Laman

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Perubahan Nilai-nilai Sosial dan Transformasi Sosial Budaya
Perubahan sosial merupakan proses evolusi, perubahan itu diatur oleh kekuatan yang Maha Hebat yang tidak dapat diubah begitu saja oleh kekuatan manusia. Bila ada usaha untuk mempengaruhi perubahan tersebut boleh jadi akan menghilangkan keseimbangan yang ada dan akan berakibat negatif. Dengan kata lain perubahan sosial itu tidak dapat dielakkan. (B.F. Hoselitz, 1988; 12).

Ciri-ciri yang menonjol terletak pada penampilan yang tampak dan teramati, cara-cara hidup,  pola komunikasi, penciptaan sasaran yang diperlukan, pandangannya menghadapi masa depan dan seterusnya.
Faktor-faktor yang mendorong antara lain alam lingkungan fisik, kondisi psikologi, dorong-dorongan bersama (sosiologis). Yang masih didiskusikan oleh para pakar dalam ilmu-ilmu sosial adalah; apakah luaran pendidikan sepenuhnya dapat memberikan dorongan terhadap perubahan sosial yang lebih baik. Yang pasti luaran pendidikan apapun namanya akan memberikan status sosial tertentu dalam masyarakat. Bila terjadi status sosialnya rendah, maka sesudah itu yang bersangkutan akan menempati posisi tertentu yang lebih tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa dalam kasus tersebut telah terjadi apa yang disebut mobilitas sosial. Paling tidak akan membawa kepada perubahan sosial itu sendiri.
Apabila dikaji lebih dalam tentang peranan pendidikan Islam dalam proses perubahan sosial, maka tampaknya didiskripsikan secara nyata bagian-bagian kehidupan apa saja yang telah diharapkan oleh hasil pendidikan Islam itu, sehingga perubahan itu bergerak ke arah yang manjadi tujuan ideal pendidikan Islam (manusia sempurna).
Refleksi dari arus perubahan sosial berdampak pada perubahan cara pandang seseorang terhadap posisi agama dalam kehidupannya. Kemajuan iptek melahirkan kemudahan sarana dan prasarana yang diperlukan mengantarkan manusia ke dalam suasana yang menggelobal.
Sementara sikap beragama yang diwarisinya belum lagi berubah. Apa yang menjadi pegangana selama ini dalam praktek keagamaannya belum lagi berkembang dengan perbandingan setara dengan hidup yang menggelobal tersebut di atas.
Disini diperlukan re-interpretasi terhadap ajaran Islam yang bukan dasar, sehingga mampu mengantisipasi ke depan dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan manusia (individu maupun kelompok) yang tidak boleh tidak dialaminya. Muncullah masalah ijtihad, pemikiran rasional yang tetap Islam dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari budaya manusia.[1]
Apabila didekati secara teoritis pendidikan Islam mengupayakan suatu perjalanan manusia dari fitrah menuju kemampuannya menjadi khalifah. Fitrah yang dibawanya sejak lahir memerlukan pemeliharaan yang wajar agar tumbuh dan berkembang secara wajar pula. Pengembangan dan penumbuhan secara wajar itu yang diusahakan dalam pendidikan Islam lewat tahapan-tahapan yang nyata. Hasilnya diasumsikan mampu mengantarkan manusia untuk mengenal Tuhannya sehingga ia dapat berkiprah dan selalu eksis dengan pegangan tauhid. hanya kepada Allah SWT. landasan kehidupan inilah yang akan menjadikan manusia meraih gelar khalifah bumi yang baik.
Apapun perubahan yang terjadi, manusia didikan dengan pendidikan Islam pasti mampu menyelesaikan masalah kehidupannya. Sebagai citra yang senantiasa ditampilkannya, ia tidak hanyut  dalam arus perubahan yang terjadi. Tidak perlu ketinggalan informasi, tidak larut dalam pergulatan yang tidak jelas dasarnya.
Kebudayaan sebagai sebuah tata nilai, aturan, norma, hukum pola pikir dan sebagainya, itu adalah sebuah konsep yang dihasilkan melalui proses akumulasi, transformasi dan pergumulan dari berbagai nilai manjadi satu dan membentuk sebuah kebudayaan.


[1] Lihat Suharto, Suparian, Filsafat Ilmu pengetahuan persoalan Eksistensi dan Hakekat Ilmu Pengetahuan, (Makassar: Disusun untuk materi perkuliahan UNHAS 2003). h. 17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar