Laman

MUQADDIMAH


Pandangan para Peneliti.
Al-Ashcariyyah adalah salah satu aliran teologi Islam yang memiliki banyak tokoh dan ilmuan dalam khazanah intelektual Islam yang pada dekade ini banyak mendapat perhatian intens dari para
peneliti, baik dari kalangan muslim maupun dari kelompok orientalis. Di antara tokoh aliran ini yang banyak mendapat simpati dari peneliti adalah pendiri aliran Asy’ariyah itu sendiri yaitu Abu Hasan al-Ashcari.

            Tokoh- tokoh peneliti muslim yang berhasil menyingkap kepribadian tokoh besar itu adalah; Hammudah Ghurabah dalam bukunya Abu Hasan al-Ashcari. Tulisan ini memuat secara gamblan pemikiran Asycari dan hubungannya dengan berbagai corak pemikiran teologi yang ada pada masanya, termasuk di antaranya adalah corak pemikiran tekstual  dan kontekstual.

            Jalal Musa misalnya dalam tesis doktornya di bidang falsafah pada Universitas Iskandariyah Mesir dengan judul "Nashcat al-Ashacirah watatawwuruha". Dalam tesis ini Jalal membahas sisi-sisi kehidupan al-Ashcari dan perkembangan mazhabnya, mengeritik sebahagian riwayat yang berkaitan dengan konversi Ashcari. Namun kritikan-kritikan Jalal dalam masalah itu cenderung bersifat subjektif. Hal itu, secara mendetail penulis uraikan dalam pembahasan yang berkaitan dengan sejarah kemunculan aliran al-Asy’ariyyah pada pembahasan selanjutnya.

            Selanjutnya, Ahmad Muhammad Jali dalam karyanya al-Mutakallimun wa al-rradd calayhim, disebutkan pada jilid I Faktor-faktor penyebab yang melatarbelakangi konversi al-Ashcari dari aliran Muktazilah ke aliran ahli Hadis dengan analisis rasional. Selain itu, Abd Hamid cAli cIzz al-cArab dalam desertasi doktornya di Fakulti Usuluddin Universiti al-Azhar jurusan Akidah dan Filsafat dengan judul "Shaykh Abu Hasan al-Ashcari bayn al-Muctazilah wa al- Salafiyyah” menyingkap kritikan-kritikan al-Ashcari kepada aliran Muktazilah sebagai pengagum rasio dan Aliran Salafiyyah sebagai pengagum nas sekali gus menjelaskan posisi akidah al-Asy’ari yang sesungguhnya.

            Peniliti yang lain adalah Khalil Ibrahim al-Musili dalam tesisnya di Universitas Islam Madinah "Bayn Abi  al-Hasan al-Ashcari wa al-muntasibin ilayh fi al-caqidah ". Dalam Penelitian ini, al- Musili berusaha membentangkan ‘benang merah’ yang mengkaitkan antara al-Asy’ari dengan pelbagai bentuk kajian akidah yang disandarkan kepadanya.

            Selain itu, Abd Rahman Badawi dalam bukunya Madhahib al Islamiyyin, mencantumkan informasi tentang al-Asy’ari beserta karya-karya intelektualya. Dalam buku ini, seperti halnya Jalal, Badawi tidak menerima segala riwayat yang berkaitan dengan peralihan al-Asy’ari bahkan memvonnisnya sebagai riwayat palsu meskipun riwayat mimpi itu masyhur dikalangan Fuqaha dan Mutakallimin. Hal inipun akan penulis paparkan dan mencoba meninjau kembali alasan-alasan yang dikemukakan dengan menggunakan pendekatan historis dengan analisis yang mendalam.

            Selanjutnya, Muhammad Ibrahim al-Fayyumi dalam bukunya Shaykh Ahl al-Sunnah wa al-Jamacah Abu al-Hasan al-Ashcari: Fahs naqdi li cilm al-kalam al-Islami. Yang istimewa dalam kajian ini bukan saja terletak pada kesuksesan penulisnya membentangkan kondisi sosio politik dan pemikiran akidah yang berlaku pada masa pemerintahan Abbasia yang berkaitan  dengan kemunculan al-Asy’ari sebagai tokoh pemikir besar kala itu, tetapi lebih dari itu penulisnya berhasil mengulas esensi ajaran al-Jubbai yang membuat al-Ashcari bingun dan pada akhirnya memutuskan untuk konversi dari Muktazilah dan kemudian membangun mazhab teologi baru, yaitu mazhab Ahli Sunah waljamaah dengan metodologinya yang moderat.

            Fawqiyyah Husayn Mahmud, telah mengomentari dan menerbitkan buku "al Ibanah can usul al-diyanah karangan al-Asy’ari. Pada bagian pertama buku ini, beliau cantumkan aspek histori Abu Hasan al-Asy’ari,  sama halnya yang berkaitan dengan latar belakang keluarganya maupun dari segi pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya, sekaligus menjelaskan kesalahan-kesalahan yang senantiasa dilontarkan oleh para peneliti tentang karya-karya intelektual Abu Hasan al-Ashcari.

            Selain peneliti Muslim, peneliti orientalis juga tak ketinggalan mengambil bagian untuk mengomentari, menstudi dan memaparkan pendapat-pendapat al-Asy’ari beserta murid-mmidnya sekaligus menerjemahkan kedalam bahasa mereka, antara lain:

            Ritter telah menerbitkan, mengomentari  serta memberi pengantar buku Maqalat al-Islamiyyin dengan judul “Bibliotheca Islamica”. Sedangkan Klein menerjemahkan al-Ibanah kedalam bahasa Inggris. Hal yang serupa dilakukan oleh Mc. Carty dalam hal  menerjemahkan kedalam bahasa Inggris sebahagian buku-buku al-Asy’ari, diantaranya “al-Lumac fi al-radd cala ahl al-ziyagh wa al-bidacdengan judul. “The theology of Asharit”. Demikian pula W.M. Watt menulis dalam Encyclopaedia of Islamic tentang al-Asy’ari. Yang menarik dalam makalahnya tersebut adalah beliau memaparkan tentang sikap al-Asy’ari terhadap pendahulunya serta rintangan-rintangan yang diterima oleh al-Asy’ari dari kalangan Mutakallimin.

            Masih banyak lagi peneliti yang secara berkesinambungan memberikan perhatian terhadap al-Asy’ari seperti W.Thomson, Nyibreg, Massignom, Laoust, Arnaldez dan Michel Allard yang menulis sebuah kajian yang cukup bermanfaat khususnya menyangkut problematika sifat- sifat ketuhanan menurut al-Asy’ari dan sebagian tokoh-tokoh dalam aliran al-Asy’ariyyah.

            Hasil-Hasil Kajian diatas membuktikan kebesaran pengaruh aliran al-Asy’ariyah sama halnya dari kalangan Intelektual Muslim maupun Orientalisme. Oleh karena itu, penelitian ini bukanlah karya pertama mengenai faham teologi al-Asy’ariyyah. Sebagai aliran teologi Islam, al-Ashcariyyah adalah aliran yang paling banyak menarik perhatian para pengkaji ilmiah, dulu dan sekarang. Sudah banyak konsep pemikiran al-Asy’ariyyah yang pernah dibahas oleh para peneliti, tetapi pembahasan yang secara spesifik membahas secara utuh sisi moderasi teologi ini dengan sapaan “Teologi Poros Tengah” belum ditemukan.

            Kajian yang dilakukan oleh Sayf al-din al-Amidi, dengan judul 'Ghayat al-maram fi  ci1m al-kalam'. Dalam kajian ini, tidak membahas secara mendalam tentang bagaimana faham teologi al-Asy’ari, beliau hanya mengemukakan pelbagai persoalan yang dikemukakan oleh al-Asy’ari  menyangkut berbagai masalah secara universal. ([1])

Begitu juga kajian yang dilakukan oleh Ibn Taymiyyah, yang hanya mengemukakan pendapat tokoh-tokoh al-Asy’ariyyah, khususnya pendapat al-Baqillani, mengenai perbuatan manusia. Hal ini dapat dilihat dalam kitab Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah[2] Abd al-Karim al-Shahrastani, baik dalam kitabnya Nihayat al-iqdām fi cilm al-kalam maupun dalam al-Milal wa al-nihal, hanya mengemukakan berbagai pendapat al-Asy’ari dan tokoh-tokohnya yang berkaitan dengan faham teologi, khususnya mengenai masalah sifat-sifat Tuhan dan perbuatan manusia[3]

Demikian pula Abu Zahrah, dalam kitabnya "al-Madhahib al-1slāmiyyah" secara spesifik melihat adanya relasi ideologis antara al-Bāqillāni dengan Abu Hasan al-Asy’ari, menurutnya, al-Baqillani merupakan  tokoh al-Ashcariyyah, yang pemikiran-pemikirannya tidak terlepas dari pemikiran pendahulunya, al-Ashcari. ([4])

            Demikian juga halnya apa yang pernah dilakukan oleh beberapa penulis lainnya seperti al-Subki dalam bukunya Tabaqat al-Shaficiyyah al-kubra, Ibn Khilkan dalam Wafayat al-acyan, M.M. Syarif dalam History of Muslim philosophy, Fawqiyyah Husayn Mahmud, dalam komentarnya mengenai buku al-Juwayni yang berjudul Lamc al-adillah, Ahmad Amin dalam Zuhr al-Islam, al-Shahrastani dalam al-Milal wa al-nihal, Hodgson dalam The Venture of Islam, al-Hanbali dalam Shadharat al-dhahab, Abu al-Mahasin dalam al-Nujum al-zahirah, al-Hafiz Ibn al-Asakir dalam Tabyin kadhb al-muftari, Ibn Fadlillah al-cAmr dalam Masalik al-absar fi mamalik al-amsar, al-Samcani dalam al-Ansab, al-Dhahabi dalam Siyar aclam al-nubala " semuanya hanya menyediakan tulisan yang menceritakan beberapa riwayat hidup daripada tokoh-tokoh aliran al-Ashcariyyah dan mengemukakan penjelasan daripada sebahagian pendapat tokoh-tokoh tersebut mengenai teologi Islam.

            Kemudian, kajian yang dilakukan oleh Ahmad Hanafi, dalam kitabnya "Teologi IsIam" hanya tertumpu kepada ulasan atas kitab al-Tamhid, karya al-Baqillani. Menurut Hanafi, al-Baqillani mengambil teori atom yang dibicarakan oleh Muktazilah untuk dijadikan dasar bagi penetapan adanya kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas dan keaktifan penciptaan oleh Tuhan. Menurut Hanafi, pendapat itu mengandung pengertian bahawa dalam alam ini tidak ada hukum yang pasti kerana penggabungan atom dan pergantian carad tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi semata-mata karena kehendak Allah. ([5]) Pandangan Hanafi tersebut diperkuat oleh J.W.M. Bakker. Dalam kajian yang dilakukan, Bakker mengatakan bahawa pemikiran teologi al-Ashcari banyak diikuti oleh muridnya, al-Baqillani. Menurut Bakker, al-Baqillanilah yang memperkuat posisi al-Asy’ari sebagai tokoh teologi. Al-Baqillani terkenal sebagai pencipta sistem occasionalisme muslim, iaitu suatu faham yang mengajarkan bahwa semua yang terjadi di dunia ini sebagai tanda (simbol)  dari penciptaan Allah. Peristiwa alam dan perbuatan manusia tidak lain dari pada tanda penciptaan langsung rari Allah. Setiap sesuatu terjadi oleh campur tangan Allah([6]).
      
Namun demikian, Harun Nasution, dalam kajiannya menyatakan bahwa al-Baqillani tidak sepenuhnya sefaham dengan al-Asy’ari, terutama dalam soal perbuatan manusia dan sifat-sifat Tuhan([7]). Menurut Harun, dalam pandangan al-Baqillani, manusia masih mempunyai kebebasan dalam kehendak dan perbuatannya. Begitu pula mengenai sifat-sifat Tuhan, bagi al-Baqillani adalah hal. ([8])

Ahsin Muhammad meneliti tentang keberadaan faham teologi di kalangan mahasiswa baru dan lama Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menggunakan kaedah survey dan wawancara dengan analisis data Chi-Square dalam mengelola data. Dalam penelitiannya ditemukan bahwa kebanyakan mahasiswa pada Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, baik yang tergolong mahasiswa baru maupun lama, menganut faham Muktazilah, dan hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang menganut faham al-Ashcariyyah. Temuan lain yang didapati dalam kajian itu adalah banyaknya mahasiswa lama yang menganut faham Muktazilah di lingkungan Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, bukan merupakan pengaruh dari proses pendidikan mereka di Pascasarjana. ([9]) Namun demikian, kadar kemuktazilahan yang ditemukan cukup beragam, mulai dari kadar tinggi, sedang, dan rendah. Tidak seorang pun dari mereka yang dapat disebut sebagai penganut Muktazilah atau al-Ashcariyyah murni. Di samping itu, ditemukan juga bahwa meskipun proses pendidikan di Pascasarjana tidak terpengaruh terhadap banyaknya penganut faham Muktazilah di lingkungan mahasiswa lama, tetapi proses pendidikan tersebut terbukti berpengaruh terhadap tingginya kadar kemuktazilahan di kalangan mahasiswa. ([10])

            Kemudian, Muhammad Ramli, melakukan penyelidikan terhadap pemikiran kalam seorang tokoh agama, dengan judul: "Corak pemikiran kalam K. H. Bishri Mustafa: Studi komparatif dengan teologi tradisional al-Asy’ariyah". Dalam penyelidikan tersebut ditemukan bahwa pemikiran K. H. Bishri Mustafa banyak persamaannya dengan pemikiran teologi al-Asy’ariyyah. Persamaan yang dimaksud adalah dalam masalah yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, kehendak dan kekuasaan mutlak Allah, keadilan Allah, dan melihat Allah di akhirat.

            Penelitian lain yang berkaitan dengan faham teologi ialah penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Basir Beliau melakukan penelitian yang berkaitan dengan faham kebebasan dan keterikatan manusia dalam pandangan mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta. Dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa mahasiswa pada umumnya menganut pandangan kebebasan dalam menentukan kehendaknya sesuai dengan faham Qadariyyah, dalam kaitannya dengan perbuatan manusia, dan menganut faham Muktazilah dalam hal kebebasan dan tanggungjawab manusia. ([11])

            Untuk mengetahui pandangan al-Qur'an tentang konsep perbuatan manusia, Jalaluddin Rahman ([12]) melakukan suatu penelitian melalui kajian tafsir tematik. Kaedah yang dipakai adalah pendekatan tafsir mawduci. Dalam kajiannya dinyatakan bahawa al-Qur'an menghendaki manusia produktif-kreatif, kerana kepadanya diberikan peranan dan tugas. Peribadilah yang bertanggung jawab dan menanggung akibat perbuatnnya.

Dalam kesimpulan, Jalaluddin Rahman, menyatakan bahawa konsep perbuatan manusia menurut al-Qur'an mempunyai kecenderungan kepada konsep perbuatan menurut faham Muktazilah dan Muhammad cAbduh. Menurut Jalal, meskipun manusia bebas, tetapi ia patuh pada sunnatullah. Beliau menambahkan, bahawa konsep perbuatan manusia yang produktif-kreatif menurut al-Qur'an berbeda dengan konsep al-kasb yang dimajukan oleh al-Asy’ari karena menurut Jalal, baik al-Ghazali maupun al-Asy’ari mempunyai pendapat yang sama bahwa daya manusia lemah dan daya Tuhan lebih dominan. Kedua-dua tokoh teologi tersebut, menurut Jalal, mempunyai teori tanggung jawab yang tidak baik dan membuat manusia tidak produktif-kreatif.[13]

Kesimpulan Jalaluddin tersebut tidak melalui kajian yang mendalam berdasarkan analisis substansial sebuah ajaran dengan data yang autentik, objektif,  dan ilmiah. Menilai faham al-Asy’ari dan al-Ghazali sebagai sebuah faham yang membuat manusia tidak produktif-kreatif adalah sebuah kecerobohan. Al-Asy’ari, selain berhasil menyelamatkan umat Islam dari ancaman rasionalisme Muktazilah dan Falsafah, juga telah mewariskan khazanah intelektual Islam yang sangat berharga berupa buku-buku  pegangan umat Islam lebih dari 300 buah, manakala al-Ghazali selain kecemerlangan fikirannya merevisi aliran falsafah sebagai pengagum akal, ia juga mewariskan puluhan buku-buku berupa literatur yang sangat berharga  kepada ummat Islam, dan yang paling monumental adalah ‘Ihya culum al-din’. Watt dalam Encyclopaedia of Britannica mengungkap kebesaran al-Gazali sebagai tokoh dalam aliran al-Asy’ariyyah dengan menyatakan bahwa jikalau sekiranya ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad s.a.w., maka tidak ada orang lain lagi kecuali al-Ghazali. ([14])
Hal senada juga dinyatakan oleh G. Broune dalam bukunya A Literary History of Persia. Peneliti non Muslim saja yang jujur mengakui kebesaran al-Asy’ari dan al-Ghazali. Dalam konteks ini bisa berarti bahawa hanya peneliti yang tidak jujur saja dari kaum Muslimin yang tidak mau mengakui kebesaran kedua-dua tokoh tersebut.

Dari pemaparan diatas dapat fahami bahawa; kajian-kajian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu, sejauh pengamatan penulis,  tidak satupun kajian yang membahas secara spesifik dan konprehensif tentang sisi moderasi teologi al-Ashcariyyah. Berangkat dari kenyataan ini, penulis merasa perlu melakukan penelitian  secara mendalam dan komprehensip di bidang ini. Semua fakta, ide dan formula yang diketengahkan oleh tokoh-tokoh pemikir besar dalam aliran al-Asy’ariyah akan ditelusuri, dibahas dan dianalisis secukupnya untuk mencari korelasi dan kesesuaian dengan tujuan pokok penelitian ini.


[1] Sayf al-din al-Amidi. 1971. Ghayat al-maram fi cilm al-kalam. Masr: Lajnat Ihya al-Turath al-Islamiyyah, hal. 233.
[2] Ibn Taymiyyah. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah.  hal. 214-220.
[3] Al-Shahrastani. 1934. Nihayat al-iqdam fi cilm al-kalam, ed. Alfred Guillaume, London: Oxford Universiti Press, hal. 73; Idem al-Milal wa al-nihal, Jil.1, hal. 82-85.
[4] Abu Zahrah, 1934, al-Madhahib al-Islamiyyah, al-Qahirah: Maktabat al-Adab, hal. 81.
[5] Ahmad Hanafi, 1978, Teologi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, hal. 63.
[6] J.W.M. Bakker, 1978, Sejarah filsafal dalam Islam, Yokyakarta: Yayasan Kanisius, hal. 59.
[7] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran sejarah analisa perbandingan, Jakarta: UI Press, 1986. hal. 71.
[8] Pandangan tersebut sama dengan pendapat Abu Hashim dari kalangan Muctazilah. Lihat Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, hal. 41; Lihat juga Teologi Islam, hal. 71.
[9] Jika demikian, ini bermakna bahawa sebelum mereka masuk Program Pascasarjana, para mahasiswa tersebut, pada umumnya telah menganut faham Mu'tazilah. Padahal, tidak ditemukan data bagaimana sikap dan pandangan teologi mereka pada waktu mereka mengikuti pendidikan sebelumnya. Inilah yang tampak perlu dikaji lebih lanjut.
[10] Ahsin Muhammad, 1997, Keberadaan faham Muctazilah dan al-Ashcariyyah di kalangan mahasiswa baru dan lama Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayalullah Jakarta, (Tesis yang tidak diterbitkan), Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah.
[11] Muhammad Basir, 1994, Kebebasan dan keterikatan manusia dalam pandangan mahasiswa Pascasarjana IAIN Jakarta, (Tesis Ph.D. yang tidak diterbitkan), Jakarta: IAIN Sarif Hidayatuffah.1994.
[12] JaIaluddin Rahman, 1992. Konsep Perbuatan Manusia Menurut al-Quran, Jakarta: Bulan Bintang.
[13] Pernyataan di atas, yang tampak senada dengan ungkapan-ungkapan semisal Syed Ameer 'Ali, yang menyatakan bahawa konsep perbuatan manusia menurut al-Qur'an cenderung kepada konsep perbuatan menurut faharn Mu'tazilah dan Muammad cAbduh, dan bukan menurut faham al-Ashcariyyah, dapat dikatakan suatu pernyataan yang tidak mempunyai rujukan tegas atau rujukan denotative dari al-Qur'an sendiri. Manusia produktif, kreatif dan bertanggung jawab kemungkinan saja lahir dari kelompok yang berpandangan bahawa seluruh daya, usaha, dan perbuatan manusia itu sebenarnya dari Tuhan. Dalam hal ini, penyelidikan empiris dilapangan akan membantu memperkuat hasil analisis seperti itu. Syed Ameer 'Ali, 1995,  The Spirit of Islam: A History of the evalution and ideals of Islam with al life of the prophet, Delhi: Low Price Publication, hal. 403-454.
[14] W. Montgomery Watt, 1969,  Al-Ghazali,  Encyclopaedia Britannica, Vol. 10 New York, R.R. Donnelly & Sons Co, hlm. 387.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar