Laman

Konsep Pendidikan Menurut K.H.Hasyim Asy’ari

Karya-karya Tulis K.H. Hasyim Asy’ari
            Nama lengkap KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim–yang mempunyai gelar Pangeran Bona–ibn Abd al-Rahman–yang dikenal dengan Jaka
Tingkir Sultan Hadiwijoyo–ibn Abdullah ibn Abdu al-’Aziz ibn Abd al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden ‘Ain al-Yaqin–yang disebut dengan Sunan Giri.[1] Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur, pada hari Selasa Kliwon 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan dengan tanggal 14 Pebruari 1871.[2] KH. Hasyim Asy’ari wafat pada jam 03.45 dini hari tanggal 25 Juli 1947 bertepatan dengan 7 Ramadhan tahun 1366 dalam usia 79 tahun.[3]
            Aktivitas KH. Hasyim Asy’ari di bidang sosial lainnya adalah mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), bersama dengan ulama besar di Jawa lainnya, seperti Syekh Abdul Wahhab dan Syekh Bishri Syansuri, pada tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H.[4]
Organisasi ini didukung oleh para ulama, terutama ulama Jawa, dan komunitas pesantren. Memang pada awalnya, organisasi ini dikembangkan untuk meresponi wacana khilafah dan gerakan purifikasi yang ketika itu dikembangkan Rasyid Ridla di Mesir, tetapi pada perkembangannya kemudian organisasi itu melakukan rekonstruksi sosial keagamaan yang lebih umum. Bahkan, dewasa ini, Nahdlatul Ulama berkembang menjadi organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia.
            Sebagai seorang intelektual, KH. Hasyim Asy’ari telah menyumbangkan banyak hal yang berharga bagi pengembangan peradaban, di antaranya adalah sejumlah literatur yang berhasil ditulisnya. Karya-karya tulis KH. Hasyim Asy’ari yang terkenal adalah sebagai berikut.
1.  Adab al-’âlim wa al-muta’allim fìmâ yahtâj ilaih al-muta’allim fì Ahwâl ta’allum wa mâ yatawaqaf ‘alaih al-mu’allim fì maqâmat ta’lìmih.
2.  Ziyâdat ta’lìqât, radda fìhâ manzhûmat al-syaikh ‘Abd Allâh bin Yâsìn al-Fâsûrâni allatì bihujûbihâ ‘alâ Ahl Jam’iyyah Nahdlat al-’Ulamâ.
3.  al-Tanbihât al-wâjibât liman yashna’ al-maulid al-munkarât.
4.  al-Risâlat al-jâmi’at, sharh fìhâ ahwâal al-mautâ wa asyrâth al-sâ’at ma’ bayân mafhûm al-sunnah wa al-bid’ah.
5.   al-Nûr al-mubìn fì mahabbah sayyid al-mursalìn, bain fìhi ma’nâ al-mahabbah   lirasûl Allâh ma wâ yata’allaq bihâ man itttbâ’ihâ wa ihyâ al-sunnatih.
6.   Hâsyiyah ‘al­â fath al-rahmân bi syarh risâlat al-walì Ruslân li syaikh al-Isâm Zakariyâ al-Anshâri.
7.  al-Durr al-muntatsirah fì al-masâil al-tis’i ‘asyrat, sharh fìhâ masalat al-thâriqah wa al-wil­âyah wa mâ yata’allaq bihimâ min al-umûr al-muhimmah li ahl al-tharìqah.
8.  al-Tibyân fì al-nahy ‘an muqâthi’ah al-ikhwân, bain fìh ahammiyat shillat al-rahim wa dharur qath’ihâ.
9.  al-Risâlat al-tauhìdiyah, wahiya risâlah shaghìrat fì bayân ‘aqìdah ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah.
10. al-Qalâid fì bayân mâ yajib min al-’aqâid.

        Akan tetapi, cukup disayangkan bahwa sejumlah karya KH. Hasyim Asy’âri itu tidak seluruhnya dapat diperoleh oleh masyarakat umum secara bebas. Ada sebagian karya-karyanya yang belum dipublikasikan. Dimungkinkan karya-karya yang belum dipublikasikan itu disebabkan oleh sistem dokumentasi yang kurang maksimal. Terbukti, perhatian organisasi ke-NU-an kurang terlihat dalam

mendokumentasikan dan mempublikasikan karya-karya KH. Hasyim Asy’ari, yang merupakan founding father NU.

            Kitab Adab al-’âlim wa al-Muta’allim merupakan kitab yang berisi tentang konsep pendidikan. Kitab ini selesai disusun hari Ahad pada tanggal 22 Jumaday al-Tsâni tahun 1343 H.[5] KH. Hasyim Asy’ari menulis kitab ini didasari oleh kesadaran akan perlunya literatur yang membahas tentang etika (adab) dalam mencari ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang yang mencarinya harus memperlihatkan etika-etika yang luhur pula.[6] Dalam konteks ini, KH. Hasyim Asy’âri tampaknya berkeinginan bahwa dalam melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan itu disertai oleh perilaku sosial yang santun (al-akhlâq al-karîmah).

            Kitab Adab al-’âlim wa al-muta’allim ini, secara keseluruhan, terdiri atas delapan bab yang masing-masing membahas tentang keutamaan ilmu dan ilmuwan serta pembelajaran, etika yang mesti dicamkan dalam belajar, etika seorang murid terhadap guru, etika murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomani bersama guru, etika yang harus diperhatikan bagi guru, etika guru ketika dan akan mengajar, etika guru terhadap murid-muridnya, etika menggunakan literatur, dan alat-alat yang digunakan dalam belajar. Kedelapan bab tersebut sesungguhnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian penting, yakni signifkansi pendidikan, tanggung jawab dan tugas murid, serta tanggung jawab dan tugas guru.


[1] KH. Hasyim Asy’ari, ibid., h. 3.
[2] Rijaluddin Fadjar Nugraha, Peranan K.H.Hasyim Asy’ari dalam Kebangkitan Islam di Indonesia, Skripsi, (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1983), h.7
[3]Muhammad Asad Syihab, Hadlratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta:Titian Ilahi Press, 1994), h.73
[4] Abu Bakar Ace, Sejarah Hidup K.H.A Wahid asyim dan Karangan Tersiar, (Jakarta: Panitia Buku Peringatan K.H.A Wahid Hasyimm, 1975), h. 35
[5] Lihat KH. Hasyim Asy’ari, op.cit., h. 101
[6] Baca ibid., h. 11-12.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar