Laman

Pandangan Essensialisme, Eksistensialisme, Perennialisme, dan Pragmatisme.

Pendidikan Islam dengan pandangan essensialisme, eksistensialisme, perennialisme dan pragmatisme.

            Prinsip esensialisme menghendaki agar landasan pendidikan adalah nilai-nilai yang esensial dan bersifat menuntun. Esensialisme memberikan penekanan upaya kependidikan dalam hal pengujian ulang materi-materi kurikulum, memberikan pembedaan-pembedaan esensial dan non esensial dalam berbagai program sekolah dan memberikan kembali pengukuhan autoritas pendidik dalam suatu kelas di sekolah.
Esensialis  percaya bahwa pelaksanaan pendidikan memerlukan modifikasi, dan penyempurnaan sesuai dengan kondisi manusia yang dinamis dan selalu berkembang, akan tetapi pendidikan harus dibina atas dasar niali-nilai yang kukuh dan tahan lama agar memberikan kejelasan dan kestabilan arah bangunannya. Pendidikan yang bersifat fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak   berhubungan dengan doktrin dan norma yang universal menjadikan eksistensinya mudah goyah dan tidak memiliki arah yang jelas. Oleh karena itu pendidikan mesti didasarkan pada asas yang kukuh yang secara nyata telah teruji kebenaran dan ketangguhannya dalam perjalanan sejarah.

                        Esensialisme mengemukakan bahwa sistem sekolah  dengan mengutamakan realita dunia dimana ia hidup dan situasi praktis sangat diperlukan, karena memang   pendidikan tidak lain adalah agar anak-anak didiknya kelak mampu hidup dalam masyarakatnya. Hal tersebut berkaitan dengan hal-hal esensial atau mendasar yang seharusnya manusia tahu dan menyadari sepenuhnya tentang dunia dimana mereka tinggal dan juga bagi kelangsungan hidupnya.[1]
            Untuk merumuskan hakekat belajar yang sesungguhnya, esensialisme berupaya untuk kembali pada psikologi pendidikan tentang pola dan cara manusia dalam proses perolehan pengetahuan melalui aktifitas belajar. Para esensialis memaknai belajar sebagai melatih daya pikir, ingat, dan perasaan. Mereka juga percaya bahwa proses belajar adalah proses penyesuaian diri individu dengan lingkungan dalam pola stimulus dan respon. Berdasarkan konsep ini, esensialis sangat yakin bahwa belajar mesti didasarkan pada disiplin dan kerja keras karena proses belajar akan berlangsung baik dengan adanya dedikasi yang tinggi untuk meraih tujuan yang lebih jauh.
            Esensialis berkeyakinan, bahwa inisiatif pendidikan bergantung sepenuhnya pada guru, bukan pada subjek didik. Oleh karena itu guru harus mengambil peranan paling besar untuk mengatur dan mengarahkan subyek didik kearah kedewasaan.
            Sebagai ilmu, pendidikan Islam bertugas untuk memberikan penganalisaan secara mendalam dan terinci tentang problema-problema kependidikan Islam sampai kepada penyelesaiannya. Pendidikan Islam sebagai ilmu, tidak hanya melandasi tugasnya pada teori-teori saja, akan tetapi memperhatikan juga fakta-fakta empiris atau praktis yang berlangsung dalam masyarakat sebagai bahan analisa. Oleh sebab itu masalah pendidikan akan dapat di selesaikan bila mana didasarkan atas keterkaitan hubungan antara teori dan praktek, karena pendidikan akan mampu berkembang bila mana benar-benar terlibat dalam dinamika kehidupan masyarakat.
            Dengan demikian filsafat pendidikan menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan Islam tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses kependidikan.
             Eksistensialisme, pusat pembicaraannya adalah keberadaan manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. Tujuan pendidikannya adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri.
            Lain lagi dengan perennialisme, ia memandang kebenaran sebagai hal yang konstan, abadi, atau perennial. Tujuan dari pendidikan, menurut pemikiran perennialis, adalah memastikan bahwa para siswa memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau gagasan-gagasan besar yang tidak berubah. Kaum perennialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakekat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selama berabad-abad, jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memcahkan permasalahan-permasalahan disetiap zaman.
            Dari pandangan perennialisme tersebut tentang pendidikan maka menurut penulis, pendidikan Islam pun juga menganjurkan agar potensi yang besar yang kita miliki dipergunakan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di setiap zaman.
            Namun pandangan perennialis tidak semuanya sesuai dengan pendidikan Islam.
            Filsafat perennialis menekankan kemampuan-kemampuan berpikir rasional manusia, filsafat itu merupakan pengolahan intelektual yang membuat manusia menjadi benar-benar manusia dan membedakan mereka dari binatang-binatang lain.[2]
            Kalau pragmatisme  tidak disangkal lagi bahwa dia telah memberikan suatu sumbangan yang sangat  besar terhadap teori pendidikan. John Dewey merupakan tokoh pragmatisme yang secara eksplisit membahas pendidikan, dan secara sistematis menyusun teori pendidikan yang didasarkan atas filsafat pragmatisme.
            Menurut pragmatisme pendidikan bukan merupakan suatu proses pembentukan dari luar, dan juga bukan merupakan suatu pemerkahan kekuatan-kekuatan laten dengan sendirinya. Pendidikan menurut pragmatism, merupakan suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman-pengalaman individu. Dalam hal ini dapat dikatakan, baik anak maupun orang dewasa selalu belajar dari pengalamannya.
            Jhon Dewey mengemukakan perlunya atau pentingnya pendidikan, karena berdasarkan atas tiga pokok pemikiran, yaitu:
a.     Pendidikan merupakan kebutuhan untuk hidup
b.     Pendidikan sebagai pertumbuhan
c.     Pendidikan sebagai fungsi sosial.
Dalam perjalanan hidup umat manusia senantiasa dihadapkan kepada pengalaman-pengalaman peristiwa alamiyah yang ada di sekitarnya. Pengalaman-pengalaman lahir ini merupakan sejarah hidupnya yang mengesankan dan kemudian menghidupkan serta menjadi pengalaman batinnya sebagai alat pendorong untuk mengadakan perubahan-perubahan bagi kepentingan hidup dan kehidupannya.
Dalam pendidikan Islam dikenal pendekatan dalam pembelajaran yakni  pendekatan pengalaman. Pendekatan ini merupakan pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan baik secara individual maupun kelompok.
Dalam pembelajaran ibadah misalnya, guru atau pendidik akan menemui kesulitan yang besar apabila  mengabaikan pendekatan ini. Peserta didik harus mengalami sendiri ibadah itu dengan bimbingan gurunya. Belajar dari pengalaman jauh lebih baik dari pada hanya sekedar bicara, tidak pernah berbuat sama sekali. Pengalaman yang dimaksud disini tentunya pengalaman yang bersifat mendidik. Memberikan pengalaman yang edukatif kepada peserta didik diarahkan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Pragmatisme berasal dari  perkataan pragma  artinya praktik atau aku berbuat, maksudnya bahwa makna segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan.[3]


[1] Dari internet, posted by: ohitsujiza on: February 23,2009
[2] Dari internet, aliran perennialisme, htm
[3] Dari internet, pregmatisme, htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar