Laman

KONSEP PENDIDIKAN

  Konsep Pendidikan Ibnu Sina
a. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Ibn Sina

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Husayn Ibn Abdullah. Beliau lahir pada tahun 370 H / 980 M di Afshana, suatu daerah yang terletak di dekat Bukhara, dikawasan asia tengah. Ayahnya bernama
Abdullah dari Balkh, Suatu kota yang amat termasyhur di kalangan orang-orang Yunani dan pemeluk agama lainnya.[1]

b. Konsep pendidik dan anak didik menurut Ibnu Sina
Pemikiran Ibnu Sina dalam hal pendidikan antara lain berkenaan dengan tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, guru dan pelaksanaan hukuman-hukumam dalam pendidikan. Namun semua itu akan dapat berlangsung dengan baik bila pendidik dan anak didik ada.  Menurut  pendapat  Ibnu Sina, sebelum membahas lebih jauh pendidik dan anak didik maka tujuan pendidikan harus lebih awal diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu, pendidik  harus mampu untuk mempersiapkan anak didiknya dapat hidup bermasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan. Khusus mengenai pendidikan yang bersifat jasmani, hendaknya pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti olahraga, makan, minum, tidur dan menjaga kebersihan. Tampaknya, sekilas tentang tujuan pendidikan yang dikemukkan oleh Ibnu Sina didasarkan pada pandangan tentang insan kamil (manusia sempurna). Yaitu manusia yang terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh. 
Hal lain konsep kurikulum yang dibangun oleh Ibnu Sina didasarkan pada perkembangan usia anak didik. Misalnya untuk usia 3 sampai 5 tahun diberikan mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara dan kesenian.  Selanjutnya, kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun mencakup pelajaran membaca dan menghafalkan Al-Quran, pelajaran agama, syair dan pelajaran olahraga. Sedangkan kurikulum untuk anak 14 tahun ke atas di bagi menjadi dua, yaitu : pelajaran yang bersifat teoritis dan praktis. Materi yang bersifat teoritis meliputi : ilmu tentang materi dan bentuk, gerak dan perubahan, wujud dan kehancuran, tumbuh-tumbuhan, hewan, kedokteran, astrologi, kimia, yang secara keseluruhan tergolong ilmu-ilmu fisika. Selain itu, juga terdapat ilmu matematika, dan ketuhanan. Selanjutnya, untuk materi yang bersifat praktis adalah ilmu akhlaq, pengurusan rumahtangga, politik dan lain-lain sebagainya.[2]   
Pendidik menurut Ibnu Sina sebaiknya menggunakan metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin yaitu mengajarkan alquran dengan cara memperdengarkan, demikian pula demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang dan penugasan.
1.      Konsep Pendidik
Konsep yang ditawarkan oleh Ibnu Sina berkisar tentang guru yang baik. Guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main di hadapan muridnya. Ibnu Sina pada dasarnya tidak berkenan pendidik menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Ibnu Sina menyadari bahwa manusia memiliki naluri yang selalu ingin disayang, tidak suka diperlakukan kasar. 


[1]Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam  (Cet.I; Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2000), h. 59.
[2]Ramayalis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), h. 34.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar