Laman

PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI ILMU

Pendidikan Islam Sebagai Ilmu Dalam Kajian Ontologi
Pendidikan Islam sebagai ilmu dalam kajian Ontologi diawali dengan pembahasan tentang hakekat manusia, hal ini karena manusia pada dasarnya adalah mahluk Paedagogi yaitu mahluk Allah yang
dilahirkan membawa potensi dapat di didik dan mendidik. Dialah yang memiliki potensi dapat di didik dan mendidik sehingga mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitrah Allah, berupa bentuk dan wadah yang dapat diisi dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk yang mulia. Pikiran, perasaan dan kemampuannya berbuat merupakan komponen dari fitrah itu. Itulah fitrah Allah yang melengkapi penciptaan manusia.[1] Firman Allah
Artinya:” … fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah                  
    itu. Tidak ada peubahan pada ciptaan Allah itu…”(Q.S.30:30)


Manusia pada  dasarnya dapat ditempatkan dalam tiga kategori, yaitu :
1     Manusia sebagai mahluk biologis pada hakekatnya tidak berbeda dengan mahluk-mahluk biotik lainnya walaupun stuktur organnya berbeda(Q.S. 15:28) karena struktur organ manusia lebih sempurna dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain(Q.S. 95:4)
2     Manusia sebagai mahluk psikis (al-insan) mempunyai potensi rohani seperti fitrah (Q.S. 30:30), qolb(Q.S. 22:46), aqal(Q.S. 3:190-191). Potensi tersebut menjadikan manusia sebagai mahluk yang tertinggi martabatnya (Q.S. 17:70) yang berbeda dengan mahluk-mahluk lainnya, artinya apabila potensi psikis tersebut tidak digunakan, manusia tak ubahnya seperti binatang bahkan lebih hina(Q.S. 7:179, 25:44), sedangkan bentuk insaniah terletak pada iman dan amalnya(Q.S. 95:6)
3     Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai tugas dan tanggung jawab sosial terhadap alam semesta. Klasifikasi ketiga ini karena manusia berfungsi tidak hanya sebagai hamba (Q.S. 51:56) tetapi juga sebagai khalifahtullah(Q.S. 2:30,10:14) untuk mewujudkan kemakmuran(Q.S. 11:61), kebahagiaan(Q.S. 33:71, 13:29) dalam kehidupan dunia akhirat(Q.S. 28:77).[2]
Dalam diri manusi, pada hakekatnya terdapat unsur-unsur ketuhanan karena dalam proses kejadiaannya kepada manusia telah ditiupkan roh dari Tuhan. Sifat dan unsur ketuhanan dalam diri manusia tersebut berupa potensi-potensi pembawaan yang dalam proses kehidupannya manusia merealisir dan menjabarkannya dalam tingkah laku dan perbuatan nyata. Disamping itu, manusia  sebagai khalifah Allah, juga merealisir fungsi ketuhanan sehingga manusia adalah berfungsi kreatif, mengembangkan diri dan memelihara diri dari kehancuran. Dengan demikian hidup dan kehidupan manusia itu berkembang dan mengarah kepada kesempurnaan.
Syayid Quthub mendefinisikan fitrah sebagai jiwa kemanusiaan yang perlu dilengkapi dengan tabiat beragama, antara fitrah kejiwaan manusia dan tabiat beragama merupakan relasi yang utuh, mengingat keduanya ciptaan Allah pada diri manusia sebagai potensi dasar manusia yang memberikan hikmah (wisdom), mengubah diri ke arah yang lebih baik,dan meluruskan diri dari rasa keberpalingan.[3]
Hakekat Pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengerahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.
Pendidikan, secara toritis mengandung pengertian memberi makan kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan menumbuhkan kemampuan dasar manusia. Bila ingin diarahkan kepada petumbuhan sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui sistem kependidikan Islam, baik melalui kelembagaan maupun melalui sistem kurikulum.[4]


[1] Zakia darajat, et al; Ilmu Pendidikan Islam (jakarta: bumi aksara, 2009
[2] Muhaimin, M.A dan  Abdul mujib, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis Dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya (Bandung: trigendakarya, 1993),h.11-12
[3] Ibid;h. 20
[4] H.M. Arifin, M.Ed, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner (jakarta:bumi aksara,1996),h. 32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar