Laman

PENGANTAR

Isu yang paling  krusial dalam sejarah pemikiran Islam adalah menentukan relasi yang ideal antara wahyu (revelation) dan akal (reason) dan  bagaimana seharusnya memposisikan akal dan wahyu dalam memahami dan mengeksekusi  ajaran dan pesan ilahi dalam
kehidupan manusia, terutama sekali  dalam konteks kemoderenan yang nota bene sebagai babak sejarah yang memiliki masalah yang sangat kompleks. Secara normatif, wahyu dan akal merupakan dua potensi yang telah mendapat legitimasi dari sang pencipta untuk dieksploitasi  manusia dalam mewujudkan cita-cita luhur yang diridhai oleh Allah. Namun dalam  kenyataannya, akal seringkali dituduh sebagai sumber masalah dalam pemikiran  Islam. Sadar atau tidak, sejarah telah memberi informasi bahwa institusi "Akal" dengan berbagai problematikanya telah bertanggung jawab bagi munculnya berbagai macam aliran, kelompok, sekte dalam sejarah. Tidak sedikit waktu dan tenaga yang telah disita oleh isu ini dari pemikir, tokoh dan ulama Islam di semua babakan sejarah Islam.
           
Ilmu kalam atau teologi Islam merupakan bagian yang sangat penting untuk melihat betapa rumit dan kompleksnya masalah ini dalam sejarah. Pengaruh akal dalam ilmu kalam telah melahirkan aliran Qadariyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Hanabilah, Salafiyyah, Hasyawiyyah, Jabariyyah, dan Asy’ariyyah. Pemantauan terhadap perkembangan pemikiran Islam kontemporer saat ini menunjukkan bahwa sedikit banyaknya umat Islam belum sepenuhnya mampu melepaskan diri dari dominasi wacana akal klasik dan kemudian pada gilirannya juga membidani lahirnya kelompok kelompok seperti, Wahabiyyah, Salafiyyah moderen, Islam Liberal, Islam moderat, neo-Muktazilah dan sebagainya.
           
Berdasarkan sejarah yang cukup akurat disebutkan bahwa aliran yang pertama kali memainkan institusi akal dalam wacana-wacana keagamaan adalah aliran Mu’tazilah yang nota bene berpaham qadariyyah. Aliran ini kemudian telah diapresiasi karena ia telah berjasa memberi kontribusi yang sangat berarti bagi pengembangan pemikiran Islam. Ia telah mendiskusikan wacana-wacana penting seperti qadha dan qadar, sifat-sifat ketuhanan, perbuatan manusia dengan sangat filosofis. Namun umat Islam kemudian menyesalkannya karena telah memberi kebebasan mutlak bagi akal dalam proses memahami isu-isu keislaman. Pada saat hal itu terjadi, umat Islam kemudian menaruh harapan sangat besar bagi kalangan Hanabilah (kelompok Islam yang memberi banyak perhatian kepada hadis-hadis atau Sunnah Nabi, orang juga sering menyebutkan kalangan muhaddisin) untuk mengembalikan trend Muktazilah yang sudah terlalu jauh memberi ruang bagi akal kepada posisi akal yang sebenarnya. Namun alih-alih memenuhi harapan umat Islam, kalangan Hanabilah malah menjadi korban kedua bagi sikap yang ekstrim dan pada gilirannya mereka menjadi bagian dari masalah. Mereka mengadopsi cara memahami isu-isu teologis dengan pendekatan literalis-skripturalis yang berujung pada pengebirian peran akal, agama kemudian menjadi sesuatu yang kaku yang tidak dinamis.
           
Dalam konteks itu, iklim kemudian terbuka bagi orang-orang yang ingin mengambil peran untuk membangun paradigma baru yang mampu mengambil poros tengah dan mampu memenuhi harapan umat sebagai mainstream trend. Dalam iklim yang cukup membingungkan itu, umat sangat merindukan munculnya dan hadirnya seorang yang dapat memberi peran secara proporsional bagi wahyu (Nash) dan akal.
           
Dalam pada itu, Allah telah mentakdirkan seorang Imam Abu Hasan al-Asy’ari untuk mengemban atau memainkan peran yang cukup berat itu. Ia kemudian membangun metode pemahaman terhadap isu-isu keagamaan yang balance antara kalangan Hanabilah dan Mu’tazilah, antara akal dan wahyu yang seimbang.
           
Aliran yang telah dibangun oleh Imam al-Asy’ari ternyata tidak selamanya mendapat apresiasi yang permanen. Sebagai sebuah perjuangan, ia mengalami pasang surut, ia juga tidak jarang mengalami goncangan dari pihak-pihak yang memiliki kecenderungan yang ekstrim. Aliran moderat yang dibangunnya mengalami proses dialektika sepanjang sejarah sampai saat ini. Setiap kali ada upaya untuk mengulangi pertarungan itu, selalu saja kader-kader imam al-Asy’ari muncul dan tidak pernah alpa dari medan pertarungan. Sejarah mencatat nama-nama seperti imam al-Ba>qilla>ni, Imam al-Juwaini, imam al-Gaza>li sebagai bagian dari fenomena pengembangan aliran Asy’ariyyah. Tokoh-tokoh yang disebutkan diatas telah menghadapai isu-isu teologi yang berbeda dengan yang dihadapi imam al-Asy’ari, sebuah iklim yang mengharuskan melakukan modifikasi-modifkasi seperlunya dalam rangka mempertahankan substansi aliran asy’ariyyah.
           
Ketika umat Islam memasuki abad ke 16 atau 17 masehi yang kemudian disebut dengan masa kebangkitan yang ditandai dengan kemunculan peradaban barat yang membawa trend materialisme dan sekularisme, aliran Asy’ariyyah kembali memperlihatkan identitasnya menghadapi tantangan baru itu.
           
Salah satu tokoh al-Asy’ari yang tampil menghadapi tantangan itu adalah Syekh Mustafa Sabri. Beliau kemudian menulis buku populernya “ Mauqif al-‘Aqli wa al-‘ilmi wa al-‘A>lam Minalla>hi Rabbil’a>lami>n”, sebuah karya yang disebut banyak penulis sebagai karya abad itu, dan yang lain menyebutnya sebagai karya kontemporer yang mengusung paradigma ke asy’ariahan dalam rangka membendung paradigma mu’tazilah moderen. Upaya pembelaaan Syekh Mustafa Sabri tidak berhenti sampai disini, ia kemudian menyusul bukunya itu dengan karya selanjutnya “ Mauqif al-Basyar Tahta S}ult}a>n al-Qadar”. Karya ini ditulisnya untuk mengcounter pemahaman yang sedang gencar saat itu bahwa faktor utama kemunduran umat Islam adalah karena keyakinannya mengenai takdir (Qad}a> dan Qadar). Kemudian pergumulan Asy’ari merekam karya-karya yang turut memperkaya tradisi intelektual Asy’ariyyah sekaligus membelanya dari trend paradigma teologi yang lain.

Dalam konteks perkembangan kontemporer, kita bisa mengatakan bahwa pergumulan Asy’ari yang paling dominan adalah pergumulannya dengan kelompok salafiyyah moderen yang berbasis teologi Ibnu Taimiyah. Tema teologi yang sangat rawan yang kemudian menjadi perdebatan sengit antara Salafiyyah dengan Asy’ariyyah adalah persoalan Takwil. Asy’ariyyah memilih metode Takwil sebagai jalan untuk memahami ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah. Mereka menafsirkan kata-kata seperti ‘Tangan’ menjadi ‘kekuasaan’ dan ‘wajah’ menjadi ‘zat’ , sebuah cara penafsiran yang mereka tempuh karena menurut mereka inilah yang sesuai dengan kemulian, kebesaran, dan keagungan Allah. Namun pada saat yang sama kalangan Salafiyyah menolak keras metode itu sebagai pintu akses memahami ayat-ayat yang mengemukakan tentang sifat Allah. Konsekwensinya Asy’ariyyah diserang oleh kalangan Hanabilah yang kemudian melibatkan tokoh-tokoh seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim yang menjadi rujukan utama bagi kalangan salafiyyah moderen.

Sesungguhnya kita tidak bisa menutup mata dari perkembangan dan peran yang menyolok yang telah dimainkan aliran Salafi dalam kancah pemikiran Islam kontemporer. Kehadiran trend salafiyyah mulai terasa sejak seperempat terakhir dari abad ke 20 yang lalu. Kehadiran itu bagi sebagian peneliti ditengarai sebagai hasil positif dari back up dana dari negara minyak pendonor juga karena hasil dari proses sosialisasi literatur-literatur Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim yang disubsidi kalau bukan cuma-cuma. Iklim seperti ini tidak bisa dipungkiri sebagai pembuka akses bagi aliran salafiyyah di negara-negara arab-muslim kontemporer sebagai usaha mereka untuk membendung dominasi Asy’ariyyah di kalangan dan pemerhati aliran Asy’ariyyah yang mengakar di perguruan-perguruan tinggi Islam Sunni.

Tanpa mengabaikan peran besar yang dimainkan oleh aliran Salafiyyah dalam kancah pemikiran Islam, tapi kita dapat mengatakan bahwa banyak faktor yang telah menjadi penghalang bagi terciptanya dominasi aliran Salafiyyah atas aliran Asy’ariyyah. Boleh jadi faktor terpenting dan utama adalah ciri khas utama yang dimiliki aliran Salafiyyah yakni kejumudan dalam dunia pemikiran dan fikih, perlakuan yang kontra produktif terhadap isu ijtihad dan akal terutama sekali menyangkut perlakuan terhadap perkembangan realitas kemoderenan. Masalah-masalah baru yang dibawa oleh realitas kehidupan moderen dalam dunia muslim yang menjadi tantangan bagi mereka, sedikit banyaknya telah membuat umat Islam mengalihkan perhatiannya dari isu-isu klasik. Sebagai perkembangan dari kehidupan moderen mereka merasa terpanggil untuk mencari jawaban-jawaban filosofis realistis yang sesuai dengan spirit Islam, suatu isu dan wilayah yang membutuhkan peran ijtihad dan akal dan ini merupakan titik sangat lemah bagi aliran salafiyyah. Tantangan modernitas yang dihadapi umat Islam ternyata tidak mampu dijawab dengan berlindung dibalik kejumudan Salafiyyah, hal yang bisa direspon dalam tradisi intelektual Asy’ariyyah yang menjadikan instrument seperti Teks, logika, akal, pemikiran, dan analisis sebagai senjata utama yang bisa merespon tantangan-tantangan zaman.
Buku yang ada di tangan pembaca merupakan sumbangsih signifikan yang berupaya menjelaskan tipologi moderasi Asy’ariyyah dalam memperbincangkan isu-isu teologi klasik yang telah menjadi perdebatan antara tiga kutub pemikiran teologi.
Kekuatan buku ini tercermin pada kekuatan literatur atau referensi yang menjadi rujukannya yang rata-rata referensi primer. Bahkan-seperti yang pembaca akan raskan sendiri-ia sering sekali merujuk langsung kepada buku yang ditulis oleh Abu Hasan al-Asy’ari sendiri seperti al-Luma’ dan al-Iba>nah dan lain-lain. Buku ini juga penuh dengan rujukan terhadap buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh Asy’ariyyah awal seperti tulisan-tulisan al-Baqilla>ni, al-Juwaini, dan al-Gaza>li. Kekayaan referensi-disamping kekayaan materi dan informasi-dalam buku ini cukup menjadi bukti atas bobot dan kwalitas yang tinggi yang dimiliki buku ini. Buku ini sangat berguna untuk dibaca oleh akademisi, ilmuan dan pemerhati isu-isu keislaman di tengah terjadinya kecenderungan paradigma ekstrimisme pemikiran Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar