Laman

RIWAYAT HIDUP MURTADHA MUTHAHHARI

Ayatullah Murtadha Muthahhari, dilahirkan pada 2 Februari 1920/1338 di Fariman, dekat Masyhad, pusat belajar dan ziarah kaum Muslim Syiah yang besar di Iran Timur. Ayahnya, Muhammad Husein Muthahhari, adalah ulama cukup terkemuka.[1] Sejak menjadi
mahasiswa di Qum, Muthahhari sudah menunjukkan minatnya pada filsafat dan ilmu pengetahuan modern. Di Qum dia belajar kepada Ayatullah Boroujerdi dan Ayatullah Khomeini (1902-1989 M). Dalam filsafat, dia banyak belajar kepada Allamah Thabathaba’i (1892-1981 M).
Muthahhari pada usia relatif muda sudah mengajar logika, filsafat, dan fiqh di Fakultas Teologi Universitas Teheran. Muthahhari sangat menaruh perhatian yang cukup besar kepada filsafat dan bidang-bidang ilmu rasional. Bagi Muthahhari, filsafat tidak hanya sekedar polemik atau disiplin intelektual belaka, filasafat merupakan suatu pola dari religiusitas dan suatu jalan untuk memahami dan merumuskan Islam yang sesungguhnya.[2] Dia juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Filsafat. Di samping itu, dia juga menekuni dalam bidang ushul, kalam, dan ‘irfan. Dengan keluasan ilmunya ini, Muthahhari tidak memilih kenyamanan hidup, walaupun hal itu dapat dilakukan.[3]
Muthahhari dalam perjalanan sejarah hidupnya, tidak memilih ketenangan, dia justru memilih badai dari pada damai. Dia aktif di politik dan berjuang bersama-sama Imam Khomeini menentang Rezim Pahlevi yang lalim.[4] Pada tahun 1963, Muthahhari di penjara bersama Imam Khomeini, ketika Imam Khomeini di buang ke Turki, dia mengambil alih kepemimpinan dan menggerakkan para ulama mujahid untuk meneruskan semangat perjuangan sang Imam.[5] Langkah-langkah politiknya jelas terlihat, bersama-sama dengan ulama lainnya ia mendirikan Husainiyayi Irsyad yang menjadi basis kebangkitan intelektual Islam. Dia juga menggalang bantuan untuk rakyat Palestina dan pernah menjadi imam Masjid al-Jawad serta menjadikan Masjid tersebut sebagai pusat gerakan politik Islam. Muthahhari juga merupakan salah satu Tokoh Revolusi Islam Iran. Pada waktu revolusi Islam Iran 1979, dia menjadi anggota dewan revolusi.
Karakteristik yang menonjol pada diri Muthahhari adalah kedalaman pemahamannya tentang Islam, keluasan pengetahuannya tentang filsafat dan ilmu pengetahuan modern dan kelibatan non kompromis terhadap keyakinan dan ideologi mereka. Perpaduan tiga hal tersebut menjadikan seorang ideolog yang tangguh.
Perjuangan Muthahhari dalam menegakkan prinsip-prinsip Islam, yaitu kebenaran dan keadilan, akhirnya harus ditebus dengan nyawanya. Dia syahid pada tanggal 2 Mei 1979,[6] ditembak oleh kelompok ekstrem Furqan. Muthahhari kini tiada, tapi jasa-jasanya dalam menegakkan kebenaran melalui keteguhan keyakinan dan keluasan ilmu dapat menjadi teladan bagi kaum muslimin. Dia adalah figur yang telah menorehkan sejarah hidupnya dengan prinsip-prinsip Islam yang sejati.[7]


[1]Murtadha Muthahhari, The Causes Responsible for Materialist Tendencies in the West, diterjemahkan oleh Akmal Kamil degan judul, Keritik Islam Terhadap Materialisme, (Cet. I; Jakarta: AL-HUDA, 2001), h. 9.
[2]Hamid Algar, “Hidup dan Karya Murthadha Muthahhari”, dalam Pendahuuan buku Murthadha Muthahhari, Filsafah al-Hikmah. Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Mizan dengan judul, Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra, (Cet. I; Bandung: Mizan, 2002), h. 30.
[3]Muthahhari, Goal of Life, diterjemahkan oleh  Mustamin al-Mandary dengan judul Mengapa Kita Diciptakan (Cet. I; Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), h. 9.
[4]Muthahhari, Asyna’iba ‘Ulum-e Islami, diterjemahkan oleh Ibrahim dengan judul Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, (Cet I; Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), h. xxi.
[5]Ayatullah Khamenei, “Pandangan Tentang Syahid Murtadha Muthahhari” ALTANWIR Lintasan Paradigma. Edisi online; 25 06 2008 http: www. Altanwir.com. diakses pada tanggal, 17 03 2011.
[6]Jalaluddin Rakhmat, “Muthahhari: Subuah Model Buat Para Ulama”, dalam pengantar buku Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama: Membumikan Kitab Suci, Edisi 2 (Cet. I; Bandung: Mizan, 2007), h.  11.
[7]Muthahhari, Goal, op. cit., h. 10-11.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar