Jumat, 10 Februari 2012

Pemikiran Murtadha Muthahhari tentang Sinergitas antara Spiritual, Teologi dan Filsafat.

Spiritual (yang selanjutnya disebut ‘irfan) adalah kecenderungan dalam menguak rahasia dan mengenal pengetahuan-pengetahuan bathiniah melalui keyakinan terhadap wilayah dan ajaran-ajaran Ahlul Bayt. Pengertian dan ciri-ciri seperti ini secara umum
telah menghubungkan teosofi dengan makna tasawuf (‘irfan). Dari satu sisi penjelasan ini mengungkapkan bahwa hahekat Tasyayyu’ (Tasyayyu’bid-dzat) sebagai suatu jalan untuk mengenal rahasia-rahasia. Syi’ah memberi ruang lingkup yang tidak terbatas terhadap ajaran-ajaran yang mengenalkan pada rahasia dan pengetahuan-pengetahuan bathin. Syi’ah dengan keyakinan terhadap para Imam Suci yang merupakan ciri khasnya, telah mempersiapkan diri untuk menerima ajaran-ajaran tersebut dari para Imam Suci mereka.[1]
Pada mulanya dalam dunia Islam hanya ada aliran besar dalam filsafat, yaitu: aliran iluminasi (mazhab al-Isyraqi) dan aliran paripatetik (mazhab al-Masysya’iy). Keduanya secara historis dan konseptual berkaitan dengan filsafat Yunani kuno.[2] Kemudian dalam perkembangan berikutnya muncul sebuah aliran baru dalam filsafat yaitu aliran Hikmah al-Muta’alliyah.
Aliran iluminasi (‘isyraq) melandaskan pemahamannya pada pancaran cahaya. Dan aliran ini identik dengan nama Syihabuddin Suhrawardi, ulama abad ke-6 Hijriah. Para filosof iluminasi adalah pengikut Plato. Meski menurut Muthahhari bahwa Suhrawardi sengaja menyabut Plato sebagai guru Iluminasi-nya agar pandangan-pandangannya lebih bisa diperhatikan oleh semua kalangan. Menurut kaum iluminasi bahwa penyingkapan terhadap realitas dan pencarian Tuhan tidak bisa dilakukan dan tidak akan berhasil apabila hanya mengandalkan spekulasi rasional. Penyingkapan terhadap realitas harus disertai dengan pensucian jiwa.[3]
Aliran Hikmah al-Muta’aliyah merupakan aliran yang paling muda dari sekian aliran-aliran yang ada dalam filsafat Islam. Aliran ini identik dengan Sadr al-Din Muhammad al-Shirazi (Mulla Shadra). Dari beberapa aspek aliran ini secara epistemologi mampu mengkolaborasikan antara akal, hati dan teks (agama Syi’ah).[4] Sehingga hikmah adalah kibijaksanaan yang diperoleh lewat pencerahan rohaniah dan disajikan dalam bentuk yang rasional  dengan menggunakan argumen-argumen rasional.
Dalam pandangan Murtadha Muthahhari bahwa, antara tasawuf (‘irfan) dengan filsafat saling memiliki keterkaitan di mana irfan mirip dengan teosofi, yang keduanya sama-sama berbicara tentang hakekat atau karakter alam semesta. Seperti halnya filsafat, ‘irfan juga mendefenisikan berbagai prinsip dan problemnya. Namun filsafat hanya mendasarkan argumennya pada prinsip-prinsip rasional, sedangkan irfan mendasarkan diri pada ketersibakan mistik tentang apa yang mereka lihat dengan mata qalbunya yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa rasional.[5]
Irfan tidak bertentangan dengan filsafat. Hanya saja, keduanya berbeda dari sisi asas dan konsentrasi dasarnya, juga dari sisi tata cara penetapan argumentasinya. Atas dasar itulah, maka para urafa pun dapat mengambil manfaat dari asas-asas rasional dalam menyusun, menafsirkan, dan mengeluarkan (dasar pemikirannya) sekaligus tetap menjaga asas-asas dan jalan yang ditempuhnya (sebagai ahli ‘irfan). Sebagaimana para pakar filsafat pun dapat mengambil manfaat dari irfan dalam konsentrasi dan penjelasannya yang begitu kuat, dan melalui cahaya ‘irfan dapat diambil kesimpulan, berbagai permasalahan dan penafsiran baru yang tidak mungkin didapat dengan hanya mengandalkan pemikiran filsafat murni.[6]
Akan halnya penderitaan yang dialami oleh seorang sufi juga berbeda dengan penderitaan yang dialami oleh seorang filosof, baik sufi maupun filosof mereka sama-sama merindukan kebenaran. Kalau para filosof ingin mengetahui kebenaran, maka para sufi ingin merasakan dan mencapai kebenaran serta terserap dalam kebenaran.[7]
Di antara semua makhluk yang ada di alam ini, hanya manusia yang saja yang berkeinginan untuk memiliki pengetahuan. Derita yang dialami oleh filosof merupakan pernyataan tentang kebutuhan naluriah filosof untuk mencari pengetahuan dan pada fitrahnya manusia menginginkan pengetahuan.[8] Sedangkan derita yang dialami oleh sufi merupakan pernyataan tentang kebutuhan naluriah rasa cintanya yang ingin melayang tinggi dan tidak mungkin terpuaskan kecuali setelah dia dengan segenap eksistensinya mencapai kebenaran, seorang sufi percaya bahwa sadar diri (mengenal diri) yang sejati tidak lain adalah mengatahui atau mengenal Allah swt.[9]
Menurut Imam Khomeni ketika beliau berwasiat kepada anaknya, mengatakan bahwa kaum filosof membuktikan Kemahahadiran Allah swt dengan argumen-argumen rasional. Akan tetapi, apa yang dibuktikan oleh argumen rasional tidak mencapai hati, maka ia telah gagal dalam menaati adab (dalam) Kehadiran Allah swt. Berbeda halnya dengan orang memenuhi hatinya dengan Kehadiran Allah swt meskipun mungkin mereka tidak akrab dengan argumen-argumen filosofis, mereka akan menerapkan adab (berada dalam) Kehadiran Allah swt. Sebagaimana kita ketahui bahwa para Nabi as dan Wali yang paling ikhlas tidak pernah menggunakan argumen filosofis (dalam dakwah mereka), tetapi mengimbau kepada jiwa dan hati orang-orang.[10]
Pernyataan-pernyataan ini lanjut Imam Khomeini tidak dimaksudkan untuk menjauhkanmu (anakku) dari filsafat dan ilmu-ilmu rasional atau mempengaruhimu untuk tidak mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu rasional lainnya. Karena (jika demikian) hal itu merupakan penghianatan tehadap akal, penalaran dan filsafat. Yang aku (Imam Khomeini) katakan adalah bahwa filsafat dan penalaran adalah sarana untuk meraih sasaran yang sebenarnya, dan semua itu tidak boleh menghalangi jalanmu untuk sampai pada Kekasihmu (Allah swt). Dengan kata lain, upaya-upaya (rasional–filosofis) ini hanyalah sarana, bukan sasaran itu sendiri. Dunia ini ibarat ladang sedangkan akhirat adalah tempat memanennya.[11] Sama dengan itu, upaya-upaya akademis (filsafat dan sebagainya) adalah ladang-ladang yang dimaksudkan untuk menghasilkan panen.[12]
Ringkasnya, bahwa hubungan antara tasawuf (‘irfan) hikmah atau filsafat Islam sangatlah erat sehingga banyak dari tokoh-tokohnya yang bisa dianggap sebagai sufi sekaligus filosof, seperti Al-Ghazali, Ibn Sina dan Mullah Shadra dan masih banyak lagi yang lain, yang tidak sempat kami sebutkan satu persatu.
Dalam teori piramida eksistensinya, Mulla Shadra mengatakan bahwa semua makhluk memiliki eksistensi, namun perbedaan mereka berasal dari derajat atau intensitas eksistensi mereka. Eksistensi Tuhan dalam piramida ini tidak memiliki batasan dan keterbatasan. Oleh karena itu, identitas-Nya identik dengan eksistensi-Nya. Dengan pemahaman seperti ini, perbedaan antara filsafat dengan irfan bisa diselesaikan. Ada kejamakan (derajat eksistensi) dalam ketunggalan (semua wujud memiliki eksistensi). Ini merupakan doktrin tasykik al-wujd, (gradasi wujud).
Persepsi Muthahhari terhadap tauhid sangat tinggi dan konsep ini menjadi inti pikirannya, seperti terlihat pada pandangan dunia tauhidnya yang tercermin dalam tulisan-tulisannya. Tauhid oleh Muthahhari dihadapkan ke dalam dunia nyata, dunia sosial, dan kultural manusia. Hal ini sejalan dengan teologi rasional yang menekankan masalah “tauhid dan keadilan”.[13]
Muthahhari membagi pemahaman tauhid kepada dua bagian; yaitu tauhid teoritis dan tauhid praktis. Tauhid teoritis membahas tentang ke-Esaan Zat, ke-Esaan sifat, dan ke-Esaan perbuatan Tuhan. Pembahasan mengenai ke-Esaan Zat, ke-Esaan Sifat dan perbuatan Tuhan adalah khusus berkaitan dengan kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan pemikiran kita tentang Tuhan.[14] Sedangkan tauhid praktis yang juga disebut dengan “tauhid ibadah” adalah berhubungan dengan kehidupan praktis manusia. Ia merupakan terapan dari tauhid teoritis.
Menurut Muthahhari, suatu ilmu yang hanya bersifat teoritis, tidak akan memberikan pengaruh dalam kehidupan praktis manusia. Sebagai contoh, para ahli zaman dulu berpendapat bahwa bumi adalah pusat alam. Benda-benda langit, termasuk matahari, beredar mengitari bumi. Tetapi kemudian ternyata teori ini dibatalkan oleh para sarjana modern. Mereka mengatakan bahwa mataharilah sebenarnya yang menjadi pusat dari semua benda-benda angkasa itu, sedangkan planet-planet, termasuk juga bumi-lah yang beredar mengelilingi matahari, dan bukan sebaliknya. Muthahari mengemukakan pertanyaan, apakah dengan perubahan teori ini lantas akan berpengaruh atas kehidupan dan budi pekerti manusia? Jawabannya adalah “tidak”. Karena dengan perubahan pengetahuan teoritis ini, yaitu dari matahari beredar mengelilingi bumi, menjadi bumi beredar mengelilingi matahari, sama sekali tidaklah mempengaruhi kehidupan praktis dan budi pekerti manusia.[15]
Karena itu, menurut Muthahhari, tauhid teorotis saja hanya akan percaya semata akan ke-Esaan Dzat, sifat dan perbuatan Tuhan, tidak dapat dinamakan sebagai orang yang sudah bertauhid yang sempurna dan hakiki dalam pandangan Islam. Tauhid Hakiki” menurut Muthahhari adalah tauhid yang tercermin dan terefleksi dalam ibadah dan perbuatan praktis kehidupan manusia.[16] Maka Muthahhari mengatakan bahwa kebanyakan para teolog telah mampu berargumentasi dengan alasan yang kuat, sanggup, dan cerdas mengalahkan musuh-musuh mereka dalam pembuktian wujud Tuhan, ke-Esaan, kekuasaan, ilmu, dan hikmah kebijaksanaan-Nya, tetapi pembuktian mereka itu hanya terbatas pada tingkatan pemikiran, perenungan, dan konsepsi, dan tidak pernah mencapai ketingkatan:tauhid praktis” dan ikhlas. Dalam pengertian bahwa mereka tidak pernah menjadi orang yang bertauhid dalam kehidupan praktis, tetapi hanya bertauhid dalam konsep teorotis dan pemikiran semata. Karena itu, tampak terlihat jelas disamping mereka bertauhid secara teoritis, mempertahankan Wujud Tuhan dengan argumentasi yang kuat, mereka secara praktis mempersekutukan Allah dalam amalan perbuatan sehari-hari, memperhambakan diri kepada benda-benda dan manusia, dan menjadi hamba-hamba setan.
Seperti yang dikatakan Mutahhari dalam kata Syirk (menyekutukan Allah) yang terjadi pada umat-umat terdahulu adalah bentuk “tauhid praktis” yang tidak dapat dicapai ini. Mereka mengakui secara teoritis adanya Tuhan pencipta langit dan bumi, tetapi dalam peribadatan dan perilaku hidupnya sehari-hari tunduk kepada berhala-berhala dan setan, dan tidak terikat kepada kepercayaan teoritisnya sama sekali. Al-Qur’an mengungkapkan kenyataan ini: “Jika engkau tanyakan kepada mereka (kaum musyrik), siapa yang menjadikan langit dan bumi, niscaya mereka menjawab Allah”.[17]
Muthahhari membagi tauhid praktis (tauhid ibadah) ke dalam dua sisi saja. Di sisi pertama berpautan dengan Allah, dan di sisi lain, berhubungan dengan menusia sendiri. Sisi yang berpautan dengan Allah atau adalah bahwa setiap yang wujud, baik para malaikat, para nabi, ataupun para wali Allah, dan yang lainnya, tidak berhak untuk disembah, selain Alah. Sedangkan sisi yang kedua berkaitan dengan manusia adalah bahwa manusia sebagai hamba Allah mempunyai kewajiban untuk tidak menyembah selain (ibadah) ini.[18]


[1]Lihat Muhsin Labib, Mengurai Tasawuf,op. cit., h. 71.
[2]Ibid.,
[3]Lebih jelasnya silahkan merujuk pada Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (Ed.), Ensiklopedia Tematis Filsafat Islam, Buku kedua, (Cet. I; Bandung: Mizan, 2003), h 544-616.
[4]Jalaluddin Rakhmat, “Hikmah Muta’aliyah: Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd” dalam pengantar buku Mulla Shadra, Hikmal al-Arsyiah, diterjemahkan oleh Dr. Ir. Dimitri Mayahana, M.Eng dan Ir. Dedi Djuniardi dengan judul, Kearifan Puncak, (Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. XV.
[5]Murtadha Muthahhari, Light Within Me: Menggapai Gemerlap Cahaya Ilahi, (Cet. I; Jakarta: Lentera, 2008), h. 37.
[6]Muchtar Luthfi, “Relasi Antara Irfan Teoritis dan irfan Praktis” http://hauzah.wordpress.com 12 06 2007 relasi-antara-irfan-teoritis-dan-irfan-praktis/ diakses pada tanggal 11 03 2009.
[7]Murtadha Muthahhari, Man and Universe, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul, Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam Tentang Jagad Raya, (Cet. V; Jakarta: Lentera, 2008), h. 260.
[8]Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Amuzesye Aqayid, diterjemahkan oleh Ahmad Marzuki Amin dengan judul, Iman Semesta: Merncang Piramida Keyakinan, (Cet. I; Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 32 bandingkan dengan Muthahhari, Fitrah, h. 31-43.
[9]Murtadha Muthahhari, Man and Universe, loc. cit.,
[10]Yamani, Wasiat Sufi Ayatulla Khomeini: Aspeksufistik Ayatullah Khomeini yang Tak Banyak Diketahui, (Cet. IV; Bandung: Mizan, 2002), h. 94.
[11]Murtadha Muthahhari, Hikmat-ha va Andaruz-ha, diterjemahkan oleh Ahmad Subandi dengan judul, Jejak-jejak Ruhani: Menguatkan Ruh Melalui Hikmah Ilahiah, (Cet. V; Bandung: Pustaka Hidayah, 2006), h. 34.
[12]Yamani,  Wasiat Sufi Ayatullah Khomeini, op. cit., h. 96.
[13]Ramlan A. Satori, Konsep Teologi Menurut Murthada Muthahhari, http://sahabat-muthahhari.org/media.php?module=detailpemikiran_muthahhari&id=44
[14]Mulyadhi Kartanegara, Renungan-renugan Filosofis Mutadha Muthahhari, makalah Seminar Internasional “Pemikiran Murtadha Muthahhari”, 8 Mei 2004.
[15]Ibid., bandingkan dengan Mehdi Golshani, Kritik Filsafat Muthahari terhadap Ilmu Modern, makalah Seminar Internasional “Pemikiran Murtadha Muthahhari”, 8 Mei 2004.
[16]Quraish Shihab, Pemikran Muthahhari di Bidang Teologi, yang dimuat dalalm Jurnal Al-Hikmah, Jumada Al-Ula- Jumada Al-Tsaniyah, 1413H/November-Desember 1992.
[17]Lihat Q.S. al-Zumar: 38.
[18]Quraish Shihab, Pemikran Muthahhari, op. cit.,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENULIS BUKU KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA

H. HAMZAH HARUN AL-RASYID. Lahir 30 juli 1962. Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini memperoleh gelar: • Sarjana Muda (BA) 1987,...