husain Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, terj. Bahruddin Fannani, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), 154. 
[4]Ahmad Daudy, op.cit., h. 83.
[5]Ahmad Syalabi, Tarikh al-Islam wa al-Hadarah Islamiyah, (Juz IV; Mesir: Maktabah al-Nahdah, 1978), h. 64. 
[6]Suatu ketika Wail Ibnu Hujr menghadap Rasulullah. Beliau membentangkan surban dan menyuruhnya duduk di atasnya. Kemudian beliau berdoa “Ya Allah, berikan berkah kepada Wail ibn Hujr, putranya dan anak cucunya hingga hari kiamat. Muhammad Jalal Syarf dan Ali Abd. Mu’ti Muhammad, Al-Fikr al-Siyasah Fi sl-Islam, Syakhsiyat Wa Mazahib, (Iskandariyah: Daru al-Maarif al-Jamiah, t.th.), h. 46.    
[7]Secara Lughawi, Khaldun artinya Khalid kecil.
[8]Umar Farukh, Tarikh al-Fikr al-‘Arabi, (Beirut: Maktabah al-Tijari, 1962), h. 577.

1 komentar:

  1. pk Dr....buat lbih skit pk...ilmu bagi2 donk..sy nk konsep ibnu maskawaih.......tp tk ade..heee...

    BalasHapus