Selasa, 07 Februari 2012

KONSEP PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH DAN IBNU KHALDUN: DAYA-DAYA DAN KEMAMPUAN BERFIKIR MANUSIA, PENDIDIKAN AKHLAK DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Konsep Pendidikan Ibnu Miskawaih dan Ibnu Khaldun
1.     Konsep pendidikan Ibnu Miskawaih

Pada dasarnya untuk memahami pemikiran Ibn Miskawaih tentunya tidak bisa dilepaskan dari
konsepnya tentang manusia dan akhlaq. Berikut ini akan diuraikan beberapa konsep dari Ibnu Miskawaih :

a.      Konsep Manusia
Ibnu Maskawaih memandang bahwa manusia sebagai makhluq yang memiliki macam-macam daya. Yaitu :
1.     Daya nafsu, sebagai daya terendah yang berasal dari unsur materi.
2.     Daya berani, sebagai daya tengah yang juga berasal dari unsur materi.
3.     Daya berpikir, sebagai daya tertinggi yang berasal dari ruh Tuhan.
Dari beberapa pembagian tentang manusia tersebut, ibn Miskawaih mempunyai pandangan bahwa daya nafsu dan daya berani akan hacur bersama badan, akan tetapi daya berpikir tidak akan pernah mengalami kehancuran.
b.     Konsep Akhlaq
Konsep akhlaq yang di tawarakan oleh Ibn Miskawaih lebih di dasarkan pada doktrik jalan tengah. Dengan pengertian bahwa jalan tengah adalah dengan keseimbangan, moderat, harmoni, utama, atau posisi tengah diantara dua ekstrem. Akan tetapi Ibn Miskawaih lebih menitik beratkan pada posisi tengah antara ekstrem kelebihan dan ekstreem kekurangan masing-msing jiwa manusia. Dari keterangan diatas dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa ibn Miskawaih lebih memberi tekanan pada pribadi.
Menurut Ibn Miskawaih, jiwa manusia di bagi menjadi menjdi tiga, yakni:
a.       al-bahimiyyah, yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat.
b.     al-ghadabiyah, yaitu kebernian yang diperhitungkan dengan masak untung ruginya.
c.      an-nathiqah, yaitu kebijaksanaan.
Ibn Miskawaih menegaskan bahwa setiap keutamaan memiliki dua sisi yang ekstreem. Yang tengah bersifat terpuji dan yang ekstrem bersifat tercela.
c.      Konsep Pendidikan
1)     Tujuan Pendidikan Akhlak
Adapun tujuan pendidikan akhlaq adalah terwujudya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang baik. Sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati.
2)     Materi Pendidikan Akhlak
Untuk mencapai tujuan yang di rumuskan oleh ibn maskawaih tentunya ada beberapa hal yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Ibn maskawaih menyebutkan tiga pokok yang dapat dipahami sebagai meteri pendidikan akhlaqnya, yakni:
a)     Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan manusia
b)     Hal-hal yang wajib bagi jiwa
c)     Hal-hal yang wajib bagi hubunganya dengan manusia.
d)     Materi Pendidikan Akhlaq
3)     Pendidik dan Anak Didik
Keberadaan pendidik (Guru) merupakan instrumen yang sangat penting, begitupun keberadaan anak didik. Keduanya dapat menciptakan sinergitas untuk membangun pendidikan. Akan tetapi, Ibn Maskawaih juga menerangkan bahwa keberadaan orang tua merupakan bagian dari instrumen pendidikan yang penting pula.
Terkait dengan pendidik, Ibn Maskawaih menempatkan posisi yang tinggi itu adalah guru yang berderjat mu’allim al-misal, al-hakim, atau al-mu’allim al-hikmat.
4)     Lingkungan Pendidikan
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, Ibn Maskawaih Berpendapat bahwa usaha untuk mencapai kebahagiaan tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bersama atas dasar saling menolong dan saling melengkapi. Maka, sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan kondisi yang baik diuar dirinya, yakni lingkungan. Karena lingkungan yang baik akan turut serta dalam menentukan proses pendidikan.
5)     Metodologi Pendidikan
Dalam hal ini Ibn Maskawaih lebih menitik beratkan pada metodologi perbaikan akhlaq. Seperti beberapa metode yang di ajukan oleh Ibn Maskawaih dalam mencpai akhlaq yang baik, yaitu:
a)     Adanya kemauan yang bersungguh-sungguh untuk berlatih terus menerus dan menahan diri untuk memperoleh keutamaan dan kesopanan yang sebenarnya sesuai dengan keutamaan jiwa.
b)     Dengan menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin bagi dirinya. Tentunya pengetahuan dan pengalaman yang baik.
2.     Konsep pendidikan Ibnu Khaldun
Setiap saat dalam kehidupan terjadi suatu proses yang disebut belajar. Aktivitas manusia pada umumnya adalah aktivitas belajar (learning activities). Begitu umumunya makna belajar itu, namun demikian sulit menerangkan secara teoritik. Terdapat ragam pandangan para ahli dalam menerangkan hakikat dan makna belajar. Kenyataan, bahwa alas an untuk mempelajari hal belajar itu berbeda-beda, dan hal ini berakibat pula beragamnya rumusan mengenai belajar itu.
Dalam hal ini, akan dikemukakan konsep Ibnu Khaldun mengenai pendidikan sebagai berikut:
a.      Realitas Manusia
Ibnu Khaldun dalam melihat manusia bebeda dengan sarjana-sarjana modern sekarang ini. Ia melihat manusia melalui pendekatan social antropologis, suatu pendekatan yang menjadikan subjek sebagai titik tolak unit analisisnya.
Dalam pandangan Ibnu Khaldun, manusia terdiri dari dua bagian yaitu jasmani dan rohani. Struktur manusia tersusun dari dua dimensi yaitu alam basyariyah dan alam al-malakiyah.[1] Diantara dua dimensi itu pada diri manusia menyertai dimensi lain yaitu fisik dan jiwa. Fisik berhubungan dengan realitas-realitas atas dan bawah. Realitas bawah, jiwa manusia berhubungan dengan fisik, dan lewat fisik berhubungan dengan dunia materi, darinya ia mendapatkan persepsi-persepsi inderawi yang dipersiapkan untuk mencapai kekuatan fikir secara aktual. Dari realitas atas, jiwa itu berhubungan dengan alam malakut, darinya ia mendapatkan persepsi-persepsi saintifik dan metafisik sebab dalam dunia yang maujud ini didapakan dalam dunia malakut yang terpisah dari waktu.    
b.     Pendidikan sebagai transformasi dari potensialitas ke aktualitas
Manusia adalah makhluk berfikir yang dengan kemampuannya mampu menangkap dan memahami hal-hal yang berada diluar dirinya. Kemampuan itu pada asal mulanya masih berbentuk potensi. Ia menjadi actual (mencapai titik perkembangan) melalui al-ta’lim[2] (pendidikan) dan al-riyadzah (latihan) yang sesuia dengan irama dan perkembangan fisik dan mentalnya.[3]
Menurut Ibnu Khaldun, kemampuan fikir manusia baru muncul secara actual setelah manusia memiliki kemampuan tamyiz (kemampuan membedakan). Yang dicapai  setelah masa itu adalah merupakan akibat dari persepsi sensual dan kemampuan fikirnya.[4] Potensi akal fikir dan semua potensi lain yang dianugerahkan Allah sebagai watak manusia diusahakan untuk menjadi actual menurut tuntutan waktunya. Juga akal fikir itu dapat memperoleh persepsi-persepsi yang tidak dimilikinya. Lalu manusia mencari objek dan subjek lain untuk mendapatkannya.[5]
Berdasarkan pemikiran Ibnu Khaldun di atas dapat diketahui bahwa ia mempunyai pemikiran pendidikan yang optimistic. Optimism ini didasarkan pada pendapatnya, bahwa manusia mempunyai potensi yang dapat ditumbuh kembangkan melalui pendidikan. Demikian pula pendidikan merupakan salah satu sarana transformasi budaya yang dapat mengubah tatanan hidup menjadi lebih baik.  
c.      Potensialitas Kognitif dan fungsinya dalam belajar
Belajar adalah bagian dari akivitas manusia. Secara umum aktivitas-aktivitas itu dapat dicari hukum-hukum psikologis yang mendasarinya. Dalam meninjau hal ini Ibnu Khaldun menempatkan subjek belajar dalam dunianya sebagai suatu realitas.
Potensialitas kognitif adalah realitas psikologis yang dibutuhkan dasar pemahamannya untuk menerangkan proses belajar itu berlangsung. Bagi ibnu khaldun, akal adalah potensi psikologis dalam belajar.[6]
Pandangan ibnu khaldun tersebut menyiratkan bahwa akal bukanlah otak, tetapi merupakan daya atau kemampuan manusia untuk memahami sesuatu di luar dirinya. 
d.     Teori Belajar
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya menguraikan gagasan-gagasan mengenai belajar. Sejumlah proporsi yang ia tampilkan berbentuk teori-teori,  dalam hal ini teori belajar. Semua konsep yang ia kemukakan, ia bangun konsep-konsep yang dikembangkan ahli psikologi skolastik.


Adapun teori belajar Ibnu Khaldun adalah sebagai berikut:
a.      Malakah
Malakah sesuai dengan asal katanya mengandung makna: “Menjadikan sesuatu untuk dimiliki atau dikuasai; suatu sifat yang mengakar pada jiwa” Ibnu Khaldum merumuskan defenisi malakah ialah “sifat yang berurat berakar, sebagai hasil belajar atau mengerjakan sesuatu berulang kali, sehingga hasilnya dan bentuk pekerjaan itu dengan kokoh tertanam dalam jiwa.[7] Malakah dalam proses belajar adalah suatu tingkat pencapaian (achievement) dari penguasaan suatu materi keilmuan, keterampilan dan sikap tertentu akibat dari suatu proses belajar secara intens, bersungguh- sungguh dan sistematis.
Pemaknaan Ibnu Khaldun terhadap malakah tidak sekedar insight (pencerahan) yang mempunyai kecenderungan kognitif semata, tetapi sekaligus kognitif, afektif dan psikomotorik. Jadi belajar adalah upaya pencapaian malakah sekaligus dalam tiga domain tersebut.
b. Teori Tadrij
            Secara lughawi, tadrij adalah masdar dari fi’il madhi (kata kerja lampau) tadarraja artinya naik/maju/meningkat secara berangsur angsur, sedikit demi sedikit. Ibnu Khaldun memaknai tadrij, tidak hanya maju atau meningkat secara kuantitas, tetapi juga disertai kualitas. Frans Rosenthal menerjemahkan tadrij itu dengan gradual dalam istilah Inggris.[8]
 Menurut teori ini belajar yang efektif adalah dilakukan secara berangsur-angsur, setahap demi setahap dan terus-menerus. Teori ini dibangun berlandaskan asumsi, bahwa kemampuan manusia adalah terbatas. Kerja akal berjalan secara bertahap. Karena itu, proses belajar berlangsung sesuai dengan kebertahapan kerja akal manusia.
Untuk mendukung teori malakah dan tadrij tersebut, Ibnu Khaldun mengutarakan hukum-hukum yang menyertainya. Adapun hukum-hukum dimaksud adalah:
1)     Pengulangan dan kebiasaan
Setiap tahap belajar memerlukan pengulangan untuk mencapai kebiasaan. Belajar akan efektif dengan pengulangan dan pembiasaan. Dalam beberapa hal, ulangan yang berkali-kali itu memang diperlukan. Akan tetapi tergantung pada pokok bahasan atau skill yang diajarkan, serta tingkat kemampuan dan kecerdasan subjek belajar. Argumentasinya ialah karena keterampilan dan penguasaan aspek-aspek yang beragam dalam suatu disiplin ilmu atau skill tertentu merupakan akibat dari kebiasaan. Pengulangan dan kebiasaan memberikan kemungkinan pada subjek didik untuk memahami prinsip-prinsip dan kaidah-kaidahnya.
2)     Sebab akibat dan implikasi dalam belajar
Menurut Ibnu Khaldun, segala sesuatu yang tercipta di dunia benda-benda wujud, baik berupa esensi maupun tindakan-tindakan manusia dan binatang, mempunyai sebab-sebab yang mendahului.
Sudah menjadi tabiat manusia keinginan untuk mengetahui sebab akibat dari masalah-masalah yang mereka hadapi; dan apa-apa peristiwa yang menimpa mereka. Keingintahuan itu merupakan pembawaan lahir manusia. Keingintahuan manusia kepada suatu sebab akibat mengantar manusia untuk belajar dan berfikir.
e.      Al-Turuq al-ta’lim: Metode Tiga Tahap
Sesuai dengan teori-teori belajar dan hokum-hukumnya, Ibnu Khaldun mengemukakan pokok-pokok pemikiran teritisnya tentang metodologi pengajaran.
Bagi Ibnu Khaldun pengajaran dipandang sebagai suatu skill (sina’ah, craft). Karena itu ia melakukan suatu reaksi dan rekonstruksi terhadap metodologi pengajaran di zamannya. Metode yang lazim dipakai pada saat itu adalah drill dan penghafalan (tahfiz), sehingga timbul gejala verbalistik dan membeo. Reaksinya terhadap realitas ini adalah memunculkan gagasan pengajaan tiga tahap.
Ibnu Khladun bertolak dari asumsi-asumsi psikologis bahwa kemampuan intelek manusia dapat menangkap pengertian-pengertian. Ia mampu pula menarik konklusi-konklusi setiap hokum yang membentuk susunan dan relasi antar berbagai pengertian yang berbeda. Namun demikian potensi intelek manusia bekerja secara bertahap.
Atas dasar asumsi di atas, maka metode pengjaran yang dianjurkannya adalah sebagai berikut:
1)     Penyajian global (sabil al-ijmal)
Pertama-tama, guru menyajikan kepada peserta didik hal-hal pokok, problem-problem prinsipil dari setiap materi pembahasan dalam bab-bab dari suatu disiplin ilmu. Keterangan-keterangan diberikan secara global (ijmal) dengan memperhatikan kemampuan potensi intelek dan kesiapan peserta didik.
2)     Pengembangan (al-syarh wa al-bayan)
Tahap kedua adalah guru menyajikan kembali pengetahuan atau keterampilan pada pokok bahasan itu kepada peserta didik dalam tahap yang lebih tinggi. Kali ini guru tidak boleh puas hanya dengan cara global (ijmal) saja, tetapi ia harus menyertakan ulasan tentang berbagai aspek yang terdapat dalam pokok bahasan itu.
3)     Penuntasan/penyimpulan (takhallus) 
Tahap selanjutnya adalah guru menyajikan sekali lagi pokok bahasan itu. Namun kali terakhir ini secara lebih mendalam dan rinci dalam konteks yang menyeluruh, sambil memperdalam aspek-aspeknya dan menajamkan pemahamannya. Semua masalah yang dianggap sulit dan urgen serta kabur harus dituntaskan. Pada tahap penuntasan ini memungkinkan pencapaian malakah peserta didik akan lebih sempurna.
Demikianlah proses belajar berakhir setelah tiga tahap. Dalam beberapa hal ulangan yang berkali-kali itu tidak diperlukan tetapi yang dibutuhkan adalah tahapan-tahapan. Sebagian pelajar yang cerdas, kadangkala hanya memerlukan dua langkah saja di dalam proses pengajaran. Ini pun tergantung pada kemampuan dan kompetensi pendidik dalam menyampaikan pokok bahasannya.


[1]Warul Walidin, op. cit., h. 66.
[2]Ibnu Khaldun dalam konteks ini lebih suka menggunakan istilah al-ta’lim daripada al-tarbiyah. Meskipun kedua istilah itu berbeda, namun pengertian al-ta’lim dalam terinologi Ibnu Khaldun adalah pendidikan.
[3]Frans Rosenthal dkk, The Muqaddimah, an Intorduction to History, (New York: Statford Press inc., 1945), h. 333.
[4]Ibid., h. 334.
[5]Ibid., h. 335.
[6]Warul Walidin, op. cit., h. 86.
[7]Luis Ma’luf, al-Munjid, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986), h. 776. 
[8]Frans Rosenthal, op. cit., h. 416.

1 komentar:

  1. maksih sudah bagi bagi ilmunya pak. semoga jadi amal yang tak putus hingga hari kiamat

    BalasHapus

PENULIS BUKU KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA

H. HAMZAH HARUN AL-RASYID. Lahir 30 juli 1962. Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini memperoleh gelar: • Sarjana Muda (BA) 1987,...