Laman

PEMIKIRAN MEHDI HA’IRI YAZDI TENTANG ILMU HUDHURI

Pendiri Mazhab Pencerahan (isyraq) Suhrawardi mendasarkan epistemologinya pada pembedaan antara pengetahuan melalui konsep atau konseptualisasi (ilmu hushuli) dan pengetahuan melalui kehadiran (ilmu hudhuri). Mehdi Ha’iri Yazdi mengawali juga dengan
pembedaan seperti ini, dengan memperluas makna ilmu hudhuri dan konsekuensi-konsekuensinya bagi epistemologi, kosmologi, teodesi dan mistisisme. Ia melakukan pembedaan antara pengetahuan yang didasarkan pada konsep di dalam pikiran mengenai sesuatu yang sebenarnya tak hadir dalam pikiran, dengan konsep pengetahuan yang didasarkan pada sesuatu yang hadir dengan sendirinya dalam pikiran dan yang eksistensinya tak terpisahkan dari pengetahuan tentangnya.[1]
Makna yang lebih mendalam tentang ilmu hudhuri dalam pandangan Mehdi Ha’iri Yazdi sepanjang menyangkut pengetahuan tentang diri sendiri atau pengetahuan diri, pengetahuan Tuhan tentang dunia, dan keberadaan dunia sebagai pengetahuan kehadiran oleh Tuhan. Mehdi Ha’iri Yazdi menentang pandangan para tokoh peripatetik Islam tertentu yang memandang dunia sebagai hasil kontemplasi Tuhan akan Diri-Nya, bukan sebagai pengetahuan yang hadir.[2]
Kajian ilmu hudhuri mencoba membuktikan kebenaran identitas diri performatif dalam wujud manusia, beberapa implikas konsep ilmu hudhuri di antaranya konsep kesatuan mistis diri dengan Yang Esa, dan Yang Esa dengan diri, konotasi ilmu hudhuri sebagai identik dengan konsep makna tak terbatas dari wujud identitas diri hakikat manusia, penjelasan rasional terhadap pengalaman-pengalama mistis, gagasan peniadaan diri atau fana’ dan peniadaan-peniadaan (fana’ al-fana’) yang menghasilkan kesatuan dengan kebenaran mutlak wujud.
Dalam makalah ini, penulis mengurai pemikiran Mehdi Ha’iri Yazdi tentang ilmu hudhuri sebagai prinsip-prinsip epistemologi dalam filsafat Islam.


[1]Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy, Knowledge by Presence, terj. Ahsin Mohammad, Ilmu Hudhuri; Prinsip-prinsip Epistemologi dalam Filsafat Islam (Cet. II; Bandung: Mizan, 1996), h. 14.
[2]Ibid
Pendiri Mazhab Pencerahan (isyraq) Suhrawardi mendasarkan epistemologinya pada pembedaan antara pengetahuan melalui konsep atau konseptualisasi (ilmu hushuli) dan pengetahuan melalui kehadiran (ilmu hudhuri). Mehdi Ha’iri Yazdi mengawali juga dengan pembedaan seperti ini, dengan memperluas makna ilmu hudhuri dan konsekuensi-konsekuensinya bagi epistemologi, kosmologi, teodesi dan mistisisme. Ia melakukan pembedaan antara pengetahuan yang didasarkan pada konsep di dalam pikiran mengenai sesuatu yang sebenarnya tak hadir dalam pikiran, dengan konsep pengetahuan yang didasarkan pada sesuatu yang hadir dengan sendirinya dalam pikiran dan yang eksistensinya tak terpisahkan dari pengetahuan tentangnya.[1]
Makna yang lebih mendalam tentang ilmu hudhuri dalam pandangan Mehdi Ha’iri Yazdi sepanjang menyangkut pengetahuan tentang diri sendiri atau pengetahuan diri, pengetahuan Tuhan tentang dunia, dan keberadaan dunia sebagai pengetahuan kehadiran oleh Tuhan. Mehdi Ha’iri Yazdi menentang pandangan para tokoh peripatetik Islam tertentu yang memandang dunia sebagai hasil kontemplasi Tuhan akan Diri-Nya, bukan sebagai pengetahuan yang hadir.[2]
Kajian ilmu hudhuri mencoba membuktikan kebenaran identitas diri performatif dalam wujud manusia, beberapa implikas konsep ilmu hudhuri di antaranya konsep kesatuan mistis diri dengan Yang Esa, dan Yang Esa dengan diri, konotasi ilmu hudhuri sebagai identik dengan konsep makna tak terbatas dari wujud identitas diri hakikat manusia, penjelasan rasional terhadap pengalaman-pengalama mistis, gagasan peniadaan diri atau fana’ dan peniadaan-peniadaan (fana’ al-fana’) yang menghasilkan kesatuan dengan kebenaran mutlak wujud.
Dalam makalah ini, penulis mengurai pemikiran Mehdi Ha’iri Yazdi tentang ilmu hudhuri sebagai prinsip-prinsip epistemologi dalam filsafat Islam.


[1]Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy, Knowledge by Presence, terj. Ahsin Mohammad, Ilmu Hudhuri; Prinsip-prinsip Epistemologi dalam Filsafat Islam (Cet. II; Bandung: Mizan, 1996), h. 14.
[2]Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar