Laman

PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI ILMU

Pendidikan Islam Sebagai Ilmu Dalam Kajian Epistemologi
Aktifitas Pendidikan Islam pada dasarnya merupakan upaya dalam mewujudkan spirit Islam, yaitu suatu upaya dalam merelesasikan semangat hidup yang dijiwai oleh nilai Islam. Spirit itu selanjutnya akan
menjadi pedoman hidup manusia dalam menhadapi berbagai tantangan hidup dan kehidupan. Sprit yang dijiwai oleh niali-nilai ke islaman ini hendaknya tidak terlepas dari kerangka berpikir ilmiah yang didasari oleh ilmu pengetahuan.
Istilah ilmu pengetahuan terdiri dari  dua kata, yaitu ilmu dan pengetahuan. Ilmu pengetahuan mempunya ciri-ciri khusus yaitu :
1       Objek ilmu pengetahuan adalah Empiris yaitu fakta-fakta yang dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya.
2       Ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik sendiri yaitu mempunyai sistematika, hasil yang diperoleh bersifat rasional dan objektif, universal dan kumulatif.
3       Ilmu dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, studi, dan pemikiran. Baik melalui pendekatan deduktif, maupun pendekatan induktif atau kedua-duanya.
4       Sumber dari segala ilmu adalah Tuhan, karena Dia yang menciptakannya.
5       Fungsi ilmu adalah untuk keselamatan, kebahagiaan, pengamanan manusia dari segala sesuatu yang mneyulitkan.[1]
Kehadiran manusia dimuka bumi berbekal ilmu pengetahuan. Dengan ilmu tersebut derajat manusia terangkat. Disamping itu, ilmu pegetahuan mempunyai kedudukan yang tinggi dalam pandangan islam diantaranya adalah
a.      Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mencari kebenaran. Dengan menggunakan kekuatan intelegensi yang dibimbing oleh hati nurani, manusia dapat menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya, sekalipun hasilnya relatif.
b.     Ilmu pengetahuan sebagai prasyarat amal saleh. Hanya seorang yang dibimbing oleh ilmu  pengetahuan yang dapat berjalan diatas kebenaran, yang membawa kepada kebutuhan tanpa syarat kepada Tuhan Yang Mahaesa (Q.S. 35:28), serta dengan iman dan kekuatanilmu pengetahuan manusia mencapai puncak kemanusiaan yang tinggi(Q.S. 3:28)
c.      Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengelola sumber-sumber alam guna mencapai rida Allah SWT.
d.     Ilmu pengetahuan sebagai alat pengembangan daya pikir.
e.      Ilmu pengetahuan sebagai hasil pengembangan daya pikir. [2]
Dengan potensi yang ada manusia berusaha untuk iqra (membaca, memahami, meneliti dan menghayati) fenomena-fenomena yang dapat menimbulkan ilmu pengetahuan. Fenomena-fenomena itu dapat berupa ayat-ayat kauniyyah dan quraniyyah, yaitu alquran. Alquran adalah sebuah kenyataan hidup dan berlaku dalam kehidupan manusia yang memberi harapan dan kekuatan.
Dalam memperoleh ilmu pengatahuan banyak pendekatan yang dapat digunakan. Dai tiap-tiap pendekatan itu ada kelebihan dan kekurangannya, pendekatan-pendekatan tersebut antara lain :
1.   Skeptisme, bagi aliran ini itidak ada suatu cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan, mengingat kemampuan pancaindra dan akal manusia terbatas
2.   Aliran keraguan, aliran ini berpangkal dari keraguan sebagai jembatan perantara menuju kepastian. Proses dari keraguan itu dijadikan sebagai objek analisis lalu diadakan penyajian sehingga kebenaran dapat dibuktikan dengan dalil.
3.   Empirisme, cara pencarian ilmu pengetahuan melalui panca indra, karena indra tersebut yang menjadi instrumen untuk menghubungkan ke alam.
4.   Rasionalisme, aliran ini berpendapat bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan mengandalkan pikiran, karena akal dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.
5.   Aliran yang menggabungkan antara pendekatan Empirisme dan Rasionalisme. Aliran ini berkeyakinan bahwa cara memperoleh pengetahuan itu melalui pengertian dan pengindraan, karena pengertian tidak dapat melihat dan indra tidak dapat berpikir sehingga rasio dan indra perlu disatukan.
6.   Wahyu, pendekatan ini adalah pendekatan yang harus didasari oleh keyakinan.[3]
Persyaratan yang perlu dipenuhi oleh pendidikan islam sebagai disiplin ilmu menurut ketentuan ilmu pengetahuan sosial secara umum mencakup hal-hal sebagai berikut :
a.      Memiliki objek pembahasan yang jelas dan yang bercorak khas kependidikan yang ditunjang dengan ilmu pengetahuan lain yang relevan
b.     Mempunyai pandangan, teori, asumsi atau hipotesa-hipotesa yang bercorak kependidikan bersumberkan ajaran islam.
c.      Memiliki metode penganalisaan yang sesuai dengan tuntutan dari corak keilmuan kependidikan yang bernafaskan Islam atas dasar pendekatan-pendekatan yang relevan dengan corak dan watak keilmuan tersebut.
d.     Memilki struktur keilmuan yang definitif mengandng suatu kebulatan dari bagian-bagian yang satu sama lain saling berkaitan sebagai suatu sistem keilmuan yang mandiri.[4]
A.  Pendidikn Islam Sebagai Ilmu Kajian Dalam Aksiologi
Aksiologi adalah kajian tentang nilai. Nilai adalah konsep-konsep abstrak dalam dirimanusia atau masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap baik, benar, dan hal-hal yang dianggap buruk dan salah. Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan melembaga secara objektif dalak masyarakat. Nilai itu merupakan suatu realitas yang sah sebagai suatu cita-cita yang benar.
Nilai dalam pandangan Brubacher tak terbatas ruang lingkupnya. Nilai tersebut sangat erat dengan pengertian-pengertian dan aktifitas manusia yang kompleks, sehingga sulit ditentukan batasannya. Menurutnya, nilai adalah suatu penetapan atau suatu kualitas objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat. Dalam pandangan Young nilai diartikan sebagai asumsi-asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang hal-hal yang benar dan hal-hal yang penting. Woods menyatakan bahwa nilai merupakan petunjuk-petunjuk umum telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku  dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.[5]
Nilai bersifat ideal, abstrak dan tidak dapat disentuh oleh panca indra, yang dapat ditangkap oleh indra hanyalah tingkah laku yang mengandung nilai tersebut. Nilai tidak mungkin diuji dan ukurannya terletak pada diri yang menilai. Konfigurasi nilai dapat berwujud kebenaran yakni nilai logika yang memberi kepuasan rasa intelek
Sumber nilai yang berlaku dalam pranata kehidupan manusia dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu nilai ilahi dan nilai insani. Nilai ilahi adalah nilai yang dititahkan tuhan melalui para rasulNya  yang berbentuk takwa, iman, adil, dal lain sebagainya yang diabadikan dalam alquran, nilai ini bersifat statis dan kebenarannya mutlak. Nilai insani adalah nilai yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia, nilai ini bersifat dinamis dan kebenrannya relatif yang dibatasi oleh ruang dan waktu.
Kehidupan manusia tidak terlepas dari nilai dan nilai itu perlu di institusikan. Institusionalisasi nilai yang baik adalah melalui pendidikan karena pada dasarnya pendidikan adalah proses transformasi dan internalisasi nilai. Fungsi pendidikan, khususnya pendidikan islam adalah mewariskan dan mengembangkan nilai-nilai agama islam serta memenuhi aspirasi masyarakat disemua tingkat dan bidang pembangunan guna terwujudnya keadilan dan kesejahteraan.


[1] Muhaimin, M.A dan  Abdul mujib, Op.cit,;h. 81
[2]  Ibid ;h. 81-82
[3] Ibid; h. 87-88
[4] H.M. Arifin, M.Ed, Op. cit.,h.18
[5] Muhaimin, M.A dan  Abdul mujib, Op.cit.,;h. 110-111

Tidak ada komentar:

Posting Komentar