Laman

MUQADDIMAH


Dalam khazanah hisrorisitas Islam ditemukan bahwa aspek teologi atau akidah merupakan bagian terpenting dalam ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Akidah lebih awal ditekankan daripada syari’at, karena akidah merupakan ajaran yang menjadi prioritas utama sejak dekade Makkah sedangkan syari’at baru ditekankan di Madinah.  

Dari dialog yang terjadi antara Nabi Muhammad bersama sahabatnya diketahui bahwa ada tiga tema senteral teologi yang diprioritaskan, yaitu; Pertama, mengakui keesaan Tuhan, Kedua,  membenarkan Muhammad sebagai utusan Tuhan, dan Ketiga, meyakini adanya hari akhirat. [1]

Tiga tema senteral tersebut terlihat dalam mayoritas ayat-ayat al-Qur'an yang diturunkan di Makkah. Ayat-ayat al-Qur'an yang diturunkan pada tahun pertama lebih menekankan kemantapan kerasulan Muhammad s.a.w., agar kepribadian beliau teguh dan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dari umatnya.

            Meskipun keterangan berkaitan dengan  teologi yang terdapat dalam al-Qur'an dan Hadis diterima umat tanpa mempersoalkannya, namun tidak berarti pada masa itu tidak pernah muncul masalah-masalah teologi di kalangan umat Islam. Sebenarnya, pada masa itu sudah muncul beberapa masalah teologi yang dihadapi oleh Nabi Muhammad dalam dakwahnya.

Di sini, peranan wahyu sebagai sumber akidah sangat besar. Beberapa ayat al-Qur'an diturunkan dengan tujuan menjelaskan dan menjernihkan masalah masalah tertentu, termasuk masalah teologi.[2] Argument  ini terlihat dalam pernyataan Nabi Muhammad yang menghardik beberapa orang sahabat yang terlibat dalam perdebatan sengit menyangkut masalah takdir.

Masing-masing pihak mempergunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk memperkuat argumen mereka, timbul kesan adanya pertentangan antara ayat-ayat al-Qur’an. Nabi Muhammad memperingatkan bahawa perbuatan mereka itu merupakan pekerjaan umat terdahulu yang mengakibatkan kesesatan mereka.

            Di samping itu, Nabi Muhammad juga pernah terlibat dalam suatu forum diskusi, dengan pihak utusan umat Kristian dari Najran, mereka mempersoalkan  ketuhanan Nabi ‘Isa as. Dengan kekuatan argumentasi yang rasional, Nabi Muhammad dapat mematahkan keyakinan mereka, namun mereka tetap jahil, meskipun mereka mengaku kalah dalam diskusi tersebut.

            Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa masalah teologi betul-betul bersumber dari wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw dan selanjutnya menjadi pembina akidah umat. Tetapi dari perspektif metodologi, baik dalam menerima mahupun dalam mendakwahkannya, pada masa ini sudah terdapat bibit-bibit metodologi yang bersifat;

Pertama, Tekstual, yakni yang berpegang teguh kepada teks wahyu tanpa mempersoalkannya, seperti sikap sahabat pada umumnya waktu itu; Kedua, Rasional, yang mencoba mendiskusikan masalah teologi dengan memperdalam nalar, seperti sikap sebahagian sahabat yang mempertanyakan masalah takdir dan pencipta; dan Ketiga, Dialektik, yang mempergunakan aqal dalam bentuk pertukaran fikiran yang intensif, seperti pada peristiwa perdebatan masalah takdir yang dilakukan oleh sebahagian sahabat, dan masalah ketuhanan Nabi cIsa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan utusan Kristian dari Najran.

Tiga bentuk metodologi ini tetap berlanjut dan diaplikasikan dalam khazanah intelektual Islam hingga hari ini, khususnya bagi kalangan Asy’ariyyin, meskipun penggunaan metodologi dialektik dalam aliran  ini hanya bersifat kondisional, dalam arti tidak untuk memuaskan semua orang, tetapi dapat berjalan efektif dalam menghadapi lawan debat tradisinya, Muktazilah.

Sejak Abu al-Hasan al-Asy’ary memaklumkan dirinya keluar dari Muktazilah sebagai aliran yang telah dianutnya hingga usia 40 tahun. Sejak itu, beliau merumuskan teologi baru dan mendapatkan banyak pengikut karena dianggap sebagai suatu bentuk kesinambungan dari faham Sunni ([3]) yang dianut oleh mayoritas umat Islam, tetapi sebelumnya belum pernah diformulasikan secara lengkap dan sistematis.

            Fakta sejarah menunjukan bahwa tampilnya al-Asy’ari tepat disaat sedang menghangatnya pertentangan antara dua kelompok ekstrim yaitu; antara kaum Muktazilah yang didukung penguasa, dengan kelompok ahli Hadis yang didukung mayoritas umat Islam. Upaya al-Asy’ary mendamaikan dua kelompok ekstrim yang bertentangan tersebut menyebabkan banyak pakar menilai bahwa aliran al- Asy’ariyyah adalah aliran kalam poros tengah (moderat) antara faham Muktazilah dan ahli Hadis disatu sisi dan antara kaum Jabariyyah dan Qadariyyah di sisi yang lain.

            Sebagai aliran ‘poros tengah’  antara kaum Muktazilah yang rasionalis-metaforis dan kaum ahli Hadis yang ekstrim tekstualis, maka al-Asy’ariyyah dalam metodologi kalamnya di samping menggunakan sumber primer berupa teks-teks suci dari al-Qur'an dan al-Sunnah, separti yang diekspresikan oleh ahli Hadis, juga menggunakan metode rasional berupa mantik atau logika Aristotle, sehingga dia menggunakan akal dan naqal secara seimbang. 

Abu Hasan al-Ashcari, pembangun “Teologi Poros Tengah”  adalah seorang pemikir yang muncul pada masa Islam mecapai puncak kemajuan pemikiran. Dia termasuk teolog terbesar yang pernah dimiliki dunia Islam. Kebesaran tokoh ini terbukti dari mayoritas umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia dan Malaysia, adalah penganut faham al-Ashcariyyah, terutama yang bermazhab Syafii. Al-Asy’ari mulanya adalah seorang tokoh penting di kalangan Muktazilah.

Ia memperoleh latihan intelektual di bawah “gemblengan” seorang tokoh Muktazilah dizamannya, yaaitu Abu cAli al-Jubbai. Bahkan Prestasinya sebagai kader Muktazilah telah teruji antara lain dengan kepercayaan yang dilimpahkan oleh al-Jubbai kepadanya, untuk mewakili sang guru beradu argumentasi dengan lawan-lawan debatnya.
             
            Pada awalnya, Abu al-Hasan al-Ashcari belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur’an dalam asuhan orang tuanya, yang kemudian meninggal dunia ketika ia masih kecil. Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadis, fiqh, tafsir dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah al-Jumhi, Sahl Ibn Nuh, Muhammad Ibn Yaqub, Abd al-Rahman Ibn Khayr dan lain-lain. ([4])

Beliau  belajar fiqh Syafii kepada seorang Faqih, Abu Ishaq al-Mawardi (w.340 H)([5]) seorang tokoh Muktazilah di Basrah Sampai umur empat puluh tahun ia masih merupakan seorang penganut Muktazilah.[6] Al-Asy’ari berguru kepada Abu cAli al-Jubbai (w.303H), seorang tokoh terkenal Muktazilah. Ia sering mewakili gurunya berdebat dan melaksanakan tugas-tugas pengajaran.[7]

Namun, ketika ia sampai pada level pemikiran yang matang, dia mengalami konversi. Dia meninggalkan faham Muktazilah dan berbalik menyerang gurunya dengan alat (logika) yang digunakan aliran itu sendiri, dan menetapkan faham baru yang dianutnya, karena menurut ungkapannya, walaupun dirinya telah lama bergelut dan mendalami mazhab itu, akan tetapi dia belum juga mendapatkan sesuatu yang bisa menenteramkan jiwa dan pikirannya.

Bahkan, dalam penilaian Ashcari, Aliran Muktazilah telah terlampau jauh dalam memberikan batas kewenangan bagi akal sehingga agama tidak lebih dari sekedar isu-isu falsafah dan argumen logika, teks-teks al-Qur’an dan Hadis  tidak lagi menjadi acuan dan pedoman, tetapi justru sebaliknya, agama hanyalah menjadi perbudakan akal.

Di lain pihak, Asy’ari melihat metodologi Muhadditsin dan Hashwiyyah akan membawa umat Islam kepada stagnasi pemikiran yang dapat mengungkung  umat Islam dalam suatu bentuk pemikiran yang beku. Oleh karena itu, menurut pendapatnya, mempersatukan antara aliran rasionalis dengan aliran tekstualis dalam suatu orientasi pemikiran yang moderat, adalah sesuatu kemestian dan prestasi yang cemerlang, karena disamping ia dapat mereform jati diri dan  wibawah serta keutuhan umat Islam, ia juga mendudukkan nas dan akal secara selaras. ([8])
Meskipun pelbagai kesimpulan dari analisis yang dilakukan terhadap al-Ashcari, namun faham baru yang didirikannya, Asy’ariyyah,([9]) masih merupakan aliran kalam yang dominan di dunia Islam hingga saat ini.([10])

Al-Asy’ari menggagas ‘Teologi poros tengah” dengan mengapresiasi nas  dan akal sebagai landasan utama. Ajaran-ajaran al-Asy’ari ini tertuang di dalam kitab-kitab yang ditulisnya sendiri, terutama, kitab al-Lumac  fi al-radd calā ahl al-ziyagh wa al-bidac; Maqalat al- Islamiyyin; dan al-Ibanah can usul al-diyanah. Di samping itu, juga terdapat di dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para pengikutnya.

            Dalam perkembangan selanjutnya, aliran ini mendapat dukungan dari mayoritas umat dan ulama Islam, sehingga, menurut al-Nasyar, Ilmuan dan tokoh-tokoh aliran al-Asy’ariyyah adalah ilmuan yang telah berhasil mengekspresikan substansi filsafat Islam yang sesungguhnya. Sebab hanya merekalah yang mampu menampilkan secara substansial kandungan al-Qurān dan al-Sunnah secara filosofis, begitu pula visi teologi Ahli Sunah waljamaah telah menjelma dan mengkristal dalam ideologi mereka. Itu sebabnya, teologi al-Ashcariyyah mampu menjadi sample aqidah Ahli Sunnah Waljamaah hingga saat ini, dan akan tetap terpelihara sampai Allah menerima bumi dan isinya (hari kiamat).[11]

Sebelum populoaritas al-Asy’ariyyah terbangun, kancah pemikiran teologi saat itu dikuasai oleh dua mainstream (aliran) teologi yang berseteru dalam memahami akidah Islam. Dua mainstream yang dimaksud adalah aliran Muktazilah dan aliran Hanabilah. Muktazilah adalah sebuah aliran yang menjunjung tinggi akal dalam kajian-kajian teologi,  manakala Hanabilah  adalah aliran yang sangat menjunjung tinggi nas dalam mengapresiasikan fikiran-fikirannya.

Berdasarkan evaluasi Imam Asy’ari, kedua-dua mainstream yang dimaksud, sama bahayanya bagi umat Islam, sebab kedua-duanya merupakan embrio perpecahan yang mengancam integrasi  umat Islam.  Muktazilah, menurut Asy’ari, akan menggiring ajaran Islam kepada kajian-kajian filosofis yang jauh daripada  kejernihan akidah Islam. Manakala aliran Hanabilah akan menggiring ajaran Islam kepada kejumudan.

Dari kondisi paktual yang meliputi umat Islam itulah memberikan inspirasi dan motivasi kepada Abu Hasan al-Ashcari. Ia kemudian meyakini bahwa sebuah kemestian bilamana kalangan rasional dan  tekstual dapat bersatu dan bertemu dalam sebuah aliran baru (moderat)  yang dapat mengapresiasi kedua-dua sumber akidah secara proporsional, iaitu akal dan nas secara terpadu.[12]

Imam Asy’ari kemudian menggagas akidah ahli Sunah waljamaah yang dalam tulisan ini disapa dengan ‘teologi poros tengah’ dengan konstruk pemikiran yang baru, berupaya menyelaraskan  akal dan nas dalam memahami teks-teks agama.

            Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa konsep teologi yang telah dibangun oleh Abu Hasan al-Asy’ari adalah konsep “teologi poros tengah. Rumusan metodologi pemikiran teologi al-Asy’ari ini, selain menggunakan argument tekstual berupa teks-teks suci dari al-Qur’an dan al-Sunnah seperti yang dilakukan oleh ahli Hadits yang didukung, juga menggunakan argument rasional berupa mantik atau logika Aristoteles. Namun pendekatan mantik ini ia gunakan bukanlah sebagai kerangka kebenaran, melainkan sebagai alat untuk membuat kejelasan-kejelasan.

            Pendekatan yang digunakan al-Asy’ari dalam kajian ‘teologi poros tengah’ tergolong agak unik, beliau mengambil yang baik dari pendekatan tekstual Salafiyyah, sehingga ia mengguakan argument akal dan nakal secara seimbang, mengeksploitasi akal secara maksimal tetapi tidak sebebas Muktazilah, memegang naqal dengan kuat tetapi ia juga tidak seketat Hanabilah dalam penolakan mereka terhadap argument logika.


[1] cAli Mustafa al-Ghurabi, Tarikh al-firaq al-islamiyyah wa nash’ah cilm al-kalam,., hal. 8-9
[2] Misalnya, surat al-Baqarah ayat 186 diturunkan kerana adanya pertanyaan sebahagian sahabat tentang posisi Tuhan. jauh atau dekat, agar cara berdoa boleh disesuaikan. Lihat Ibn Kathir, 1984, Tafsir Ibn Kathir, Bayrut: Dar al-fikr, Jil. 1, hal. 2. Begitu juga surat al-Baqarah: 97-98 diturunkan sebagai pembenaran atas sikap Umar Ibn al-Khaththab dan argumentasinya dalam menghadapi persepsi yang salah Dari orang Yahudi yang memusuhi malaikat Jibril, tetapi tidak demikian terhadap malaikat Mikail. Dalam percakapan dengan mereka, Umar menyadarkan kekeliruan mereka tersebut secara rasional, bahwa memusuhi salah satu Dari dua malaikat itu (Jibril dan Mikail) bererti memusuhi keduanya dan berimplikasi kepada memusuhi Allah, yang memiliki keduanya. Lihat Musthafa Hilmi, t.th., Manhaj culama al Hadith wa al-Sunnah fi usul al-din, Dar al-dacwah, hal.11.
[3] Faham Sunni dalam Islam disebut juga: Ahli Sunah waljamaah, dengan watak utamanya: neutral dalam politik dan moderat dalam faham keagamaan. Lihat Fazlur Rahman, hal. 87.
[4] al-Ashcari, al-lbanah can usul al-diyanah, hal. 9.
[5] Ahmad Mahmud Subhi, Fi cilm al-kalam, hal. 36.
[6] Louis Gardet dan J. Anawati, Falsafah al-fikr al-diny , hal. 93.
[7] Ahmad Amin, Duhr al-Islam, hal. 65.
[8] Hammudah Ghurabah, al-Ashcary, hal.60-67.
[9] Ibrahim Madkur, Fi al-falsafah al-Islamiyyah, hal. 114.
[10] Menurut Mustafa cabd al-Razik, di dunia Islam kini terdapat dua aliran kalam yang masih menguasai umat, iaitu Ashcariyyah dan Salafiyyah; tetapi yang disebutkan pertama tanpaknya masih dianggapnya dominan. al-Raziq, Tamhid li tarakh al-falsafah al-Islamiyyah, hal. 259.
[11] cAli Sami al-Nashar, Nash’at al-fikr, Jil.1, hal. 441. Ibrahim Madkur, hal. 45,115.
[12] Ghurabah, Abu al Hasan al-Ashcary, h.67

Tidak ada komentar:

Posting Komentar