Laman

MURTADHA MUTHAHHARI

Tuhan menciptakan manusia sebangsa binatang, di mana manusia memiliki banyak persamaan dengan binatang lainnya. Namun pada saat yang sama manusia memiliki banyak ciri yang membedakan dirinya dengan binatang lainnya,[1] salah satu di antaranya yaitu
berpikir. Manusia adalah makhluk berpikir dan merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk Tuhan yang lainnya, kapasitas berpikir yang dimilikinya menjadikan manusia menempati kedudukan tertinggi di antara makhluk Tuhan yang lain.
Dalam perspektif filsafat, disimpulkan bahwa manusia merupakan hewan yang berpikir (al-Insan al-Hayawanu al-Nathiq),[2] karena manusia memiliki nalar intelektual (akal). Dengan nalar intelektual inilah manusia berpikir, menganalisis, memperkirakan, membandingkan, menyimpulkan dan beragam aktivitas intelektual lainnya. Nalar intelektual inilah yang membuat manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk (etika), serta antara yang benar dan yang salah (ilmu). Adapun dalam prespektif tasawuf atau spiritual Islam, disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang secara fitrawi dipengaruhi oleh kecenderungan-kecenderungan jiwanya, ketika jiwa suci maka akan tampil perilaku suci dan terpuji, sebaliknya jika jiwanya tidak suci maka akan tampil perilaku yang tidak suci atau tercela.[3]
Karena keistimewaan dan keunikan manusia dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya, nalar dan jiwa manusia sering digelisahkan oleh berbagai persoalan mengenai kehidupannya. Salah satu persoalan utama yang senantiasa menghantui pikiran dan perasaan manusia adalah mengenai tujuan penciptaan alam semesta termasuk penciptaan dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam raya.[4] Dari sudut pandang spiritual atau mistisme secara umum tidak terkecuali tasawuf dalam Islam bahwa secara fitrawi manusia pada umumnya memiliki gejala konstan akan kerinduan universal untuk mencapai kemanunggalan dengan Tuhan.[5]


[1]Murtadha Muthahhari, Man and Universe, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan,  Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam Tentang Jagad Raya, (Cet. V; Jakarta: Penerbit Lentera, 2008), h. 1.
[2]Ibid., h. 5.
[3]Mukhtar Solihin dan Rosihan Anwar, Hakekat Manusia: Menggali Potensi Kesadaran Pendidikan Diri dalam Psikologi Islam, (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2005), h. 1-2.
[4]Musa Kasim, Belajar Menjadi Sufi, (Cet. I; Jakarta: Lentera Basritama, 2002), h. 9.
[5]A. J. Arbery, Sufism and Accound of the Mistics of Islam, diterjemahkan oleh Bambang Herawan dengan judul Tasawuf Versus Syaria’at, (Cet. I; Bandung: Hikmah, 2002), h. 1.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar