Jumat, 10 Februari 2012

BIOGRAFI MUHAMMAD ABID AL-JABIRI

Nama lengkapnya adalah Muhammad ‘Âbid al-Jâbirî, lahir di kota Fejîj (Fekik),[1] Maroko Tenggara pada tahun 1935. Ia adalah anak satu-satunya dari hasil pernikahan antara Muham-mad dan al-Wâzinah. Dari keluarga ibunya, ia adalah keturunan dari Sayyid Abd al-Jabbâr al-Fajîjî, seorang ulama besar yang memiliki beberapa karya dan manuskripnya masih tersimpan di perpustakaan pribadi salah seorang orientalis Perancis.[2] Sedangkan dari keluarga bapaknya, mengalir darah nasionalis dan pejuang karena keluarganya, terutama ayahnya adalah seorang nasionalis yang banyak memberikan kontribusinya terhadap perjuangan gerakan kemerdekaan Maroko.
Masa kecil al-Jâbirî tergolong anak yang bahagia karena segala kebutuhannya baik secara material ataupun psikologis selalu terpenuhi. Keluarga dari pihak ibu dan bapaknya sangat menyayangi dan memperlakukannya dengan istimewa.
Ia memperoleh pendidikan pertama di kampung halamannya, dengan pendidikan tradisional yang diadakan di masjid asuhan al-Hajj Muhammad Faraj[3] sambil menyelesaikan pendidikan dasar formalnya di Sekolah Agama dan sempat merasakan pendidikan di sekolah dasar Perancis selama dua tahun. Setelah itu, ia melanjutkan ke cabang Sekolah Swasta Nasionalis (Madrasah Hurrah Wathaniyah) yang didirikan oleh al-Hajj Muhammad bin Faraj dan tokoh Gerakan Kemerdekaan lain yang ada di Fejîj. Ia studinya di sekolah tersebut menyelesaikannya pada tahun 1949.
Pendidikan at-Takmîlî (Sekolah Lanjutan yang setingkat dengan SLP) ia dapatkan di tanah kelahirannya Fejij. Ia adalah angkatan pertama yang masuk ke sekolah ini karena bertepatan dengan selesainya pendidikan al-Jâbirî  di jenjang Ibtida’iyah, al-Hajj Muhammad Faraj sebagai kepala sekolah berinisiatif untuk membuka jejang at-Takmîlî bagi murid-murid yang telah menyelesaikan pendidikan di jenjang Ibtida’iyah dan Al-Jâbirî  termasuk salah seorang di antara yang mengikutinya.
Saat-saat menjalani sekolah di jenjang tersebut bagi al-Jâbirî merupakan peletakan pertama dasar-dasar intelektualitasnya, karena pada selang waktu itulah ia mulai berkenalan dengan teks-teks hasanah intelektual Islam dan merasakan ketertarikan dan keakraban dengannya. Ini dari satu sisi, sedangkan dari sisi lain fase ini bagi al-Jâbirî merupakan saat-saat ia mulai melatih dan membiasakan diri menulis yang kemudian menjadi skillnya. Di kemudian hari keahlian menulis ini sangat menentukan karir intelektualnya dalam pentas nasional ataupun internasional. Pada saat itu, ia telah membaca, mempelajari, menghafal buku-buku standar untuk pendidikan tradisional seperti Mukhtashar Khalil, Alfiyah Ibnu Mâlik, Qashâ’id Umru’u al-Qais dan lain-lainnya. Buku-buku prosa Arab modern seperti karya al-Manfaluthî, Mushtafâ Shâdiq ar-Râfi’î, Thâha Husain, Jurjânî Zaidân dan lain-lain juga ia baca dan pelajari. Sebagai kompensasi dari bahan-bahan yang ia baca pada masa itu, ia terbiasa menulis baik dalam bentuk catatan harian, syair dan juga naskah atau makalah deskriptif.[4] Pada fase ini juga, ia telah menekuni bidang matematika dan tekhnik yang turut membentuk kepribadiannya yang visioner sehingga ia terbiasa menulis jadwal kerja dan kegiatannya.[5]
Setelah menyelesaikan sekolah at-Takmîlî, antara tahun 1950-1951, ia melanjutkan pada `I’dâdiyah di salah satu Madrasah al-Hurrah al-Wathaniyah al-Ma’rabiyah yang berafiliasi kepada Sekolah Swasta Nasional yang didirikan oleh Gerakan Kebangsaan. Pendidikan di Wijdah ditempuh hanya satu tahun dan setelah itu ia masuk ke sekolah Sekolah Menengah Lanjutan Atas di ad-Dâr al-Baidlâ` (Casablanca) dan menyelesaikannya pada tahun 1953. Pendidikan di tempat baru ini menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar pertama dan bahasa Perancis sebagai bahasa kedua. Tenaga pengajarnya mayoritas adalah tokoh Gerakan Nasional terutama sekali yang memegang mata pelajaran agama dan ilmu sosial seperti Bahasa Arab, Fiqh, Nahwu, Balâgah, Sastra Arab, Sejarah, Geografi dan lain-lain. Sedangkan untuk mata pelajaran ilmu alam dan eksakta, guru-gurunya adalah mereka yang juga termasuk anggota gerakan kebangsaan, akan tetapi pernah mengikuti pendidikan Perancis di Maroko dan melanjutkan ke jenjang Universitas di Perancis.[6] Pendidikan di sana diakui oleh al-Jâbirî lebih membuka wawasannya mengenai sistem pendidikan Modern.
Setelah selesai dari studi di ad-Dâr al-Baidlâ`, pada tahun antara 1953-1955 adalah masa transisi bagi Maroko dan juga al-Jâbirî. Jarak antara tahun tersebut, Maroko sedang gencar-gencarnya dalam perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan. Kondisi ini memaksa al-Jâbirî untuk terlibat dalam gerakan politik untuk melawan penjajahan Perancis yang ingin mem-pertahankan kekuasaan kolonialnya di Maroko. Bagi al-Jâbirî  juga, jarak waktu ini tersebut adalah fase transisi dari masa remaja menuju masa dewasa. Hal yang merupakan kebetulan jika fase transisi secara sosial dan politik di Maroko juga ikut membentuk dan mewarnai masa transisi dalam kehidupan pribadi al-Jâbirî .
Al-Jâbirî memulai studi filsafat di Universitas Damaskus, Syria pada tahun 1959, akan tetapi satu tahun kemudian pindah ke Universitas Rabat yang baru didirikan. Dalam masa studinya, ia tetap aktif dalam aktivitas politik. Keterlibatannya dalam aktivitas politik dan gerakan ideologis yang menyebabkan pada tahun 1964 ia sempat dijebloskan ke penjara bersama rekan-rekannya di UNFP karena dituduh melakukan konspirasi melawan negara. Namun demikian, tidak lama merasakan jeruji besi karena pada tahun yang sama ia dibebaskan. Setelah keluar dari penjara ia mulai mengajar filsafat di Sekolah Lanjutan setingkat SMA dan aktif di bidang perencanaan dan evaluasi pendidikan.[7]
Pada tahun 1967, ia menyelesaikan studi S2 dengan tesisnya yang berjudul Falsafah at-Târîkh ‘inda Ibn Khaldûn (Filsafat Sejarah Menurut Ibnu Khaldûn) di bawah bimbingan M. Azîz Lahbâbî. Pada tahun yang sama ia mulai mengajar filsafat di Universitas Muhammad al-Khâmis, Rabat. Sambil mengajar sebagai dosen filsafat ia melanjutkan studi S3 di Universitas yang sama dan pada tahun 1970 menyelesaikannya dengan disertasi juga mengenai Ibnu Khaldûn di bawah bimbingan Najîb Baladî.
Semenjak bergelut dalam bidang studi ilmiah, yaitu ketika ia pertama kali menjadi dosen di Universitas, ia menunjukkan dirinya sebagai seorang ilmuwan yang produktif dengan kapasitas keilmuan yang mumpuni dengan menerbitkan dua jilid buku tentang epistemologi (yang pertama tentang matematika dan rasionalisme modern dan yang kedua tentang perkembangan pemikiran ilmiah) pada tahun 1976. Pada masa-masa itu, ia masih terlibat aktif dalam aktivitas politik dan pada tahun 1975 menjadi salah seorang anggota biro politik USEF dan bahkan menjadi salah seorang penggagas dan pendirinya. Baru kemudian pada awal tahun 80-han ia meninggalkan semua aktivitas politiknya dan mencurahkan semua perhatiannya pada masalah keilmuan dan intelektual.
Muhammad ‘Âbid al-Jâbirî meninggal pada tanggal 3 Mei 2010. Al-Jâbirî  meninggal dunia di Casablanca dalam usia 75 tahun.[8]


[1]Kota Fejij tempat kelahiran al-Jâbirî berada di bagian tenggara Maroko berada di garis perbatasan antara Maroko dan Aljazair.
[2]Al-Jâbirî, Hafriyât fî adz-Dzâkirah min Ba’îd (Beirut: Markaz Dirâsât al-Wihdah al-‘Arabiyah, 1997), h. 26. 
[3]Ia adalah salah seorang tokoh gerakan as-Salafiyah an-Nahdlawiyah yang basis pergerakannya adalah semangat nasionalisme dan berupaya untuk mela-kukan modernisasi dan reformasi agama. Ibid., h. 76.         
[4]Ibid., h. 126.
[5]Ibid., h. 127.
[6]Ibid., h. 141.
[7]Muhammad Waqîdî dalam pengantar dialog yang diselenggarakan oleh al-Wihdah dengan judul Naqd al-‘Aql al-‘Arabî fî Masyrû’ al-Jâbirî tahun 3, 26-27 (Oktober/ November 1986). Naskah tersebut kemudian diterbitkan bersama tulisan-tulisan al-Jâbirî dalam buku yang berjudul, at-Turâts wa al-Hadâtsah, (Beirut: Markaz ats-Tsaqâfî al-‘Arabî, 1991), h. 265.
[8]http://www.insistnet.com. Diakses pada tanggal 28 Juni 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENULIS BUKU KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA

H. HAMZAH HARUN AL-RASYID. Lahir 30 juli 1962. Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini memperoleh gelar: • Sarjana Muda (BA) 1987,...