Laman

RIWAYAT HIDUP TAQI MISBAH YAZDI

Muhammad Taqi Misbah Yazdi adalah salah seorang pemikir islam yang lahir di kota Yazd Iran pada tahun 1313 H, tepat pada tahun 1914 M. Pendidikan dasar Muhammad Taqi Misbah diselesaikan di kota tersebut pada tahun 1947 lalu kemudian hijrah ke Najaf guna melanjutkan studi keislamannya, setahun disana ia kemudian hijrah ke Qum akibat problem finansial.[1]

Tahun 1331 H hingga 1339 H ia aktif mengikuti kuliah-kuliah Imam Khomeni, disamping itu juga ia aktif mengikuti kuliah Allamah Thabathaba’i tentang tafsir Alquran, asy-Syifa karya Ibnu Sina dan al-Asfar al-Arba’ah karya Mulla Shadra. Selain itu, ia juga aktif mengikuti kuliah fiqih Ayatullah Behjad selama 15 Tahun.[2]
Dipanggung politik, ia memainkan peran penting bersama rekan-rekannya, seperti Ayatullah Behesyti, Ayatullah Rafsanjani, dan Hujjatul Islam Muhammad Javad Bahonar. Pada masa perlawanan terhadap Reza Pahlevi yang zalim itu, ia menjadi penanggung jawab dua media informasi, yaitu Media Bi’tsat dan Enteqam. Bersama Ayatullah Junnati, Ayatullah Behesty dan Ayatullah Qoddusi, ia mengelolah pusat pendidikan Haqqani. Selama 10 tahun, ia sibuk menjadi guru besar filsafat dan ilmu-ilmu Alquran  atas anjuran dan dukungan Ayatullah Khomeni di Hawzah Qom.
Taqi Misbah Yazdi merupakan figur jebolan Qom yang paling menonjol dan produktif, salah satu bukti yang paling kongkrit ialah keberhasilannya dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan wacana filsafat islam seraya mengharmoniskan Shadraisme, Parepatetisme, Filsafat Moderen dan Visi politik Imam Khomeni yang berpijak pada konsep wilayatul fakih.[3]
Pada persoalan keagamaan secara umum, pemikiran Taqi Misbah cukup komprehensif karena mencakup bidang yang luas, antara lain : Logika, Manusia, Kosmologi, Tauhid, Nubuwah, Maad, Etika dan Irfan, Teologi Moderen dan filsafat Kontemporer, Fikih Politik, dan lain-lain. Pada pendidikan Ia dikenal sebagai pelopor reformasi sistem dan kurikulum pendidikan hauwzah serta studi wacana-wacana moderen.[4]


[1] Muhsin Labib, Para Filosof sebelum dan sesudah Mulla Shadra, (Cet. I; Jakarta : Al-Huda, 2005), h. 167. Lihat juga pada Menuju Kesempurnaan, Persepsi dalam Pemikiran Mulla Shadra, terj. Mustamin al-Mandary. (Cet. I; Makassar : Safinah, 2003), h. 319-320.
[2] Ibid..,
[3] Ibid., h. 321.
[4] Ibid., h. 324.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar