Laman

AL-ASY'ARIYYAH : KEMUNCULAN PERTUMBUHAN DAN METODOLOGI PEMIKIRAN .

 Pertumbuhan Aliran al-Asy’ariyyah


Ilmuan dan tokoh-tokoh aliran al-Asy’ariyyah, menurut al-Nasysya>r, adalah ilmuan yang telah berjaya mengekspresikan substansi Filsafat Islam yang sebenarnya. Sebab hanya merekalah
yang mampu menampilkan secara substansial kandungan al-Qurān dan al-Sunnah secara kefilsafatan, begitu pula visi teologi Ahli Sunah waljamaah telah menjelma dan mengkristal pada pemikiran mereka, sehingga mazhab al-Asy’ariyyah mampu menjadi sample aqidah Ahli Sunnah Waljamaah hingga masa ini, dan akan tetap terpelihara sampai Allah menerima bumi dan isinya (hari kiamat). ([1])


Sebelum membangun mazhab baru, Abu> Hasan Al-Asy’ari menganut dan mendalami pemikiran Muktazilah melalui seorang tokoh Muktazilah di Basrah, yaitu ‘Ali bin al-Jubba>’i> Meskipun al-‘Asy’ari telah lama mendalami mazhab itu, akan tetapi dia belum juga mendapatkan sesuatu yang boleh menenangkan jiwa dan pikirannya, bahkan dalam penilaian al-Asy’ari, Aliran Muktazilah telah terlampau jauh dalam memberikan batas kewenangan bagi akal sehingga agama tidak lebih dari sekedar isu-isu Filsafat dan argumen logika, teks-teks al-Qur’an dan Hadis  tidak lagi menjadi acuan dan pedoman, tapi justru sebaliknya agama hanyalah menjadi perbudakan akal. Di lain pihak, Al-Asy’ari melihat metodologi Muhaddis}i>n dan Hasyawiyyah akan membawa umat Islam kepada stagnasi pemikiran yang berakibat fatal sehingga umat Islam terkungkung dalam wujud pemikiran yang beku. Olehnya itu, mempersatukan antara aliran rasionalis dengan aliran tekstualis dalam suatu orientasi pemikiran yang moderat, adalah sesuatu prestasi yang cemerlang, karena disamping ia boleh mengembalikan keutuhan umat Islam, ia juga mendudukkan nas dan akal secara selaras. ([2])

Pelbagai interpretasi diajukan oleh para pemerhati dalam mengomentari perubahan sikap al-’Asy’ari ini, yang oleh sementara ahli masih dianggap belum memuaskan. ([3]) Terutama mengenai sebab-sebab instrinsik peristiwa tersebut. Jalal Musa, seorang pakar Islam kontemporer menulis bahwa, faktor penyebabnya berkaitan erat dengan pergolakan spiritual Al-Asy’ari sendiri. Di bidang kalam, dia seorang Muktazilah dan berguru dengan al-Jubba>i, sedangkan dibidang fiqh, dia bermazhab Syafii dan berguru dengan Abu> Isha>q al-Marwazi (w. 340 H), seorang tokoh mazhab Syafii di Irak. Dari kedua sisi kehidupan intelektualnya ini, Al-Asy’ari melihat adanya dua kubu yang memilah-milah umat dengan kekuatannya masing-masing, yaitu kubu ulama Kalam dengan kekuatan metodologi rasionalnya, dan kubu ulama fikih dan Hadis dengan kekuatan metodologi tekstualnya. Kekuatan kedua kubu tersebut diketahuinya bahkan telah dikuasainya. Oleh karena itu timbullah keinginannya untuk menyatukan kedua-dua kubu itu didalam satu aliran, sehingga para ulama kedua-dua kubu itu juga digabungkan. Realisasi ideanya ini dimulai dengan peristiwa konversi dari aliran Muktazilah ke aliran Salaf atau ahl al-Hadis.([4])

Ibn Asa>kir menulis bahwa Al-Asy’ari pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad, yang menyuruhnya supaya mempertahankan akidah Islam sebagai sintesis antara metodologi ahl al-Hadis dan Muktazilah. Selanjutnya al-Syahrasta>ni menyatakan bahwa penyebab konversi itu ialah ketidak puasan Al-Asy’ari terhadap jawaban gurunya, al-Jubba>i, dalam masalah keadilan Tuhan, sekitar kewajiban Tuhan memperbuat yang lebih baik bagi hamba-Nya. Riwayat ini juga diragukan keabsahannya oleh sebagian pemikir termasuk diantaranya adalah Jalal Musa. ([5])

Tidak hanya riwayat di atas yang diragukan oleh Jalal Musa, bahkan isi pernyataan konversi Imam Al-Asy’ari pun di dalam masjid Basrah apabila meresmikan dirinya keluar dari Aliran Muktazilah turut diragukan karena dianggapnya tidak rasional. Salah satu di antaranya adalah; apabila Al-Asy’ari melepas bajunya di atas mimbar lalu berkata “ …Saya telah melepaskan diri dari semua yang aku yakini sebelumnya seperti halnya aku melepaskan pakaian yang aku pakai ini”. Menurut Jalal Musa riwayat ini tidak logis, karena jika ini benar berarti Imam Al-Asy’ari menelanjangi dirinya dihadapan orang ramai.

Jalal Musa ceroboh dalam memvonis ketidak logisan riwayat tersebut, sebab jika dicermati konteks redaksi itu adalah   (seperti aku melepas pakaianku ini, lalu dia melepas pakaian yang dia paka). Redaksi ini tidak berbunyi (seperti aku melepas pakaianku yang satu-satunya ini).

Hampir senada dengan pendapat tersebut, Ahmad Amin juga menolak semua riwayat yang berkaitan dengan sebab-sebab konversi yang pernah diriwayatkan. Dia sendiri yang berpendapat lebih menekankan aspek kultural dan struktural pada masa itu. Yaitu setelah terjadinya “Mihnah” pada abad ke-3 H., banyak orang meninggalkan Muktazilah dan simpati ummat tertuju kepada ahli Hadis, apalagi setelah pihak penguasa memberikan dukungan sejak khalifah al-Mutawakkil. (232-247 H). Amin berpendapat bahwa konversi Al-Asy’ari disebabkan lebih banyak oleh faktor sosial dan politik; yaitu adanya dukungan pihak penguasa dan keinginan Al-Asy’ari untuk mendapatkan kepimpinan umat waktu itu. Pendapat Amin ini adalah meniru-niru pendapat para orientalis, seperti De Boer, Wensinck, Mac Donald, dan lain-lain yang memang diakuinya lebih rasional dibandingkan riwayat-riwayat terdahulu. Namun terlalu menitik beratkan kepada aspek eksternal dari kehidupan Al-Asy’ari tanpa menyentuh pergolakan internalnya. ([6])

Meskipun sebagian ahli menolak pendapat Ibn Asakir yang juga membicarakan tentang event sejarah yang menandai awal konvernsi tersebut, karena menganggap event sejarah yang direkonstruksikan itu tidak rasional. Namun demikian, ketokohan Abu Hasan al-Asy’ari sebagai seorang pakar teologi diakui oleh semua pihak, sehingga menurut termininologi kalam, Aliran Ahli Sunnah diidentikkan dengan aliran yang dibawanya.([7]) Tetapi al-Baghda>di mengatakan bahwa Al-Asy’ari bukanlah tokoh pertama dalam aliran Ahli Sunah. Namun dia adalah seorang tokoh terbesar yang berhasil mempertahankan aliran ini dari lawan-lawannya. ([8])

Walaupun Al-Asy’ari menegaskan dirinya sebagai pengikut Ahmad ibn Hanbal, tokoh Salaf yang disebutkan sebagai Ahli al-haq wa al-Sunnah (golongan yang benar dan pendukung sunnah).([9]) Namun sebagaian pengikut Hana>bilah tidak mengakuinya. Karena Al-Asy’ari, menurut pandangan mereka, tidak sepenuhnya mengikuti salafiyyah yang sama sekali menolak kalam dengan metodologinya yang rasional dalam pembicaraan masalah aqidah. Sementara itu, Al-Asy’ari juga dikatakan sebagai pengikut faham ibn Kulla>b, karena sewaktu dia menyatakan diri keluar dari Muktazilah banyak mengadopsi  pendapat-pendapat Ibn Kullab. Analisis ini dikemukakan oleh Ibn Taymiyyah, yang tidak mengakui kesunnian Al-Asy’ari. ([10])

Meskipun pelbagai kesimpulan dari analisis yang dilakukan terhadap Al-Asy’ari, namun pemikiran baru yang didirikannya, Asy’ariyyah,([11]) masih merupakan aliran kalam yang dominan di dunia Islam sehingga saat ini.([12]) Selama sebelas abad dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan aliran ini telah mengalami pasang surut dalam penyebaran dan bervariasi dalam perkembangan doktrinnya. Sejak Abu Hasan Al-Asy’ari memaklumkan dirinya keluar dari Muktazilah, yang dianutnya sampai usia 40 tahun, dan merumuskan sebuah teologi baru, maka pemikiran ini banyak ummat Islam yang mengikutinya, karena dianggap sebagai suatu bentuk kesinambungan dari faham tradidional, ([13]) yang dianut mayoritas umat Islam, tetapi sebelumnya belum pernah diformulasikan secara lengkap dan sistematis. ([14])Apalagi Al-Asy’ari sendiri mengaku sebagai pengikut Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H/855 M.), ([15]) Tokoh aliran tradisional yang paling dihormati, karena keteguhan pendiriannya dan ketabahannya menghadapi siksaan yang ditimpakan penguasa waktu itu (‘Abba>siyyah), karena menolak suatu dogma Muktazilah yang dipaksakan. ([16])

Al-Asy’ari memformulasikan pemikiran teologi baru dengan tetap menggunakan logik sebagai “modal utama” dalam perumusan-perumusannya. Sebagai anti-tesis terhadap faham-faham Muktazilah, maka pemikiran-pemikirannya itu kemudian mengambil bentuk suatu aliran teologi dengan namanya sendiri, “al-Asy’ariyyah”. ([17]) Ajaran-ajaran Al-Asy’ari ini tertuang di dalam kitab-kitab yang ditulisnya sendiri, terutama, kitab al-Luma’  fi al-radd ‘ala> ahl al-ziyag wa al-bida’; Maqa>la>t al- Isla>miyyin; dan al-Iba>nah ‘an us}u>l al-diya>nah. Di samping itu, juga terdapat di dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para pengikutnya.



[1] Ali Sami al-Nashar, Nash’at al-fikr, Jil.1, hal. 441. Ibrahim Madkur, hal. 45,115.
[2] Hammudah Ghurabah, al-Asy’ari, hal.60-67.
[3] Ahmad Amin, Zuhr al-Islam, hal.65.
[4] Jalal Musa, Nash’at al-Asy’ariyyah, hal.171.
[5] Ibid, hal. 171-172.
[6] Ahmad Amin, Zuhr al-Islam, hal. 66-67; A.J. Wensink, 1979, The Muslim creed, hal. 87; dan D.B. Macdonald, Deplopment of Muslim Theologi, hal 188-190.
[7] Jalal Musa, Nash’at al-Asy’ariyyah, hal. 15.
[8] Sebelumnya sudah banyak tokoh yang muncul, dan diantaranya disebutkan: Ali ibn Abi Talib, ‘Abdullah ibn ‘Umar, ‘Umar ibn ‘Abd. ‘Aziz, Hasan al-Basri, Ja’far al-Sadiq, Abu Hanifah, al- Syafi’i, dan sejumlah nama besar lainnya . al-Baghdadi, Kitab usul al-din, Hal 307-310.
[9]  Abu Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah, hal. 8.
[10] Selain menganggap al-Asy’ari sebagai penganut Jabariyyah dan sisa-sisa Muktazilah, Ibn Taymiyyah juga menilai Asy’ariyyah sebagai aliran yang paling dekat dengan salafiyyah, Ahli Hadis yang dianggapnya benar. Tetapi Jalal Musa menilai pilihan al-Asy’ari yang memihak Ibn Kullab, karena itulah yang benar-benar ahli Sunnah. Jalal Musa, Nash’at al-Asy’ariyyah, hal.189, Mustafa Hilmi, Manhaj’Ulama’ al-Hadith, hal. 189.
[11] Ibrahim Madkur, Fi al-falsafah al-Islamiyyah, hal. 114.
[12] Menurut Mustafa Abd al-Razik, di dunia Islam kini terdapat dua aliran kalam yang masih menguasai umat, iaitu Asy’ariyyah dan Salafiyyah; tetapi yang disebutkan pertama tanpaknya masih dianggapnya dominan. al-Raziq, Tamhid li tarikh al-falsafah al-Islamiyyah, hal. 259.
[13] Faham tradisional dalam Islam disebut juga sebagai faham Ahli Sunah waljamaah, atau faham Sunni; dengan watak utamanya netral dalam politik dan moderat dalam faham keagamaan. Fazlur Rahman, 1979, Islam, hal. 87; Nurcholish Masid, Khasanah Intelektual Islam, hal.16.
[14] Sebelum al-Asy’ari, formulasi yang ada hanya bersifat parsial dan pragmentaris.  
[15] al-Asy’ari, al-Ibanah, hal.8. Tetapi pernyataan al-Asy’ari ini tidak diakui oleh kalangan Salafiyyah, yang menganggapnya sebagai pengikut ibn Kullab (w.240 H.) bukan pengikut Ahmad ibn Hanbal. Rujuk Mustafa Hilmi, hal. 162-166.
[16] Ibrahim Madkur, Fi al-falsafah al-Islamiyyah, hal.133.
[17] Jalal Musa, hal. 195; Mustafa Hilmi, hal.11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar