Jumat, 10 Februari 2012

PEMIKIRAN RENE GUENON

René Guénon sejak umur 18 tahun ia sudah mulai mempelajari agama-agama Timur, khususnya Hinduisme, Taoisme dan Islam. Tahun 1906, ia pergi ke Paris, di sana ia masuk ke sekolah Free School of Hermetic Scienses yang didirikan oleh Gerard Encausse, seorang tokoh freemason dan pendiri masyarakat teosofi di Perancis.[1]

            René Guénon adalah murid dari Gerard Encausse· yang lebih dikenal dengan sebutan Papus, seorang Freemason yang mendirikan "Free School Of Hermetic Scienesyang mengkaji ilmu mistis. Di sekolah ini Guénon intensif mengkaji hal-hal berbau mistis. Di sekolah ini pula Guénon berkenalan denga sejumlah tokoh Freemason, Teosofi dan berbagai gerakan spiritual lainnya. Guénon sangat tertarik dengan gerakan-gerakan semacam ini, hingga ia aktif menggelar berbagai kongres, seminar, diskusi, dan aktifitas tentang mistis dan freemason. Ringkasnya freemason merupakan ketertarikan Guénon yang pa ling besar sepanjang hidupnya. Karena bagi Guénon freemason adalah wadah dari hikmah tradisional yang luas, dan kaya dalam simbolisme serta ritual. Guénon juga yakin bahwa freemason adalah cara terbaik untuk menjaga banyak aspek dari agama Kristen yang telah hilang dan terabaikan.[2]
            Tahun 1912, Guénon mulai tertarik dengan sufisme, dan akhirnya memeluk Islam dengan nama Abd al-Wahid Yahya. Ia tetap gandrung terhadap mistis. Tahun 1930 Guénon pergi ke Mesir untuk meneliti dan mempelajari teks -teks sufi. Sejak itu ia menetap di Mesir hingga meninggal pada tanggal 7 Januari 1951.
            Pemikiran utama Guénon adalah filsafat abadi (perenialisme). Menurutnya filsafat abadi adalah ilmu spiritual yang memiliki keutamaan dibanding ilmu lainnya. Meskipun ilmu-ilmu lain harus tetap dicari, namun ia hanya akan bermakna dan bermanfaat jika dikaitkan dengan ilmu spiritual ini. Menurutnya substansi ilmu spiritual bersumber dari supranatural dan transenden serta bersifat universal. Oleh sebab itu, ilmu tersebut tidak dibatasi oleh suatu kelompok agama atau kepercayaan tertentu. Ia adalah milik bersama semua agama dan kepercayaan yang ada.
            Adapun perbedaan teknis yang terjadi pada setiap agama dan kepercayaan merupakan jalan dan cara yang berbeda untuk merealisasikan “Kebenaran yang satu”. Pebedaan ter sebut menurutnya sah-sah saja, karena setiap agama memiliki cara yang unik untuk memahami Realitas Akhir. Maka se bagai hasil dari pengalaman spiritualnya dalam gerakan teosofi dan freemason, Guénon menyimpulkan bahwa semua agama memiliki kebenaran dan bersatu pada level batin (esoteris), sekalipun pada level lahir (eksoteris) berbeda-beda.
            Karena keyakinannya itu Guénon kemudian berusaha menghidupkan kembali filsafat abadi yang menurutnya telah banyak hilang digerus arus modernisasi. Tak heran jika Husein Nasr menyebut Guénon bersama dengan Fritjhof Schuon dan Anan da Coomaraswamy sebagai Para Guru (The Masters) dalam bidang filsafat abadi atau biasa disebut juga filsafat perennial.
            Selanjutnya pemikiran-pemikiran agama atau kepercayaan mengenai Filsafat Abadi ini banyak diikuti oleh kaum Pluralis Agama. Salah seorang yang paling terkenal adalah Fritjhof Schuon yang dikemudian hari terkenal dengan teori Kesatuan Transenden Agama- agama.
Pengalaman spiritual Rene Guénon dalam gerakan teosofi dan Freemason mendorongnya untuk menyimpulkan bahwa semua agama memiliki kebenaran dan bersatu pada pada level Kebenaran. Salah seorang tokoh penerus pemikiran Guénon adalah Frithjof Schuon, seorang tokoh terkemuka dalam religio perennis (Agama Abadi). Ia menegaskan prinsip-prinsip metafisika tradisional, mengeksplorasi dimensi-dimensi esoteris agama, menembus bentuk-bentuk mitologis dan agama serta mengkritik modernitas. Ia mengangkat perbedaan antara dimensi- dimensi tradisi agama eksoteris dan esoteris sekaligus menyingkap titik temu metafisik antar semua agama-agama ortodoks. Ia mengungkap Satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna. Ia menyeru supaya manusia dekat kepada-Nya.
Guenon dan Schuon yang memformulasi kesamaan agama dalam level esoteris adalah hasil interaksi mereka dengan para tokoh Freemason dan Teosof. Gagasan pada intinya semua agama sama disebarkan pada awalnya oleh para pengikut Freemason, yang ingin merelevansikan ajaran-ajaran Yahudi, mistis, dan hikmah kuno (ancient wisdom) ke zaman modern.
Perkembangan metafisika, atau lebih tepatnya, kebangkitan kembali metafisika di Barat, semakin kentara dengan adanya upaya untuk bisa menghidupkan kembali Philosophia Perennis, yang dipimpin oleh Rene Goenon, seorang ahli metafisika abad dua puluh dari Perancis, yang kemudian masuk Islam dan kemudian menghabiskan bagian akhir hidupnya di Mesir.[3]  Peranan yang dimainkan oleh Goenon dalam kebangkitan metafisika dan filsafat perenial, tercermin dari munculnya beberapa ilmuwan dan metafisikawan terkenal yang mengaku sebagai murid Goenon. Misalnya, Frithjof Schuon, Titus Burckhardt, Martin Lings, Marco Pallis dan Seyyed Hossein Nasr.16  Sebagian besar adalah kaum intelektual dan ilmuwan yang telah tersadarkan dari nestapa kehidupan modern, lalu mencari dan mendapatkan hikmah dari Timur, yakni tradisi-tradisi religius yang agung, seperti Taoisme, Budhisme, dan Islam, khususnya Sufisme.[4]
            Gagasan Pluralisme masuk ke dalam waacana pemikiran Islam melalui tulisan-tulisan René Guénon (1886 – 1851) dan diikuti oleh muridnya Frithjof Schoun. René Guénon adalah seorang ahli dari perkumpulan Theosophical Society di Perancis yang didirikan oleh seorang FreeMason Gerrad Encausse (1865-1916). Encause mendirikan Free SchoolOf Heremtic Science, sekolah yang mengkaji masalah misticisme. Pengalaman Spiritual René Guénon dalam Theosophical Society dan FreeMasonry mendorongnya untuk mengambil kesimpulan bahwa agama memiliki kebenaran dan bersatu dalam level kebenaran.[5]
            Pada tahun 1912, René Guénon yang semula beragama Kristen masuk ke dalam agama Islam dan berganti nama menjadi Abdul Wahid Yahya. Dalam tulisan dan buku-bukunya, René Guénon menghidupkan kembali nilai-nilai, hikmah dan kebenaran abadi yang ada pada tradisi dan agama-agama yang disebutnya Tradisi Primordial (Primordial Tradition).[6]
            Menurutnya walaupun setiap agama itu berbeda, tetapi semua agama itu memiliki tradisi yang sama, disebut dengan Tradisi Primodial, yang dimiliki oleh semua agama. Perbedaan teknis yang terdapat dalam setiap agama merupakan jalan dan cara yang berbeda untuk merealisasikan kebenaran.
            Menurut Rene Guenon, semua agama termasuk agama Islam, tidak dapat dikatakan benar atau salah dengan cara mengkaji ajaran agamanya, sebab semua agama itu mempunyai kebenaran yang terkandung dalam Tradisi Primordial. Semua agama dalam kegiatan ritualnya hanya merupakan cara untuk mencapai Tradisi Primordial. Rene Geunon meninggal pada tahun 1951 di Kairo sebagai seorang muslim.[7]
            Pemikiran Rene Geunon diteruskan oleh muridnya Frijof Schuon. Sejak berusia 16 tahun, Scuon telah membaca tulisan Geunon “Orient et Occident Kagum dengan pemikiran Geunon, Schuon berkirim surat dengan Geuonn selama 20 tahun. Setelah berkorespodensi sekian lama, akhirnya Scoun berjumpa pertama kali dengan Rene Geunon di Mesir pada tahun 1938, dan masuk islam pada tahun 1948 dengan nama Isa Nuruddin.


[1]http://pikirancerah.wordpress.com, Tokoh-tokoh Pluralisme Agama, Dwi Budiman. Diakses pada tanggal 28 Maret 2011.
·Seorang Freemason mendirikan cabang The Theosophical Society_sebuah badan kebenaran yang merupakan dasar dari semua agama, yang tidak dapat dimiliki dan dimonopoli oleh agama atau kepercayaan manapun.Theosofi menawarkan sebuah filsafat yang membuat kehidupan menjadi dapat dimengerti, dan theosofi menunjukkan bahwa keadilan dan cinta-kasihlah yang membimbing evolusi kehidupan_di Perancis. Ia mendirikan Free School of Hermetic Sciences, sebuah sekolah yang mengkaji tentang mistis.
[2]Ibid  
[3]Robin Waterfield, Rene Guenon and the Future of the West: the Life and Writings of a 20th—Century Metaphysician (London: Crucible, Great Britain, 1987).
[4]http://www.ditpertais.net, Membangun Kerangka Keilmuan IAIN; Perspektif Filosofis, Mulyadhi Kartanegara. Diakses pada tanggal 28 Maret 2011.
[5]http://forum.detik.com, Asal-usul Pluralisme Agama, diakses pada tanggal 29 Maret 2011.
[6]Ibid  
[7]Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENULIS BUKU KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA

H. HAMZAH HARUN AL-RASYID. Lahir 30 juli 1962. Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini memperoleh gelar: • Sarjana Muda (BA) 1987,...